Dukung Pendirian Pabrik Semen

347
DUKUNG PABRIK SEMEN: Sejumlah warga Rembang menyuarakan aspirasi mendukung pendirian pabrik semen di wilayahnya. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)

 DUKUNG PABRIK SEMEN: Sejumlah warga Rembang menyuarakan aspirasi mendukung pendirian pabrik semen di wilayahnya. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)

DUKUNG PABRIK SEMEN: Sejumlah warga Rembang menyuarakan aspirasi mendukung pendirian pabrik semen di wilayahnya. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)

 
MANYARAN – Dukungan masyarakat terhadap pembangunan pabrik PT Semen Indonesia (SMI) di Rembang terus mengalir. Hal itu dibuktikan dengan kehadiran 350 orang warga Rembang yang berasal dari desa-desa di ring satu lokasi tapak pabrik semen SMI berunjuk rasa di kantor Gubernur Jateng di Semarang, Kamis (25/9) kemarin.
Ratusan warga yang mengatasnamakan Kelompok Warga Lereng Gunung Buthak, itu menumpang enam buah bus besar dari Rembang menuju kantor Gubernur Jateng di Jalan Pahlawan. Mereka mendesak Gubernur Jateng Ganjar Pranowo tidak ragu untuk mendukung segera dibangunnya pabrik semen di Rembang.
Mereka membawa puluhan poster, antara lain ”Pabrik Semen Ojo Diganggu”, ”Pokoke Pabrik Semen Kudu Ono”, ”Kami Butuh Investor untuk Lapangan Pekerjaan”, ”Wes Ora Pingin Melarat Rembang Ono Pabrik Semen”, dan lain-lain.
Dari kantor gubernur, warga melanjutkan aksinya ke Kantor Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) di Jalan Abdurahman Saleh yang berjarak 7 km dari kantor gubernur. Dalam aksinya mereka meminta majelis hakim PTUN untuk menolak gugatan yang diajukan oleh masyarakat yang kontra tentang pendirian pabrik semen di wilayahnya.
Suharti, salah satu warga asal Tegaldowo, Gunem, Rembang, menjelaskan, jika pabrik semen benar-benar didirikan di Kabupaten Rembang, lambat laun kemiskinan akan menghilang dan kesejahteraan akan meningkat. Sebab akan ada banyak peluang untuk bekerja. Selain itu, masyarakat akan banyak terserap menjadi tenaga kerja di sana.
”Sebagai penentu kebijakan, kami mohon dari pihak pemerintah untuk tetap memberikan izin pendirian (pabrik) di wilayah kami,” pinta perempuan yang sehari-hari bekerja di TK Pertiwi Tegaldowo ini.
Sarki, warga lainnya mengungkapkan bahwa bersama dengan sekitar 300 warga lainnya mereka menuntut pihak pemerintah untuk menanggapi aspirasinya. ”Kami rela melakukan perjalanan jauh dari Rembang ke Semarang dengan harapan dapat memajukan daerah. Kami datang dengan damai, maka pulang juga dengan damai,” ujarnya.
Ditambahkan Sarki, kegiatan ini tidak hanya diikuti warga dari satu daerah, akan tetapi dari lima desa dalam dua kecamatan yang merupakan daerah ring I dari lokasi pendirian pabrik. Desa tersebut adalah Desa Tegaldowo, Pesucen, Timbrangan, dan Kajar dari Kecamatan Gunem serta Desa kadiwono dari kecamatan Bulu.
”Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 04.00. Setelah dari kantor Gubernur dan PTUN, kami akan kembali pulang. Kami harap perjuangan kami tidak sia-sia,” imbuhnya.
Selain itu, pihak PT Semen Indonesia juga telah melakukan sosialisasi kepada warga, tokoh masyarakat, ulama dan pemerintah daerah setempat, dan perizinan pembangunan pabrik sudah sesuai prosedur yang berlaku. ”Kalau izinnya saja sudah keluar dan sesuai prosedur yang ditetapkan, mengapa tidak segera dibangun?” tukasnya.
Juru bicara warga Adi Purwoto dalam orasinya menegaskan bahwa pembangunan pabrik dapat memberikan dampak ikutan bagi masyarakat setempat. Warga juga mengharapkan bantuan program bina lingkungan dari PT Semen Indonesia berupa bantuan pendidikan, kesehatan, sarana-prasarana, keagamaan, seni budaya, pelestarian alam, pengentasan kemiskinan dan pinjaman dana untuk usaha kecil. ”Sekaligus meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Rembang,” tandasnya. 
Alasan mendukung pembangunan pabrik semen, yakni karena lahan yang ditambang merupakan lahan batu kapur yang tandus. ”Lagi pula, di lokasi tapak telah ada penambangan tradisional yang beroperasi puluhan tahun,” tegasnya.
Sementara itu, di Rembang sebanyak 50 orang yang menamakan dirinya Kaum Pencari Kerja dan LSM Semut Abang juga menggelar aksi demo di depan Kantor Bupati Rembang. Aksi tersebut menuntut Pemkab Rembang  memperjuangkan nasib kaum pencari kerja untuk dapat bekerja di Pabrik Semen Indonesia tanpa adanya persyaratan yang membebani. Mereka juga menuntut PT Semen Indonesia apabila beroperasi wajib mengutamakan tenaga kerja lokal.
Koordinator Aksi Suparno menjelaskan atas kondisi itu, kaum pencari kerja terus berupaya mendukung iklim investasi yang ada di Kabupaten Rembang, seperti pembangunan Pabrik Semen Indonesia, kendati masih ada pro dan kontra. ”Kami tetap mendukung berdirinya Pabrik Semen Di Kabupaten Rembang,” tandasnya.
Menyikapi adanya aksi tersebut, Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jateng, Ir Teguh Dwi Paryono MT yang dihubungi saat berada di Kanada mengatakan bahwa pembangunan pabrik semen dapat terus berjalan, kendati masih ada sebagian warga yang menolak. ”Insya Allah jalan terus,” tegas Teguh.
Sementara itu Budi Sulistijo, Pakar Geoteknik, Hidrologi dan Lingkungan Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) menjelaskan bahwa lokasi penambangan dan pabrik Semen Indonesia di Rembang, sudah memenuhi seluruh kaidah dan syarat perizinan penambangan yang ditentukan pemerintah. Dalam proses feasibility study yang dilakukan untuk memperoleh izin tersebut, dapat dipastikan bahwa lokasi penambangan dan pabrik Semen Indonesia tidak berada di Kawasan Bentang Alam Karst Sukolilo. Sehingga, tidak akan merusak kawasan yang memang dilindungi berdasarkan aturan pemerintah tersebut.
”Dari penelitian yang telah dilakukan peneliti ITB, tidak ada sumber mata air dan goa di lokasi penambangan dan pabrik Semen Indonesia di Rembang. Selain itu, area penambangan yang dilakukan Semen Indonesia di Rembang, dilakukan di zona kering dan bukan di zona transisi maupun zona jenuh. Sehingga tidak akan mengurangi cadangan air tanah yang kedalamannya jauh di bawah tanah,” tegas Budi. (fai/ida/ce1)