Batang Expo Sepi dan Kumuh

525
SEPI DAN KUMUH : Event Batang Expo yang digelar di Dracik terlihat sepi dan kumuh, kemarin. Sampah juga banyak bertebaran di lokasi acara. (Taufik hidayat/pekalongan pos)
SEPI DAN KUMUH : Event Batang Expo yang digelar di Dracik terlihat sepi dan kumuh, kemarin. Sampah juga banyak bertebaran di lokasi acara. (Taufik hidayat/pekalongan pos)
SEPI DAN KUMUH : Event Batang Expo yang digelar di Dracik terlihat sepi dan kumuh, kemarin. Sampah juga banyak bertebaran di lokasi acara. (Taufik hidayat/pekalongan pos)

BATANG – Batang Expo yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang, sejak dua hari kemarin terlihat sepi dari pengunjung. Bahkan beberapa stan terlihat kumuh dan tak layak disebut sebagai pagelaran Batang Expo, karena hanya terkesan menghabiskan uang APBD akhir tahun.
Tak heran jika kebijakan Pemkab Batang dalam menggelar even Batang Expo dan sejenisnya kembali menuai sorotan dari kalangan DPRD. Pemkab Batang dinilai terjebak untuk mengejar prestasi yang bersifat semu. Tanpa pernah memperhatikan kebutuhan masyarakat Kabupaten Batang yang mendasar.
“Tidak hanya Batang Expo, tetapi juga even sejenisnya, seperti festival sampai perayaan HUT yang menghadirkan empat raja. Menjadi persoalan, ketika perhelatan – perhelatan tersebut justru hanya membebani anggaran dengan tingkat kemanfaatan bagi masyarakat yang minim,” kata anggota Fraksi Nasdem Nurani, H Muafi, Kamis (25/9) siang.
Anggota Fraksi Nasdem Nurani, H Muafi menilai ritual-ritual seremonial semacam itu perlu dikonfrontasikan dengan semangat ekonomi bangkit sebagaimana divisikan Bupati Yoyok Rio Sudibyo. Menurutnya, jangan sampai even – even yang digelar Pemkab hanya menguras waktu dan biaya. “Sangat disayangkan kalau even – even semacam itu menjadi ritual kosong yang tanpa makna karena tak bersentuhan langsung dengan zona kebutuhan dasar masyarakat. Saya khawatir, Pemkab justru terjebak untuk mengejar prestasi permukaan, sensasi yang tak berdampak, baik bagi masyarakat maupun kinerja birokrasi,” tandas H Muafi.
Muafi juga menyoal pemindahan lokasi Batang Expo dari Alun – alun ke Dracik. Selain mengurangi daya tarik, dan aspek sosio – historis. Tingkat kesemarakan pengujung juga kurang diperhatikan.
“Kalau ternyata sepi, pedagang yang rugi. Maka jangan heran, kalau antusiasme mereka untuk berpartisipasi menjadi menipis. Kalau tak berdampak bagi sektor riil, untuk apa Batang Expo digelar,” tegasnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Fraksi Demokrat, Teguh Lumaksono. Menurutnya Pemkab Batang menggelar even – even semacam Batang Expo, tidak berdampak pada kepentingan masyarakat luas, hanya menghabiskan anggaran dan waktu. Padahal, sebelumnya kalangan DPRD juga telah mempertanyakan efektivitas program seperti festival anggaran dan perayaan HUT yang menghadirkan empat raja.
“Semestinya, saran dan kritikan DPRD itu menjadi bahan evaluasi, dalam mengawal kebijakan dan program berikutnya. Kami menilai, even – even semacam Batang Expo ini lebih bermakna sensasi ketimbang prestasi riil,” kata Teguh.
Teguh juga menegaskan, Pem­kab sebaiknya mengalihkannya ke kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Menurutnya, Bagian Perekonomian Setda Batang se­laku penanggung jawab Ba­tang Expo harus lebih kreatif, inovatif, dan partisipatif “Lain halnya kalau even Batang Expo itu, didesain secara lebih serius dengan melibatkan pihak terkait, seperti pedagang dan pengusaha kecil. Jadi, anggaran yang dikeluarkan menjadi tepat manfaat, tidak seperti saat ini” tegas Teguh.
Sementara itu, Kabag Pereko­nomian Setda Kabupaten Batang, Subiyanto, saat dikonfirmasi tak bersedia menanggapi kritik dan saran kalangan DPRD tersebut. “Saya no comment sajalah. Biar masyarakat yang menilai sendiri,” kata Subiyanto. (thd/ric)