Miris Bahasa Indonesia Nomor Dua

426

Bunga (5)

BAGI Bunga Amelia, Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa. Namun Bunga merasa miris, lantaran banyak generasi muda dan orang tua yang lebih mengedepankan bahasa Inggris.
”Kesadaran pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar sangatlah minim. Apalagi kalau sudah masuk bahasa gaul yang merusak ejaan yang benar,” kata dara cantik kelahiran Surabaya, 5 Mei 1993 ini.
Menurut Bunga, pemahaman tentang penggunaan bahasa Indonesia tak kalah penting dengan bahasa asing. Sayangnya, saat ini para orang tua lebih memilih memberikan pendidikan bahasa asing kepada anak-anaknya.
”Banyak orang yang menganggap bahwa bahasa Inggris itu keren dan jadi tren, sehingga lupa dengan identitasnya sendiri,” keluh Bunga yang menyandang Duta Bahasa Provinsi Jateng 2013 ini.
Sebagai Duta Bahasa, Bunga kini memiliki tugas untuk menyosialisasikan bahasa Indonesia kepada para generasi muda. ”Memang bahasa asing itu perlu, tapi tidak harus mengesampingkan bahasa sendiri,” ucap lulusan Fakultas Mipa Jurusan Kimia tahun 2010 ini.
Bunga mengenang, betapa sulitnya mengajarkan bahasa Indonesia yang baik dan benar saat ia menjadi duta bahasa. ”Di pelosok desa banyak yang masih buta huruf. Itu menjadi pekerjaan kami untuk mengentaskannya. Bukan hanya duta bahasa, tapi semua pihak agar bangsa kita tidak dijajah oleh kebodohan,” tuturnya.
Walaupun menjadi Duta Bahasa Indonesia, gadis berwajah oriental ini ternyata memiliki prestasi mentereng di bidang bahasa asing. Bahkan prestasinya itu, membuatnya sampai keliling dunia. ”Memang sempat juara di Tingkat Jateng-DIJ tahun 2011 dan 2012 di bidang bahasa Inggris. Bahkan saya bisa keliling Jepang, Brunei, dan Malaysia berkat bahasa Inggris. Tapi saya tidak mau identitas negara saya hilang. Di sela-sela kunjungan itu, saya pun mengenalkan bahasa Indonesia. Ya walaupun secara diam-diam,” canda Bunga yang sekarang bekerja sebagai Staf Internasional Nation Office di Unnes ini.
Ke depan, gadis lajang ini bercita-cita melanjutkan S2 dan bisa menjadi dosen agar bisa mencerdaskan anak-anak bangsa. ”Ingin melanjutkan S2 di Unnes. Selain itu, saya juga ingin agar bahasa Indonesia jadi bahasa internasional,” pungkas penyuka nasi goreng ini. (den/ida/ce1)