Sekolah Kekurangan Jamban

386

Di Kabupaten
Semarang
UNGARAN – Ratusan Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Semarang masih kekurangan WC/kamar mandi. Sebab, sesuai standar yang ditetapkan oleh pemerintah, jumlah WC/kamar mandi harus sebanding dengan jumlah siswa di sekolah. Saat ini, satu SD dengan jumlah rata-rata 150 siswa di Kabupaten Semarang hanya memiliki 2 WC/kamar mandi. Padahal sesuai standar satu SD harusnya memiliki 4-5 WC/kamar mandi.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang Dewi Pramuningsih melalui Kasi Sarana dan Prasarana (Sarpras) SD, Riyadi, mengatakan, sesuai aturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, standardisasi jumlah WC dan kamar mandi menyesuaikan jumlah siswa. Selain itu, WC/kamar mandi di setiap sekolah juga harus dipisahkan antara perempuan dan laki-laki.
“Setiap 25-30 siswa perempuan satu WC/kamar mandi, sedangkan untuk siswa laki-laki perbandingannya 35-40 siswa laki-laki untuk satu WC/kamar mandi. Paling tidak satu sekolah memiliki 4-5 WC atau kamar mandi, karena jumlah siswanya antara 100-150,” tutur Riyadi, Rabu (20/8) kemarin.
Sementara ini, sebanyak 530 SD di Kabupaten Semarang belum seluruhnya memenuhi standar yang ditentukan untuk jumlah WC/kamar mandi. Sebab, saat ini rata-rata satu SD baru memiliki 2 WC/kamar mandi. “Itupun masih ada yang belum sesuai standar kualitas. Misalnya, soal kebersihan , bahannya, dan ada sekat pemisah antar WC laki-laki dan perempuan,” jelas Riyadi.
Untuk itu, bidang sarana dan prasarana Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang berkomitmen mengusulkan untuk pembangunan WC/Kamar mandi di seluruh SD di Kabupaten Semarang secara bertahap. Setiap tahun, kata dia, diusulkan pembangunan WC/kamar mandi di 106 SD yang ada. Namun disesuaikan sesuai kemampuan keuangan daerah. Pembangunan disesuaikan dengan usulan UPTD (unit pelaksana teknis daerah) dan hasil klarifikasi lapangan. Pembangunan juga diprioritaskan pada SD yang benar-benar membutuhkan.
“Kita rencanakan setiap tahun membangun WC/kamar mandi di 106 SD. Jadi, lima tahun ke depan seluruh SD di sini sudah memenuhi standar baik jumlah maupun kualitasnya. Pada 2014 ini, kita menganggarkan Rp 1,6 miliar untuk membangun WC/kamar mandi di 106 SD. Saat ini pembangunan masih berjalan dan sudah realisasi 30 persen. Selama ini yang menjadi kendala adalah terbatasnya lahan,” paparnya.
Riyadi menjelaskan, jumlah WC/kamar mandi yang sesuai standar juga akan memudahkan pemerintah daerah ketika terjadi bencana alam. Sebab, gedung-gedung pemerintah termasuk gedung sekolah bisa dimanfaatkan untuk tempat pengungsian. Sehingga Riyadi lebih memprioritaskan dan memperbanyak WC/kamar mandi di daerah rawan bencana alam. Seperti di Kecamatan Ungaran Barat, Bandungan, Getasan, Sumowono dan Tengaran.
“Keberadaan gedung sekolah juga harus memenuhi standar tersebut. Sebab, selain berfungsi reguler untuk kegiatan belajar, juga dapat difungsikan ketika digunakan untuk pengungsian saat terjadi bencana. Jadi, ketika jumlah WC/kamar mandi mencukupi, maka tidak akan ada masalah untuk buang air karena itu penting,” papar Riyadi.

Pemerhati Pendidikan Kabupaten Semarang, Zainal Abidin mengatakan, hampir seluruh sekolah di Kabupaten Semarang kekurangan WC/kamar mandi. Jumlah WC/kamar mandinya tidak sebanding dengan jumlah siswa yang ada. “Saya melihat langsung sekolah di Getasan jumlah siswanya 250 anak, tapi WC/kamar mandinya hanya 2. Bayangkan kalau istirahat lalu mereka berebut untuk ke belakang. Kondisi itu hampir merata, dan tidak hanya SD saja, tetapi juga SMP dan lainnya. Paling tidak untuk SD di sini butuh sekitar 1000 WC,” kata Zainal yang juga mantan Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Semarang.
Menurut Zainal, semestinya membangun sekolah itu juga sama seperti membangun mal, yakni memikirkan tempat parkir, WC/kamar mandi, dan fasilitas pendukung lainnya. Selama ini gedungnya dibangun, tetapi WC/kamar mandinya terbatas.
“Saya dengar tahun ini sudah dianggarkan. Tetapi, memang pemerintah anggarannya terbatas. Jadi, memang dibutuhkan peran masyarakat untuk masalah sanitasi karena ini sangat penting,” kata Zainal. (tyo/aro)