Ketukan Nada Bantu Anak Hiper Berkonsentrasi

539
NYAMAN DAN CERIA: Daniella Setianto di antara deretan alat musik dengan beragam warna dipadu bantal-bantal cantik ruang terapi di kawasan Puri Anjasmoro. (NURUL PRATIDINA/RADAR SEMARANG)
NYAMAN DAN CERIA: Daniella Setianto di antara deretan alat musik dengan beragam warna dipadu bantal-bantal cantik ruang terapi di kawasan Puri Anjasmoro. (NURUL PRATIDINA/RADAR SEMARANG)
NYAMAN DAN CERIA: Daniella Setianto di antara deretan alat musik dengan beragam warna dipadu bantal-bantal cantik ruang terapi di kawasan Puri Anjasmoro. (NURUL PRATIDINA/RADAR SEMARANG)

Tak ingin sekadar lihai bermain piano, Sandy Daniella Setianto melengkapi keahliannya ini dengan mendalami bidang terapi musik. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

DERETAN alat musik dengan beragam warna dipadu bantal-bantal cantik dengan warna-warna yang tak kalah menarik langsung memberi kesan ceria dan nyaman saat memasuki ruang terapi Daniella Music.
”Walaupun tidak besar, tapi kami bikin senyaman mungkin, biar anak-anak betah,” ujar pendiri Daniella Music Course & Therapy, Sandy Daniella Setianto saat ditemui di kliniknya yang berada di kawasan Puri Anjasmoro.
Perempuan kelahiran Semarang ini mengakui belum banyak yang mengenal terapi musik, termasuk saat kali pertama ia terjun di bidang ini. ”Di angkatan saya, yang ambil jurusan ini hanya 11 orang saja,” ujar alumnus Universitas Pelita Harapan Jakarta ini.
Awalnya, dari kecil Sandy memang berbakat dan menyukai musik, ia pun diarahkan orang tuanya untuk serius mendalami bidang ini. Ternyata, setelah kuliah, ia justru jenuh, tiap hari berkutat dengan not balok dan hanya berlatih musik.
”Kalau hanya berada di belakang piano tiap hari saya bosan. Saya inginnya juga bisa berinteraksi dengan banyak orang,” ujarnya.
Sulung dari tiga bersaudara ini bahkan sempat berpikir untuk beralih ke jurusan psikologi. Karena menurutnya, ia juga memiliki minat yang besar di bidang tersebut. Sang ibulah yang akhirnya mencari jalan tengah dengan mengarahkan putrinya ke bidang ini. ”Saya akhirnya bergeser ke jurusan ini. Musiknya dapat, psikologinya juga ada,” ujarnya.
Bagi Sandy yang sudah beberapa tahun berkecimpung di bidang ini, cukup banyak tantangan dan hal-hal menarik lainnya yang bisa didapat. Banyak kasus-kasus menarik yang membuatnya terus belajar dan lebih terbuka dalam menghadapi berbagai karakter.
”Musik bisa digunakan untuk menerapi semua orang dari semua umur hingga semua kalangan dengan berbagai persoalannya masing-masing. Mulai dari anak berkebutuhan khusus, remaja yang kesulitan konsentrasi hingga lansia yang kadang kehilangan semangat hidup,” ujarnya.
Khusus untuk anak, sebelum memulai terapi, ia memiliki syarat tertentu. Salah satunya adalah kerja sama dari orang tua, termasuk pemahaman bahwa terapi sifatnya tidak instan.
”Tiap kasus, penanganannya berbeda. Kadang di beberapa sesi awal, saya hanya melakukan pendekatan, agar anak percaya dan mau mengikuti instruksi. Setelah itu baru saya mulai menerapinya dengan musik,” ujar Sandy.
Metode terapi sendiri beragam. Ketukan demi ketukan nada dalam sebuah lagu, misalnya, ternyata bisa membantu anak yang hiperaktif untuk lebih berkonsentrasi. Kemudian pelafalan melalui lagu juga membantu anak yang terlambat berbicara. ”Untuk terapi semacam ini saya lebih suka private, kecuali untuk anak-anak yang bermasalah dengan kemampuan bersosialisasi,” ujarnya.
Meski tak mudah, Sandy mengaku mendapatkan kepuasan tersendiri apabila terlihat kemajuan pada kliennya. ”Jadi bukan hanya saya yang jago bermain musik, tapi dengan keahlian ini saya bisa membantu mereka yang membutuhkan. Itu yang lebih memuaskan untuk saya,” ujarnya.
Salah satunya ia pernah menangani anak dengan latar belakang orang tua yang banyak mempertontonkan kekerasan. Apa yang terekam oleh anak ternyata terbawa dalam pemikiran serta pergaulan.
”Dia suka berantem. Saat saya tanya cita-citanya apa, dia ingin punya pulau narkoba, kalau ada yang ambil narkobanya nanti dibunuh, dan lain-lain. Menurut saya pikiran yang cukup mengerikan bagi anak seumur itu. Tapi setelah kami coba terapi dengan musik divariasikan dengan cerita. Sekarang jika ada temannya yang berkelahi, justru dia yang melerai,” ujarnya.
Ke depan, Sandy ingin terus mengembangkan bidang ini dan berharap banyak orang tua yang lebih terbuka dalam menerima keadaan anak mereka serta berupaya mengembangkan bakat yang dimiliki anak. Salah satunya dengan terapi musik. ”Jangan salah, terapi musik bukan hanya untuk mereka yang berkebutuhan khusus. Semua orang bisa menggunakannya,” pungkasnya. (*/ida/ce1)