Ganjar ”Sepet” Lihat Kondisi Kompleks Jatidiri

305
PEDULI OLAHRAGA: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat secara simbolis meletakkan batu pertama pembangunan dojang baru di kompleks GOR Jatidiri, kemarin. (BASKORO S/RADAR SEMARANG)
PEDULI OLAHRAGA: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat secara simbolis meletakkan batu pertama pembangunan dojang baru di kompleks GOR Jatidiri, kemarin. (BASKORO S/RADAR SEMARANG)
PEDULI OLAHRAGA: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat secara simbolis meletakkan batu pertama pembangunan dojang baru di kompleks GOR Jatidiri, kemarin. (BASKORO S/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Di tahun kedua kepemimpinannya, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyatakan siap menaruh perhatiannya secara lebih optimal terhadap prestasi olahraga Jateng. Langkah yang bakal dilakukannya di antaranya adalah membangun atau menyempurnakan sarana dan prasarana olahraga di Jateng, di antaranya menjadikan Jatidiri sebagai sports centre.
Ganjar saat acara peletakan batu pertama pembangunan dojang (tempat berlatih taekwondo) baru di kompleks GOR Jatidiri kemarin mengatakan fasilitas olahraga di kompleks GOR Jatidiri sudah sangat tidak layak. ’’Kalau masuk Jatidiri saya kok merasa ‘sepet’. Lihat saja kondisinya, ini memalukan untuk sekelas ibukota provinsi,” ujarnya.
Karena itu pihak Pemprov Jateng siap mengalokasikan anggaran yang pantas untuk pembangunan kompleks olahraga tersebut. Ganjar memberikan apresiasi pada tokoh atau pihak swasta yang mau membantu pembangunan, mengingat keterbatasan APBD Jateng yang hanya Rp 16 triliun, dengan penduduk mencapai 32 juta jiwa. Menurut Ganjar, angka tersebut tak sebanding dengan DKI Jakarta misalnya, yang penduduknya jauh lebih sedikit namun APBD-nya mencapai Rp 70 triliun.
Karena itulah dia berharap peran swasta untuk mendukung prestasi olahraga di Jateng. “Seperti membangun Jatidiri. Siapa bilang swasta tak bisa masuk Jatidiri? Saya dengar dulu Extra Joss pernah akan membantu membangun, silakan saja. Nanti stadionnya bisa dinamakan Jateng Joss, Jatidiri Joss atau Ekstra Jatidiri, silakan saja,” ungkapnya.
Di sisi lain, pembangunan atau renovasi Jatidiri memang sudah tidak bisa dielakkan. “Saya akan kumpulkan pihak terkait, KONI, Dinpora, pengusaha. Kita akan bikin list, apa yang harus kita kerjakan,’’ kata gubernur.
Ganjar juga meminta Jateng tak mengeluh atau merengek ketika sejumlah atletnya kabur ke provinsi lain untuk kepentingan PON XIX 2016 mendatang. Sebaliknya, provinsi menyiapkan kurva kedua yaitu mendirikan pabrik atlet dengan cara menyatukan berbagai lini. ”Kalau atlet itu pindah diklaim provinsi lain, kita tidak perlu mengeluh atau merengek selama itu masih di Indonesia. Kita cetak atlet lagi,” kata gubernur.
Hadir dalam acara peletakan batu pertama itu, Plt Sekda Jateng Sri Puryono, Kadinas Pemuda dan Olahraga Jateng Budi Santoso dan Plt Ketua Umum KONI Jateng Hartono. Ganjar mengapresiasi langkah Pengprov TI Jateng yang menggandeng PT Cipta Wijaya Mandiri untuk menggelontorkan dana Rp 400 juta bagi pembangunan dojang tersebut.
Dia ingin, langkah itu bisa ditiru oleh cabang-cabang lain. Dia berencana mengumpulkan pengusaha untuk membantu perkembangan olahraga di Jateng. Ketua Umum Pengprov TI Jateng, Chandrawijaya mengatakan, dengan adanya gedung tersebut, akan mendorong prestasi atlet sehingga mengembalikan Jateng sebagai barometer atlet taekwondo nasional. ”Sekarang ini dari empat atlet taekwondo Indonesia yang diterjunkan pada Asian Games 2014 di Korea Selatan, dua di antaranya berasal dari Jawa Tengah, yaitu Stevanus Ong dan Agniny Haque. Kita doakan mereka yang akan main 1 dan 3 Oktiber, bisa bersaing,” katanya. (bas/smu)