“Saya Salati dan Bacakan Yasin”

297

REPRO PISAH RANJANG : Hendri dan istrinya dalam sebuah kesempatan wisuda saudaranya di Universitas Muhammadiyah Magelang beberapa waktu lalu.
REPRO
PISAH RANJANG : Hendri dan istrinya dalam sebuah kesempatan wisuda saudaranya di Universitas Muhammadiyah Magelang beberapa waktu lalu.

TIBA-tiba Hendri Wahyu Irawan, 25, terdiam. Padahal, dia sebelumnya begitu lugas dan tas-tes saat menerangkan kronologi pelariannya hingga sampai di Pasuruan, Jawa Timur, kepada penyidik Polres Magelang.
Wajahnya mendadak tertunduk. Matanya memerah. Butiran air mata mulai menetes kala penyidik menanyakan motif pembunuhan. “Saya sakit hati,” ucapnya singkat. “Dia selingkuh,” tambahnya.
Hendri mengaku sebenarnya tak punya niat membunuh istrinya malam itu. Dia hanya mau datang dan mengambil uang untuk keperluan mencari pekerjaan. Dia tak senang dicap numpang hidup di keluarga istrinya. Maka, dia ingin buktikan bisa bekerja.
Usai mencari belut dengan tiga rekannya, dia kemudian hendak pulang. Saat itu, sudah dini hari. Suasananya sepi. Saat hendak masuk rumah, langkah kakinya dihentikan sebuah suara percakapan dari dalam rumah. “Istri saya sedang ngobrol mesra sambil lihat foto-foto mesra dengan pria lain,” katanya yang saat itu mengintip dari balik jendela.
Tak tahan, dia lantas berteriak. “Bukak lawange cepet bukak (buka pintunya cepat buka, red),” katanya dengan suara lantang sambil menggedor-gedor pintu. “Ampun…ampun, aku bisa menjelaskan semua ini,” katanya menirukan suara istrinya kala itu.
Saat itu, Hendri sudah telanjur naik pitam. Emosinya tak bisa ditahan. “Saya tanya ke istri tiga kali siapa pria itu tak dijawab, akhirnya saya cekik,” kenangnya. Begitu korban tak bergerak, dia baru sadar. Istri yang memberinya dua anak itu, telah meninggal. “Saya cek sudah tidak ada detak jantung dan nafas,” beber Hendri. Penyesalannya akhirnya timbul. Usai membunuh istrinya, dia lantas mandi. Jasad istrinya dibasuh. “Saya bersihkan tangan dan mulutnya,” katanya.
Setelah itu, mayat sang istri, ia salati. “Saya sempat salatkan dan bacakan Yasin dua kali,” tambah dia. Dia juga sempat menangis. Menyesal sekali. Baru setelah itu, dia mengambil beberapa perhiasan, handphone dan uang Rp 5 juta milik istrinya. Setelah itu, pelaku bergegas pergi dengan tujuan tak jelas. Awalnya, ingin ke Papua, kemudian ke Bali.
Dalam perjalanan, dia akhirnya terhenti di Pasuruan, Jawa Timur. Dia mampir di sebuah pondok pesantren. “Saya ingin belajar cara ibadah yang bisa mengampuni dosa setelah membunuh,” ucap Hendri.
Di pondok, dia bertemu sang kiai. “Saya diberi makan, terus diajak salat Maghrib lalu jamaah salat Isya,” tutur Hendri yang juga menceritakan perbuatannya pada sang kiai. Dalam pertemuan itu, sang kiai berkata. “Kalau mau tobat, Polres dekat dari sini,” ungkapnya menirukan suara kiai.
Saat hendak menuju Polres Pasuruan, polisi sudah menjemputnya. “Saya menyesal,” katanya, pelan. Meski menyesal, Hendri sanggup mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia berharap, bisa menebus dosa besarnya. Hendri meyakinkan polisi bahwa sebenarnya dia masih mencintai sang istri. Meski, dia juga memiliki wanita idaman lain. (vie/isk)