Bentangkan Batik Tulis Semarangan 38 meter

656
BATIK TERPANJANG: Peringati Hari Batik Nasional dengan membentangkan batik tulis sepanjang 38 meter di Kampung Batik Gendong Semarang, pada Kamis kemarin (2/10). (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)
 BATIK TERPANJANG: Peringati Hari Batik Nasional dengan membentangkan batik tulis sepanjang 38 meter di Kampung Batik Gendong Semarang, pada Kamis kemarin (2/10). (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)

BATIK TERPANJANG: Peringati Hari Batik Nasional dengan membentangkan batik tulis sepanjang 38 meter di Kampung Batik Gendong Semarang, pada Kamis kemarin (2/10). (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)

Di tengah kesibukannya membuat batik, seorang perajin batik di Kampung Batik Gedong Rejomulyo Semarang, Eko Hariyanto, memperingati Hari Batik Nasional dengan membentangkan kain Batik Jagad Semarangan sejauh 38 meter. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO

EKO Hariyanto membutuhkan waktu 4 tahun untuk membuat batik tulis berwarna cokelat dan putih sepanjang 38 meter dengan 200 motif ikon Kota Atlas. Batik tersebut dipamerkan dalam peringatan Hari Batik Nasional di depan gerai batiknya di Kampung Batik Gendong Semarang, pada Kamis (2/10). Bahkan, saking panjangnya, kain batik bertemakan Batik Jagad Semarangan tersebut, menutupi beberapa rumah warga.
”Sangat sulit membuatnya, karena ini murni batik tulis khas Semarangan, sehingga pembuatannya harus cermat dan teliti. Bahkan, kainnya tidak dipotong satu inci pun,” kata pria 41 tahun itu.
Batik tersebut telah menghabiskan bahan baku malam 1 kilogram dan pewarnaan sebanyak 1,5 kilogram. Saking banyaknya motif yang dilukis di dalam kain batik, membuatnya harus ada jeda beberapa kali sebelum akhirnya menuntaskan pembuatan selama 4 tahun.
”Ini akan didaftarkan dalam rekor MURI. Sebab, saya rasa baru kali ini ada Batik Jagad Semarangan yang menampilkan 200 gambar ikon kota seperti Lawang Sewu, Kapal Cheng Ho, 4 penari Gambang Semarang, Warak, Tugu Muda hingga Kilin atau binatang khas China,” katanya semangat.
Lebih lanjut, Eko menguraikan, pembuatan Batik Semarangan kali ini untuk melestarikan batik lokal yang terancam punah. Padahal Batik Semarangan, kata dia, memiliki beragam keunikan karena terdapat unsur budaya China, Jawa dan Arab.
”Karena ada simbol Warak sebagai pemersatu komunitas inilah yang membuat Semarang selalu kondusif,” terang dia sembari menambahkan bila batik tulis Semarangan hanya dijual seharga Rp 125 ribu.
Sementara bagi Iin Windi Indah Tjahjani, istri Eko, agar Batik Semarangan tetap eksis dia terus berupaya memperkuat ciri khas produknya. Hasil karyanya kini diminati wisatawan asal Jakarta Bandung, Bontang, Papua, Ambon hingga Riau. Batik Semarangan memiliki ketajaman warna yang menggoda di samping perpaduan gambar yang menonjolkan keunikan warga lokal.
Terpisah, Pakar Batik Universitas Diponegoro (Undip), Dewi Yuliati, mengatakan corak atau motif batik Semarang yang khas dengan menggambarkan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Semarang menjadi identitas tersendiri dari batik tersebut.
”Corak pesisir sangat dominan tergambar dalam batik Semarang, antara lain Samudra Naga, Kampung Laut Latar Ganggang, Bangau Semawis, Asem Tugu, Ngarak Warak, Neng Klenteng, Lawang Sewu, merupakan motif-motif khas Semarang,” katanya.
Selain itu, kekuatan dalam batik Semarang, yaitu warnanya yang cenderung mencolok. ”Hal tersebut mewakili bahwa Semarang adalah kawasan pesisir yang apa adanya, blak-blakkan,” kata Dewi.
Corak yang seperti itu, menurut Dewi, harus dipertahankan agar dari masa ke masa juga berbeda. ”Karena itu adalah ciri khas Kota Semarang,” katanya.
Ia mencontohkan motif batik pada saat zaman Belanda dan sekarang berbeda. ”Batik kan identitas. Identitas masa,” kata Dewi.
Kesemarakan Hari Batik juga terlihat di beberapa sekolah. Di SMA Kesatrian 2 Semarang misalnya, menyemarakkan Hari Batik Nasional dengan beberapa lomba. Semua siswa mengenakan baju batik serta iringan lantunan musik gamelan khas Jawa terdengar lembut. Menambah suasana di hari itu sangat kental dengan khas Jawa.
Di sekolah tersebut, sejumlah siswa yang mengenakan pakaian adat Jawa mengikuti festival Pengantin Jawa. Halaman sekolah di-setting sedemikian rupa menjadi panggung bak mempelai pengantin Jawa. Setidaknya, ada enam kelompok yang mengikuti Festival Pengantin Jawa tersebut, yaitu perwakilan masing-masing kelas XII.
Kepala SMA Kesatrian 2 Semarang, Supriyono mengatakan, dalam kegiatan tersebut semua siswa sengaja diwajibkan mengenakan baju batik ke sekolah. ”Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tetap jalan sampai jam ketiga. Pelajaran berlangsung menggunakan bahasa pengantar bahasa Jawa, kecuali mata pelajaran bahasa asing,” katanya.
Selain Festival Pengantin Jawa, para siswa juga terlihat antusias mengikuti lomba cangkriman atau tebak-tebakan berbahasa Jawa. ”Ada juga stand up comedy berbahasa Jawa,” katanya. Supriyono menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan yang dilakukan guna menyemarakkan hari batik nasional.
Selain sebagai upaya mengembangkan kreativitas siswa, kegiatan tersebut sebagai implementasi kurikulum 2013. ”Di mapel bahasa Jawa ada materi tentang pengantin Jawa. Maka hari ini anak-anak bisa mempraktikkan upacaranya,” ungkapnya.
Guru mapel bahasa Jawa di SMA tersebut, Rendu Mahardika Primastuti mengatakan, dengan kegiatan ini siswa dapat lebih mengenal dengan detail budaya-budaya yang ada di Jawa. ”Khususnya Jawa Tengah. Di mana sekarang keberadaan budaya Jawa Tengah mulai tergusur dengan budaya-budaya asing,” kata Rendu. (*/ida/ce1)