Pembunuh Siswi SMP Ditangkap

402

DEMAK – Polisi berhasil me­­ringkus Sulistriyono, 23, war­ga Desa Klitih, Kecamatan Karangtengah, tersangka pem­bunuh siswi SMPN 3 Gun­tur, Vita Nafiara, 14, warga Du­kuh Ngrapah, RT 3 RW 4, Desa Sampang, Keca­matan Karangtengah akhirnya. Ia dibekuk saat bekerja sebagai kuli bangunan disebuah rumah toko (ruko) disekitar Jalan Pesantren, Kampung Kreo Selatan, Larangan, Tangerang, Provinsi Banten.
Kini pelaku ditahan di sel Mapolres Demak. Pelaku ternyata tega menghabisi korban didorong motif sakit hati atau dendam membara. Sulistriyono mengaku, dirinya kerap dihina dan diejek korban didepan mertuanya tentang kenakalannya. Yakni, dicap sebagai penjudi, pemabuk dan suka keluar malam hari.
Akibat ejekan itu, ia mengaku diusir mertua dan terpaksa pisah dengan istri dan anaknya. “Saya sakit hati dihina seperti itu,” ungkap pelaku saat dimintai keterangan Kapolres Demak AKBP Raden Setijo Nugroho dan Kasubag Humas AKP Sutomo di Polres Demak, kemarin. Setelah ditangkap itu, tersangka justru mengaku senang karena tidak lagi dikejar-kejar polisi dan arwah korban.
Berdasarkan keterangan pelaku kemarin, peristiwa pembunuhan itu dilakukan kurang lebih pukul 22.00 Minggu malam Senin (20/9) lalu. Ketika itu, pelaku sempat mengajak korban untuk bertemu dengan dalih mau diketemukan dengan pacar korban yang bernama Moh Santoso, yang juga warga Desa Klitih.
“Dia (korban) saya kirimi pesan singkat melalui Handphone (HP)nya. Ia saya pancing agar mau bertemu saya karena pacarnya telah menunggu,” terang tersangka. Dengan cara seperti itu, korban kemudian bergegas menemui pelaku. Ternyata janji pelaku untuk mempertemukan korban dengan pacarnya itu tidak ditepati. Sebab, di lokasi pertemuan tidak ada Moh Santoso (pacar korban) tersebut. Justru, korban hanya bertemu pelaku sedang sendirian dijalan tepi sawah. Karena itu, mereka berdua mengobrol sebentar. Tak lama setelah itu, pelaku mencoba memancing korban agar mau ke tengah sawah. Saat itulah,tersangka melancarkan aksinya untuk membunuh korban.
Dengan perasaan dendam dan kondisi pelaku yang terpengaruh minuman keras (miras), tangan pelaku dengan cekatan berupaya membekap mulut korban dan mencekik lehernya sehingga sulit bernafas. Setelah itu, tali kain yang menempel di pakaian korban juga disobek lalu digunakan untuk menjerat leher korban hingga tewas. Jasad korban baru ditemukan pada pagi harinya.
Setelah membunuh, Sulis­triyono dengan motor menuju ke sebuah warnet dan tidur di­rumah temannya di Desa Ploso, Kecamatan Karangtengah. Se­telah dua hari dirumah temannya itu, ia berusaha kabur ke Jakarta dengan naik bus. “HP korban saya bawa agar tidak ada yang tahu kejadian ini,” katanya. Dengan dibawanya HP korban itu, petugas memang sempat kesulitan melacak pelaku. Sebab, selain itu juga tidak ada sidik jari ditubuh korban.
Namun, polisi mengamankan barang bukti berupa tali kain, sandal, sepeda ontel dan satu HP lainnya milik korban yang ada dirumah, akhirnya polisi bisa melacak dan menemui titik terang. Tak hanya itu, untuk mengetahui keberadaan pelaku lebih jauh. HP istri tersangka juga disita. Mendengar kabar HP istri disita polisi itu, tersangka Sulistriyono sempat merasa gregetan. Ia merasa istrinya tidak ikut-ikutan tapi HP nya justru disita. Ia pun terang-terangan memasang status di facebook miliknya ‘Bendol Bodem Kembali Lagi’. Melalui akun facebook itu, tersangka membenci polisi dengan mengatai bangsat dan banci. Dari situlah, polisi makin yakin bahwa Sulistriyono adalah pelaku pembunuhan Vita.
Kapolres Demak AKBP Raden Setijo Nugroho mengatakan, tersangka ditangkap setelah melalui proses investigasi dan dibantu pemanfaatan tekhnologi kepolisian. “Dengan investigasi dan tekhnologi ini pelaku dapat kita lacak,” katanya.
Kasubag Humas AKP Sutomo menambahkan, akibat perbuatannya itu, pelaku dijerat dengan pasal berlapis. Diantaranya pasal 340 KUHP tentang pembunuhan yang telah direncanakan dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara. “Bukti sangat lengkap dan banyak saksi,”ujarnya. (hib/sas)