Ratusan Warga jadi TKI, Devisa Miliaran

422

hamdan kades kedungmutih2

Banyak kabar miring mengenai TKI. Namun tidak demikian halnya dengan desa Kedungmutih, Wedung, Demak. Ratusan warganya berangkat ke luar negeri dan desanya kini menjadi lebih makmur. Seperti apa?

Wahib Pribadi, Demak

Desa Kedungmutih, Kecamatan Wedung menjadi salah satu kampung pemasok tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. Setidaknya tercatat ada sekitar 200 orang dari desa tersebut yang kini sedang mengais rejeki di berbagai negara tujuan TKI. Diantaranya ke Malaysia, Brunai Darussalam, Arab Saudi, negara Timur Tengah lainnya, Hongkong, dan Korea Selatan (Korsel).
Setelah banyaknya warga yang nekat bekerja ke beberapa negara itu, kini kondisi ekonomi warga setempat relatif ada kemajuan dibandingkan 10 tahun lalu. Karena itu, kampung yang dihuni sekitar 1.300 kepala keluarga (KK) ini keadaannya makin membaik dan kondusif. Dulu, kampung ini kerap ada unjukrasa lantaran perut mereka kosong akibat ekonomi yang serba kekurangan. Kini, sebaliknya sudah kondusif.
Kepala Desa Kedungmutih, Hamdan mengungkapkan, kini kesejahteraan warganya meningkat. Pemasukan devisa dari para TKI dikampungnya itu bisa tembus antara Rp 3 miliar sampai Rp 5 miliar pertahun.
Dampak lainnya, warga TKI pun akhirnya bisa memiliki modal cukup untuk menekuni pekerjaan lain termasuk mengembangkan usaha ke Jepara. Bahkan, ada pula yang membeli tanah berhektar -hektar didesa tetangga.
Hamdan menuturkan, sekedar gambaran, dulu sebelum banyak warganya ke luar negeri, kondisi ekonomi pas pasan dan serba kekurangan. Maklum, Kedungmutih merupakan daerah pesisir yang rata – rata penduduknya bekerja sebagai petani garam dan nelayan.
“Dulu, satu perahu itu bisa berisi 3 orang nelayan dari tiga KK. Sekarang ini, satu perahu hanya berisi 1 orang dan dibantu mesin perahu saja. Sama halnya bila 1 hektare tambak garam dulu dikelola tiga petani, kini hanya dikelola 1 petani garam saja. Bahkan, untuk mencari tenaga membuat garam di tambak saja sekarang sudah kesulitan,”katanya.
Menurutnya, satu orang yang bekerja di luar nageri bisa membantu ekonomi 2 hingga 3 keluarga sekaligus. Selain itu, bisa membantu biaya anak sekolah hingga ke perguruan tinggi. Sebelumnya, anak sekolah sampai tingkat SMA atau perguruan tinggi hanya segelintir saja. Kini, yang bergelar sarjana sudah mencapai ratusan. Ini setelah mereka yang dirumah dapat suntikan ekonomi dari para pekerja di luar negeri itu.
Bahkan, bila dulu untuk menggelar acara keagamaan saja, seperti tahlilan untuk keluarganya yang meninggal sulitnya bukan main lantaran tidak memiliki uang. Namun, sekarang, warga sudah mampu menggelar acara apapun termasuk kegiatan keagamaan. Sebab, pihak keluarga dibantu sanak saudaranya yang bekerja di luar negeri. “Kita dulu itu prihatin. Sebab, desa kami ini kerap terjadi aksi pencurian. Pernah ada yang ketangkap kita berikan arahan yang baik, diantaranya agar mau bekerja ke luar negeri. Sekarang, pencurian sudah berkurang tidak seperti dulu lagi. Selain itu, mereka bisa membantu membangun desanya,”katanya.
Hamdan menambahkan, warganya yang ke luar negeri rata-rata bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) dan sopir (driver). Biasanya, mereka yang berangkat ke Arab Saudi atau Korea lebih dulu menjalani pelatihan oleh perusahaan penyalur tenaga kerja. Sebaliknya, yang bekerja ke Malaysia dan sekitarnya biasanya mereka merantau dulu ke Kalimantan atau Tanjungpinang Kepulauan Riau.
Disana, mereka membuat paspor dan baru menyeberang ke Malaysia atau Brunai. Gelombang migrasi warga Kedungmutih ke luar negeri sebetulnya dimulai sejak 1987. Namun, baru ramai sejak sepuluh tahun terakhir. Menurutnya, meningkatnya ekonomi warga sebagai dampak banyaknya warga yang bekerja ke luar negeri itu sementara ini tidak menjadi perhatian pemerintah.
“Justru pemerintah malah mengeluarkan kebijakan moratorium atau penundaan dan peniadaan izin bekerja ke Timur Tengah. Ini bisa mengganggu warga yang sedang getol-getolnya senang bekerja ke luar negeri tersebut,”ujarnya. Dia berharap, kebijakan moratorium untuk TKI tersebut bisa ditinjau kembali. (*/sas)