Aplikasikan Kecintaannya pada PSIS di Menu Masakan

357
JURU MASAK : Dwi Purwanto menunjukkan kepiawaiannya memasak di Omah Dhahar Gondrong Bozz di kawasan Pujasera “Turki” alias Tusam belok kiri di Banyumanik Semarang. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
JURU MASAK : Dwi Purwanto menunjukkan kepiawaiannya memasak di Omah Dhahar Gondrong Bozz di kawasan Pujasera “Turki” alias Tusam belok kiri di Banyumanik Semarang. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
JURU MASAK : Dwi Purwanto menunjukkan kepiawaiannya memasak di Omah Dhahar Gondrong Bozz di kawasan Pujasera “Turki” alias Tusam belok kiri di Banyumanik Semarang. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)

Sebagai Ketua Koordinator Wilayah (Korwil) Panser Biru wilayah Sumowono, Bandungan dan Banyubiru, Dwi Purwanto, ini memiliki kesibukan yang bertolak belakang dengan kecintaannya pada sepak bola. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

DWI Purwanto, pria setengah abad yang intim disapa Pak Min ini, tak segan menunjukkan kecintaannya kepada tim Mahesa Jenar ketika bertanding tandang maupun kandang. Bagi Pak Min, PSIS bukan hanya sebuah tim sepak bola, melainkan bagian dari hidupnya juga.
“Dari kecil saya sudah cinta PSIS. Dulu waktu muda, saya sering banget menonton hingga keluar kota. Sekarang pun masih, walaupun jarang-jarang. Ini karena berbagai kesibukan,“ katanya.
Selain sebagai pentolan Panser Biru wilayah Ambarawa dan sekitarnya, keseharian Pak Min adalah seorang juru masak di Omah Dhahar Gondrong Bozz yang ada di kawasan Pujasera “Turki” alias Tusam belok kiri di Banyumanik Semarang. Iya, pekerjaannya bertolak belakang dengan dunia bola.
Kepada Radar Semarang, Pak Min mengaku sudah menyukai dunia kuliner semenjak masih muda juga. Walaupun kini terbilang tidak muda lagi, ia masih lincah memainkan jemarinya membuat masakan yang dipesan konsumen.
“Saya sudah mulai masak memasak sejak tahun 1969. Dulu saya sempat kerja di salah satu Rumah Makan (RM) China yang ada di Semarang. Kemudian saya keluar dan akhirnya terdampar disini,“ kenangnya.
Pak Min terbilang piawai meramu masakan China. Namun di rumah makannya ini, Pak Min melakukan inovasi memadukan bumbu masakan China dengan rasa orang Jawa, agar bisa diterima lidah Jawa. Terutama orang Semarang. Di antaranya ada Fu Yung Hay nDusun, Cap Jay Kota, Bakmi Kampung, Bakmi Jowo, dan juga Bakmi Spesial Jangan Tanya serta beberapa menu lainnya.
“Rahasia semua masakan, yang paling utama adalah tidak mengurangi bumbu. Sedangkan salah satu rahasia yang saya dapatkan dari resep masakan China, setiap masakan harus memakai bawang,” paparnya.
Dia juga menciptakan nama menu yang unik. Yakni Nasi Goreng Jangan Tanya. Ini menjadi salah satu menu andalannya. Dengan menu ini, para pengujung yang baru pertama kali datang, pasti penasaran dengan apa yang ia sajikan. Bahkan selalu menggoda pelanggan yang datang.
”Nama ini sengaja kami berikan sebagai wujud kecintaan saya terhadap PSIS. Pasti ada yang tanya, kenapa PSIS? Nah itu, jawaban dari saya, Jangan Tanya. Itu saya aplikasikan pada menu yang saya buat,“ candanya.
Menurut Pak Min, sebenarnya Nasi Goreng Jangan Tanya tidak jauh berbeda dengan nasi goreng lainnya. Yang membuatnya special, di dalam nasi goreng tersebut ditambahkan beberapa campuran lain, seperti telur, daging ayam, udang dan bakso kakap. Serta satu campuran lainnya yang tidak ada di tempat lain adalah Keeinan.
“Karena saya suka masak, saya pasti bereksperimen. Contohnya adalah Keeinan, itu adalah campuran nasi goreng yang saya ciptakan. Keeinan, dibuat dari tepung, telor, udang, dan lemak ayam,“ tandasnya.
Apakah tidak ada duka dengan kedua profesinya yang ia jalani. Sebagai supporter PSIS, ia tetap enjoy dan mendukung timnya bermain. “Tidak ada dukanya, baik sebagai pendukung PSIS maupun sebagai koki. Paling-paling dukanya kalau tim yang saya cintai ini kalah. Ya walaupun minim prestasi, namanya cinta, tetap cinta,” tegasnya. (*/ida)