Mustofa Akui Jerat dan Seret Korban

378


TEMBALANG – Korban pembunuhan sebelum meninggal, Ina Winarni, 21, mahasiswi semester VII Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip, mengalami penganiayaan berat. Tersangka pembunuhan, Mustofa, 26, kuli bangunan, asal Gang 9 Desa Ngemplak, Undaan, Kudus, membekap korban di kamar lantai dua, lalu menyeretnya ke lantai satu dalam kondisi leher terjerat tambang.
”Leher korban saya jerat pakai tambang, lalu saya seret dari lantai dua ke lantai satu. Kondisinya masih hidup,” ujar Mustofa saat dikeler tim Resmob Polrestabes Semarang, di lokasi kejadian di Jalan Estetika Raya Blok G Nomor 26, Perumahan Graha Estetika, Pedalangan, Banyumanik, Semarang, Minggu siang (14/9) kemarin.
Mustofa mengaku melakukan aksi sadis itu sendirian. Sekitar pukul 11.00, dia masuk rumah korban melalui atap rumah G-27 yang terletak di samping kiri (posisinya berimpitan, Red). Lantas, turun ke lantai 2 rumah korban G-26, balkon tempat cucian.
”Saat itu, korban berada di dalam kamar sedang sibuk menggunakan handphone. Saya langsung masuk, tapi Ina menjerit. Lalu saya membekapnya menggunakan kain,” ujarnya.
Korban sempat meronta. Namun Mustofa mengikat tangan dan menjerat leher korban. Dalam kondisi masih hidup, tali tambang yang sudah menjerat leher korban itu ditarik oleh Mustofa. Tubuh Ina yang meronta tak berdaya itu diseret dari lantai dua menuju lantai satu. ”Saat melewati tangga, tubuh korban terjatuh, sehingga mengeluarkan darah di lehernya,” beber Mustofa.
Setelah itu, tubuh korban dimasukkan kamar utama yang biasa dihuni Umar, pemilik rumah atau paman korban. Mustofa kemudian mengambil handphone merek Samsung milik korban dan motor Honda Vario warna hitam H 3228 QQ. Lantas dia kabur membawa barang curian tersebut melalui garasi.
Mustofa mengelak disebut telah melakukan pembunuhan berencana. Ia mengaku niatnya saat itu hendak merampok. ”Saya hendak merampok, tidak bermaksud membunuh. Saya juga tidak memukul sama sekali,” katanya.
Niat merampok itu bermula saat Mustofa sekitar pukul 10.00, melihat Ina keluar rumah menuju Pos Satpam. ”Saat itu, saya langsung punya niat merampok. Saya tidak tahu, saat saya masuk pukul 11.00, ternyata korban sudah berada di kamarnya,” imbuhnya.
Sedangkan Kasatreskrim Polrestabes Semarang AKBP Wika Hardianto menegaskan, pihaknya menjerat tersangka Mustofa dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. ”Ancaman hukumannya pidana mati atau pidana penjara seumur hidup,” tandasnya.
Dikatakan Wika, sejumlah barang bukti yang didapatkan memperkuat unsur, bila tersangka telah merencanakan aksi pembunuhan tersebut.
”Tersangka telah membawa tali tambang yang digunakan untuk menjerat leher korban. Dia tidak langsung membawa barang milik korban, tapi melakukan eksekusi pembunuhan terlebih dahulu,” terangnya.
Kendati demikian, Wika mengaku masih terus melakukan pendalaman pengembangan. Hingga saat ini, hasil penyidikan menyebutkan bahwa tersangka melakukan aksi tersebut sendirian. Tapi tersangka dibantu temannya saat membawa kabur motor.
”Tersangka sendiri kabur melalui pintu gerbang utama di perumahan tersebut mengendarai Vario. Sedangkan temannya mengendarai Yamaha Jupiter, milik tersangka. Hingga saat ini, kami masih mencari teman yang membantu tersangka,” bebernya.
Wika menjelaskan, selama penyidikan, tersangka Mustofa terus mengelak dan berbelit-belit saat dimintai keterangan. ”Dia baru tidak berkutik saat kami menunjukkan rekaman CCTV,” kata Wika.
Ternyata CCTV tersebut didapatkan oleh tim kepolisian dari tetangga korban, Zulkarnaen di Jalan Estetika Raya I-5 atau terletak persis di depan rumah korban. Sedangkan CCTV milik perumahaan diduga tidak aktif. ”Untung saja masih ada CCTV milik warga,” katanya.
Wika sendiri menyayangkan sistem pengamanan yang notabene sebagai perumahan elite, namun identitas sejumlah pekerja bangunan tersebut tidak terdata. ”Termasuk Mustofa, tidak terdata di daftar sekuriti perumahan. Manifest-nya tidak dicatat, ganti-ganti karyawan juga tidak dicatat. Ini yang perlu dievaluasi biar tidak terulang lagi,” ungkap Wika.
Wika mengimbau, pihak keamanan perumahan setempat untuk meningkatkan sistem keamanan. Terlebih, perumahan tersebut rata-rata dihuni para pejabat penting. Bahkan perumahan yang berdiri di lahan seluas 50 hektare ini dijaga dengan melibatkan tenaga sekuriti sebanyak 45 orang.
Sebelumnya, Koordinator Keamanan Perumahan Perumahan Graha Estetika, Suroso E.Sos menjelaskan bahwa sistem penjagaan di perumahan tersebut sudah sangat rapi selama 24 jam. ”Kami juga berbenah untuk meningkatkan sistem keamanan, sehingga tercipta kondisi aman dan nyaman,” imbuhnya.
Selama ini, menurutnya, sistem pengelola pengamanan perumahan Graha Estetika telah dijalankan secara proporsional. ”Akan tetapi, namanya pelaku kejahatan, tetap berusaha memanfaatkan kelengahan,” ujar Suroso.
Pihaknya berharap agar warga yang tinggal di perumahan tersebut selalu menjaga kewaspadaan. Bahkan personel yang dikerahkan dalam penjagaan perumahan elite tersebut berjumlah 45 petugas dibagi tiga shift dengan jadwal rapi.
”Terbagi tahap satu; berjumlah 28 orang, tahap dua; 17 orang. Masing-masing tahap terbagi tiga shift. Setiap shift sedikitnya 9 sekuriti melakukan penjagaan. Namun penjagaan yang sudah berjalan rapi ini masih perlu ditingkatkan,” katanya.
Sementara itu, Romi, 30, tetangga korban mengatakan saat ini rumah korban tidak ditempati karena telah diberi garis polisi. Dikatakannya, pemilik rumah, Umar, yang merupakan pengusaha mebel di Jepara belakangan ini berada di Sumedang.
”Ina menempati rumah ini sering sendirian. Punya pembantu, tapi belakangan jarang di sini. Ina tinggal di rumah itu baru sekitar 3 bulan. Rumah ini kan baru jadi. Sebelumnya Ina tinggal di rumah kerabatnya di blok belakang,” kata Roni.
Ketua RW 8 Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Nur Priyanto, mengatakan bahwa pihaknya mewakili warga sangat mengapresiasi upaya tim kepolisian. ”Kami berterima kasih kepada pihak kepolisian yang sangat cepat mengungkap kasus ini,” ujarnya. (mg5/ida/ce1)