Pengunjung Bisa Belajar Membatik

483

PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU BATIK MAGELANGAN : Dua pengrajin batik Kabupaten Magelang mengikuti Batik Fair 2014 di Artos Mall, kemarin. Kegiatan itu dalam rangka menyambut Hari Batik pada 2 Oktober mendatang.
PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU
BATIK MAGELANGAN : Dua pengrajin batik Kabupaten Magelang mengikuti Batik Fair 2014 di Artos Mall, kemarin. Kegiatan itu dalam rangka menyambut Hari Batik pada 2 Oktober mendatang.

MAGELANG–Menyambut Hari Batik pada 2 Oktober mendatang, Artos Mall menghelat Batik Fair 2014 sejak Rabu (24/9) kemarin hingga Selasa (30/9) mendatang, di atrium mall.
Kali ini, pesertanya pengrajin dan pebisnis batik dari Kota Magelang dan sekitarnya. Mereka menawarkan kekhasan motif batik masing-masing.
Marketing Communication Artos Mall, Aditya Wicaksana mengatakan, pengunjung bisa mengetahui sejarah batik dan lebih mengenal ciri khas batik dari berbagai daerah. “Pengunjung juga berkesempatan untuk mencoba secara langsung bagaimana cara membatik.” Rencananya, pada Sabtu besok, akan digelar Batik Fashion Runway dari Crisantium by Tatok Prihasmanto.
Peserta Batik Fair dari paguyuban pengrajin batik Kabupaten Magelang, Sri Kartini, 48, warga Bandongan, mengaku dapat keuntungan banyak bisa mengikuti kegiatan tersebut. Selain dari sisi finansial, ajang itu bisa mengangkat batik-batik lokal, sekaligus memfasilitasi para pengrajin untuk memasarkan produknya.
“Di Kabupaten Magelang, ada sekitar 23 pengrajin batik. Mereka yang ditunjuk ikut Batik Fair ada 8.” Sri Kartini menuturkan, batik khas Magelang masih bermotif hasil pertanian.
Menurut Sri Kartini, 23 pengrajin memiliki motif sendiri-sendiri. Bandongan, misalnya, motif batiknya kembang duren, bunga jambu, dan ketela. Sedangkan motif batik Losari adalah kopi pecah. Sementara Gunungpring, yang terkenal dengan wisata religi, motifnya cabai, daun lumbu, dan padi.
“Kami juga ada satu batik yang identik dengan Magelangan, kami beri nama motif Mampang. Artinya, Magelang Mandiri Pangan. Harapan kami, Magelang bisa jadi lumbung pangan. Motifnya sebuah tempat yang dikelilingi gunung-gunung, kemudian stupa karena terkenal memiliki banyak candi. Juga ada gambar padi dan ketela yang menunjukkan bahwa Magelang kebanyakan masyarakatnya adalah petani,” beber Sri.
Sri Banun, 42, warga Bligo, Kecamatan Ngluwar, pengrajin batik lainnya menuturkan, warga lokal masih suka dengan batik cap warna sintetis. Harganya jauh lebih murah, sekitar Rp 120-150 ribu. Sedangkan turis manca, lebih suka memborong batik tulis dengan pewarnaan alami. Harganya sekitar Rp 250-500 ribu. Makin lama proses pengerjaan, maka semakin mahal.”
Lain dengan Kabupaten Magelang, batik Kota Magelang memiliki motif yang khas. Yakni nama-nama kampung dan bangunan bersejarah. Sebut saja motif kebonpolo dan motif wattertorn yang paling banyak peminatnya.
“Untuk kalangan menengah ke bawah, biasanya beli batik konvensional. Sedangkan menengah ke atas, lebih suka ke arah batik fashion. Di mana motif atau batikan sudah ditentukan di bagian-bagian tertentu yang focus interest,” jelas owner galeri Batik Soemirah, Kelik Subarjo.
Pria 42 tahun itu mengaku kebanjiran pesanan batik sarimbit yang jenisnya tulis. “Memang harganya lebih mahal, tapi pasti punya kepuasan sendiri. Saya mengerjakan desain yang sudah dibawa dari pemesan.”
Tak hanya batik Magelangan saja yang tampil dalam Batik Fair. Batik dari Klaten juga ada. “Batik yang kami jual harganya di atas Rp 175 ribu dan paling mahal Rp 350 ribu,” ucap Lestari, 30, penjaga stan Etnik Batik Klaten. (put/isk)