Harus Dikeluarkan dari Sekolah

1312
ilustrasi/juju

ilustrasi/juju
ilustrasi/juju

Fenomena tawuran pelajar di Semarang masih menjadi persoalan serius yang belum ditangani secara tegas oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang. Hal itu bisa dilihat dengan tidak adanya sanksi tegas terhadap pelajar yang terlibat tawuran. Lantaran tidak adanya efek jera, tawuran antar pelajar berkali ulang terjadi.


KETIDAKSERIUSAN penanganan tawuran pelajar juga terlihat minimnya penyelesaian antarpihak sekolah. Bahkan hasil pemeriksaan tim kepolisian mengidentifikasi, biang kerok tawuran pelajar justru melibatkan alumni sekolah masing-masing.
”Hasil pemeriksaan terhadap sejumlah pelajar yang terlibat tawuran, selama ini tidak jarang dipelopori oleh para alumni,” kata Kapolsek Semarang Selatan, Kompol Wahyuni Sri Lestari, saat dimintai komentar Radar Semarang, Kamis (25/9).
Latar belakang masalahnya bisa bermula dari ejek-mengejek hal sepele. Hal itu, kemudian mendapatkan respons oleh adik angkatan atau pelajar di sekolah tersebut. Bahkan konflik perseteruan bentrok fisik tersebut berlarut-larut seperti menjadi musuh bebuyutan. ”Sedangkan pelajar yang merupakan generasi di bawahnya, ikut-ikutan,” kata Wahyuni.
Sedikitnya ada empat sekolah SMK yang belakangan sering terlibat tawuran. Di antaranya SMK 3, SMK 4 (berada di wilayah hukum Polsek Semarang Selatan), SMK 10 (wilayah Polsek Semarang Utara), dan SMK 5 (wilayah Polsek Gayamsari). ”Terakhir, kami mengamankan 16 pelajar yang terlibat bentrok di daerah Taman KB Semarang belum lama ini,” katanya.
Menurut Yuni, pihak kepolisian selama ini telah menjalankan tugas semaksimal mungkin. Namun pihak kepolisian hanya bersifat memberikan pengamanan dan memberikan arahan. ”Kami hanya bisa mengamankan pelajar yang terlibat tawuran. Menginterogasi, meminta membuat surat pernyataan dan memanggil orang tua. Tapi kenyataannya, tawuran tetap saja terulang. Tidak ada efek jera,” keluhnya.
Lebih lanjut, dikatakan Yuni, persoalan tawuran seharusnya ditangani oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang secara tegas, dalam hal dilakukan pemberian sanksi. ”Dinas Pendidikan berhak memanggil seluruh jajaran kepala sekolah terkait pemberian sanksi tegas. Kalau perlu, siswa yang terlibat tawuran harus dikeluarkan dari sekolah. Hal itu akan menimbulkan efek jera. Selama ini kan belum ada aturan itu,” tandasnya.
Pada kejadian terakhir, sebanyak 16 pelajar yang diamankan akibat terlibat tawuran tersebut, juga diserahkan ke Disdik Kota Semarang. ”Kami menyerahkan para siswa tersebut ke Dinas Pendidikan Kota Semarang. Harusnya Disdik memberi sanksi tegas. Kalau dibiarkan ya akhirnya akan kembali terulang,” katanya.
Kini, jajaran Polrestabes Semarang semakin kewalahan melakukan penanganan tawuran pelajar yang semakin liar. Berkali ulang insiden tawuran antar pelajar terjadi tanpa solusi. Terakhir pada Rabu (10/9/2014) pukul 15.45, di Jalan Pahlawan dan daerah Taman KB Semarang. Kedua kelompok yang terlibat tawuran diketahui dari SMK swasta dan gabungan tiga SMK negeri di Semarang terlibat bentrok. Kedua belah kubu terlibat baku hantam secara brutal menggunakan berbagai alat berbahaya seperti sabuk berkepala besi dan besi gear. Begitu pun bentrok antar pelajar antara SMKN 10 dan SMKN 4 berulangkali terjadi. Aksi saling lempar batu membikin miris sejumlah pengendara yang melintas. (mg5/ida/ce1)