Menulis sejak Remaja, Kini Berdakwah Lawan Konsumerisme

533
Rahmat Petuguran
Rahmat Petuguran
Rahmat Petuguran

Rahmat Petuguran adalah sosok yang tidak pernah puas dengan ilmu pengetahuan. Meski telah menjadi dosen di usia muda, hal itu belumlah cukup. Di tengah kesibukannya mengajar, ia menekuni hobi menulisnya. Baru-baru ini ia menerbitkan buku keduanya, Melawan Kuasa Perut.  Bagaimana proses kreatifnya?

AHMAD FAISHOL

MENEKUNI dunia kepenulisan bukan hal baru bagi Rahmat Petuguran. Pria kelahiran Banjarnegara 6 April 1988 yang lalu ini mengaku sudah mengenal tulis-menulis sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Tepatnya sejak bergabung dengan klub jurnalistik di sekolah.

”Perkenalan saya ya lewat klub jurnalistik di sekolah. Awalnya mulai menulis di media lokal. Tapi lama-kelamaan saya merasa kegiatan itu makin tidak menantang. Akhirnya saya mulai menulis di media umum,” ungkapnya bercerita.

Kegemaran menulis tersebut berlanjut hingga dirinya masuk salah satu universitas terbesar di Semarang. Tepatnya Universitas Negeri Semarang (Unnes). Bak tumbu ketemu tutup, ia bertemu komunitas penulis di Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BP2M) Unnes. Di sanalah ia mempelajari teknik kepenulisan secara serius.

”Tidak hanya mengikuti pelatihan jurnalistik di kampus, saya juga mencari guru di berbagai forum. Caranya, dengan mendatangi pelatihan yang diselenggarakan klub kepenulisan lain,” bebernya.

Dari proses itulah keberaniannya menulis di media regional muncul. Ia kemudian menemukan banyak mentor, baik formal maupun nonformal yang melapangkan jalannya menjadi penulis. Perkenalan dengan pengusaha penerbitan juga membantunya merilis buku pertama dalam usia 20 tahun.

”Tepatnya pada Februari 2009, waktu itu saya masih semester empat. Saya menerbitkan novel Bonang yang telah saya tulis jauh sebelum kuliah,” kenangnya.

Tak puas dengan dunia penulisan sastra, Rahmat kemudian merambah dunia ke dunia penulisan esai. Menurutnya, esai menjadi format tulisan yang paling cocok baginya ketika itu. Sebab, selain durasinya relatif pendek, esai memungkinkan ia menumpahkan kegelisahan tetang kondisi sosial.

”Melalui esai, saya merasa leluasa menumpahkan kebebalan akibat praktik-praktik sosial yang tidak berkeadilan,” ungkapnya.

Sejak itu, perhatian Rahmat sudah mulai condong pada isu-isu kebudayaan. Terbukti ia selalu mengamati hal-hal sederhana di sekitar untuk direnungkan. Dengan cara itu, ia berupaya mengungkap makna lain di balik makna yang tampak.

”Seperti yang saya tuangkan dalam buku Melawan Kuasa Perut. Buku ini berisi uraian reflektif tentang kondisi yang tidak seimbang itu. Kian hari, manusia, kian menuruti kehendak perutnya. Ia mengabaikan nilai-nilai yang hidup dalam ingatan batinnya, supaya bisa memuaskan perut. Perut adalah semacam idiom, representasi dari kehendak lahiriah yang tiada habisnya,” ungkapnya menjelaskan dari isi buku tersebut.

Melalui tema-tema yang reflektif, Rahmat ingin menjadikan tulisannya sebagai dakwah melawan konsumerisme. Ia melihat adanya ketidakseimbangan relasi antara masyarakat dengan institusi kapital. Masyarakat cenderung mengamini doktrin konsumtif institusi kapital. Dengan mekanisme sosial tertentu, kesadaran publik direkayasa agar selalu pasrah menjadi konsumen.

”Ada beberapa instrumen sosial untuk membentuk identitas masyarakat sebagai konsumen. Instrumen tersebut meliputi mitos, iklan, bahasa, dan citraan,” imbuhnya.

Ia mencontohkan, munculnya bahasa alay tidak lahir dengan sendirinya. Ia menilai itu sebagai bagian dari rekayasa sosial yang disponsori institusi kapital. Dengan memperkenalkan ragam bahasa itu, mereka ingin membantuk identitas anak muda Indonesia yang labil, kekanak-kanakan, dan mudah terpengaruh. ”Saran akhirnya apa? Remaja kita mudah dijadikan sasaran pasar bagi produk-produk yang mereka tawarkan,” ungkapnya.

Rahmat mengungkapkan, sikap yang ia lakukan ternyata mendapat apresiasi dari guru besar antropologi seni Unnes Prof Dr Tjetjep Rohendi sebagai sikap kebudayaan perlawanan. Dikatakan, sikapnya sebagai aktor kebudayaan memosisikan dirinya sebagai wakil kalangan muda miskin yang galau terhadap berbagai fenomena sosial di sekitarnya.

”Dengan tegas, Rahmat menyampaikan semua itu melalui tulisan yang merefleksikan cara pandangnya. Tulisan menjadi sarana perlawanannya karena ia yakin lebih demokratis dan berdampak lebih besar,” ungkapnya menirukan perkataan gurunya. (*/ida/ce1)