Sindir Pemerintah yang Abaikan Petani

463
SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU TEATRIKAL: Dua aktivis Teater Banyu melakukan teatrikal sembari membaca puisi membela hak-hak petani.
SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU TEATRIKAL: Dua aktivis Teater Banyu melakukan teatrikal sembari membaca puisi membela hak-hak petani.
SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU
TEATRIKAL: Dua aktivis Teater Banyu melakukan teatrikal sembari membaca puisi membela hak-hak petani.

WONOSOBO – Momentum Hari Tani yang jatuh pada 24 September, dirayakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Wonosobo. Mereka menggelar pertunjukan teater dan musikalisasi puisi. Acara dihelat pada Rabu (24/9) malam di halaman Kampus Universitas Sains Alquran (Unsiq) Jawa Tengah.
Aksi teatrikal dan musikalisasi puisi, mengambil setting panggung di halaman kampus. Tepatnya, di depan masjid. Pohon beringin cukup tua, digunakan sebagai latar belakang, dilengkapi sejumlah ornamen.
Secara bergantian, aktivis Teater Banyu membacakan puisi bertemakan petani. Mulai kemiskinan petani, lahan pertanian yang terus menyempit, hingga rendahnya perhatian pemerintah kepada petani.
Koordinator aksi, Ahmad Faiyun, mengatakan, pertunjukan sengaja mendeskripsikan kritik-kritik sosial. Utamanya, kebijakan pemerintah terhadap petani selama ini. “Nasib petani sepanjang sejarah Indonesia, selalu dikebiri oleh pemerintah,” katanya.
Faiyun menyebut, masalah pertanian yang dialami oleh para petani, antara lain, pemanenan kebutuhan bahan pangan, kualitas yang kerap menurun akibat hama dan kegagalan panen.
“Selain kerugian yang dialami para petani, kemiskinan makin tampak jelas di kehidupan mereka, karena tak ada penghasilan,” katanya.
Padahal, tutur Faiyun, saat ini harga sembako dan kebutuhan pokok lainnya terus meroket. Hal itu membuat para petani kebingungan dan memutar otak untuk menghidupi dirinya sendiri.
“Melalui cara ini, kami berharap pemerintah mendengar, agar petani dapat terus menanam bahan pangan, supaya kehidupan mereka dapat lebih terjamin dan layak. Juga bangsa dan negara kita lebih berdaulat dalam soal pangan,” katanya. (ali/isk)