Pawai Pembangunan Menuai Protes

355

UNGARAN – Pawai pembangunan peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-69 tingkat Kabupaten Semarang yang dilaksanakan di Kecamatan Ambarawa menuai protes dari masyarakat. Bahkan hingga Rabu (20/8) kemarin, pengaduan tentang pelaksanaan pawai tersebut terus masuk ke sejumlah anggota DPRD Kabupaten Semarang.
Menurut anggota DPRD Kabupaten Semarang, The Hok Hiong, pihaknya mendapatkan pengaduan dari sejumlah masyarakat dan peserta pawai. Sebab, pelaksanaan pawai semrawut hingga menyebabkan molornya waktu pelaksanaan. Sesuai jadwal, start seharusnya pukul 11.00, namun baru dimulai pukul 13.30. Akibatnya, peserta terlalu lama menunggu di lapangan Panglima Besar Jenderal Sudirman Ambarawa.
Selain itu banyaknya peserta menyebabkan antrian terlalu panjang, sehingga terlalu lama di perjalanan. Imbasnya, banyak peserta yang pingsan karena terlalu capek melakukan perjalanan.
“Harusnya panitia menghitung berapa peserta, jarak tempuh dan waktu. Sepertinya ini tidak diperhitungkan, sehingga yang terjadi molornya waktu pelaksanaan. Akhirnya, banyak anak-anak SD yang pingsan dan lalu lintasnya semrawut. Bahkan peserta baru bisa pulang pukul 19.30,” tutur The Hok Hiong, Rabu (20/8) .
The Hok menambahkan, akibat terlalu lama menunggu untuk berjalan, sejumlah kontingen terpaksa pulang. Sebab, hingga pukul 16.00 belum bergerak dari start. Bahkan kontingen dari Kelurahan Kranggan yang menampilkan visualisasi Baru Klinting sepanjang 27 meter sampai kelelahan kehabisan bekal karena terlalu lama menunggu start. The Hok menilai panitia tidak profesional, hingga menyebabkan peserta sengsara.
“Ke depan mestinya direncanakan benar. Jangan dilanggar-langgar waktunya. Menurut informasi masyarakat, pawai molor karena menunggu bupati. Selain itu, karena bupati menyalami satu persatu para penonton. Memanfaatkan kegembiraan rakyat boleh-boleh saja. Tapi jangan membuat rakyat sengsara. Banyak yang telepon, SMS dan datang mengadukan masalah ini. Tentunya ke depan jangan sampai terulang. Kalau perlu didanai pemerintah,” kata The Hok sembari menunjukan SMS aduan masyarakat yang masuk hingga Rabu (20/8) kemarin.
Senada dikatakan anggota DPRD dari Fraksi PAN, Joko Sriyono, semestinya pawai sebesar itu harus direncanakan matang. Jangan sampai dilaksanakan tanpa rencana, sehingga terjadi kesemrawautan dalam pawai. Bahkan sudah ada yang membuat kendaraan hias tetapi tidak jadi berangkat karena tidak bisa masuk ke lokasi akibat semrawutnya lalulintas.
Bupati Semarang Mundjirin mengatakan, pelaksanaan pawai tidak molor karena memang dijadwalkan pukul 13.00. Tapi di luar dugaan banyak peserta baru yang datang mendaftar pada pukul 10.00. Selain itu lamanya perjalanan pawai bahkan hingga selesai malam hari disebabkan karena pesertanya membeludak.
“Pesertanya sangat banyak, satu kontingen pengombyongnya bisa ratusan. Belum lagi ada orang tua yang mengiringi anak-anaknya yang ikut pawai, jadi semakin panjang. Lokasi memang dipilih di Ambarawa untuk pemerataan, mungkin tahun depan di Tengaran,” tuturnya.
Terkait tudingan memanfaatkan pawai untuk kepentingan tertentu, bupati menjelaskan bahwa dirinya tidak berkampanye. Melainkan kebiasaan menyalami masyarakat sudah dilakoni sejak dulu bakan sebelum jadi bupati.

“Kenapa saya begitu supaya masyarakat mau pilih saya lagi (sebagai bupati). Tetapi saya tidak minta, masyarakat malah ngomong Pak besok maju lagi. Saya kira wajar, Jokowi blusukan ke mana-mana, itu wajar. Justru seperti itu menjajagi (seperti apa tanggapan masyaratan pencalonan bupati),” ujarnya. (tyo/aro)