Relokasi Replika Kapal Cheng Ho

340

BALAI KOTA – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana selaku pihak yang menangani kawasan Banjir Kanal Barat (BKB) masih akan mengkaji wacana relokasi replika kapal Cheng Ho di bantaran induk drainase di Kota Semarang itu.

”Kalau mau ditempatkan di bantaran BKB itu sebelah mana?, kami lihat dulu posisi penempatannya dan ukuran kapal tersebut. Kami tidak bisa serta-merta memperbolehkan,” kata Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) BBWS Pemali Juwana, Subarda, menanggapi rekomendasi pemkot kepada pihak yayasan Tay Kak Sie.

Menurut Subarda, butuh kajian terkait dampak yang akan ditimbulkan ketika replika kapal tersebut ditempatkan di bantaran BKB. Diakui, beberapa titik bantaran BKB memang memiliki dataran yang cukup lebar. Seperti di kawasan Sampangan. Di kawasan tersebut terdapat lapangan sepak bola yang seringkali digunakan masyarakat. Namun hal tersebut tetap saja butuh kajian. Sebab, ketika musim hujan atau debit air sungai meningkat, area tersebut pun terendam banjir.

”Kawasan itu memang merupakan flat plane (bidang datar) tapi ketika banjir, kawasan tersebut terendam. Jadi kami namakan daratan banjir. Fungsinya memang untuk mengendalikan banjir ketika debit air sungai meningkat,” terangnya kepada Radar Semarang.

Dia juga mengakui berdasarkan aturan, bantaran sungai harus bebas bangunan, kecuali bangunan untuk keperluan pengelolaan air. Namun pihaknya belum bisa mengambil sikap terkait rencana relokasi replika kapal tersebut.

”Saya belum bisa mengatakan boleh atau tidak. Karena kami akan lihat ukuran kapal dan titik yang ditunjuk untuk penempatan itu di mana. Selama itu tidak mengganggu penampang basah sungai mungkin bisa direkomendasikan. Tapi kalau mengganggu ya tidak bisa,” terang Subarda.
”Karena beberapa utilitas juga ada yang di bantaran, seperti tiang reklame, pipa PDAM, dan lapangan sepak bola,” imbuhnya.

Sementara itu, menurut pengamat perkotaaan M. Farchan, rencana relokasi tersebut sangat bertentangan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai. Dalam pasal 17 peraturan tersebut, sempadan sungai harus bebas dari bangunan dalam skala masif. Jika terdapat bangunan dalam sepadan sungai maka bangunan tersebut dinyatakan dalam status quo dan secara bertahap harus ditertibkan untuk mengembalikan fungsi sempadan sungai. ”Memang ada pengecualian bagi bangunan meliputi bangunan prasarana sumber daya air, fasilitas jembatan dan dermaga, jalur pipa gas dan air minum, rentangan kabel listrik dan telekomunikasi. Replika kapal Cheng Ho tidak masuk dalam pengecualian itu,” tegasnya.

Sebenarnya, kata dia, ada solusi ideal untuk rencana relokasi kapal Cheng Ho. Yaitu dipindahkan ke kawasan wisata Pantai Marina. Selain karena sesuai dan bisa mendukung konsep wisata Kota Semarang, ada kesesuaian dan kaitan antara kapal, pantai, dan lokasi wisata. ”Tinggal melihat ketersediaan lahan serta kesiapan Pantai Marina untuk dijadikan tempat relokasi. Menurut saya Marina merupakan alternatif tempat yang ideal bagi replika kapal Cheng Ho,” paparnya.

Sebelumnya, perwakilan yayasan mengaku pasrah jika bangunan replika kapal Cheng Ho di depan kelenteng akan dibongkar oleh Pemkot Semarang. ”Kalau sudah menjadi keputusan, kami pasrah. Intinya kami menghormati apa yang sudah menjadi kebijakan pemkot,” ungkap Sekretaris Yayasan Tay Kak Sie Andrianus. Meski demikian, yayasan tetap berharap ada kebijakan agar kapal yang dibangun tahun 2005 dan menghabiskan Rp 1,3 miliar dari dana swadaya umat tersebut tetap dipertahankan. (zal/ton/ce1)