Jateng Kekurangan Bahan Baku Kayu

317

SEMARANG–Kendati banyak hutan di wilayah Jateng, ironisnya industri mebel mengalami kekurangan bahan baku kayu. Tiap tahunnya, Jateng membutuhkan sebanyak 3–3,5 juta meter kubik kayu, namun hanya mampu menyuplai sekitar 400 ribu meter kubik saja.
“Bahan baku menjadi salah satu permasalahan industri mebel di Jateng. Kerjasama dengan beberapa daerah yang merupakan kantong bahan baku terus diupayakan guna menutup kekurangan ini,” kata Kepala Bidang Industri Agro, Kimia, dan Hasil Hutan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah, Ratna Kawuri, kemarin (20/8).
Menurutnya, kerjasama tersebut diutamakan dengan daerah-daerah kantong bahan baku di luar Jawa. Hal ini guna memaksimalkan hasil, mengingat Jateng sebagai wilayah industri dan pengolah kayu.
“Kami terus berupaya mencari sumber-sumber bahan baku kayu. Di antaranya kami melakukan penjajakan ke Kendari, Papua dan ke depan juga ke Jambi,” ujarnya.
Selain itu, para pelaku bisnis mebel juga mulai melakukan diversifikasi. Yakni, mulai memilah berbagai jenis kayu. Tidak terpaku hanya dengan kayu jati, kini juga sudah mulai dipakai kayu mangga, nangka dan lain-lain untuk industri mebel.
Kendati demikian, lanjutnya, masih ada kendala lain yang dikeluhkan oleh rekan-rekan pengusaha kayu. Salah satunya, mereka merasa kesulitan mengurus sertifikat dalam sistem verifikasi.
“Regulasi ini merupakan bentuk komitmen permerintah bahwa kayu-kayu yang diolah jadi mebel, benar-bear kayu yang bukan dari hutan konservasi. Artinya, itu menjadi komitmen bahwa tidak ada kerusakan hutan karena pengolahan kayu. Memang harus ada integritas dari semua pihak yang terkait, untuk mewujudkan hal ini,” ujarnya. (dna/ida)