Pria Asal Demak, Pembunuh Bayaran

645

SEMARANG UTARA – Pria tambun yang digerebek tim Resmob Polrestabes Semarang, saat pesta sabu di rumah kos di Jalan Purwogondo gang II Semarang Utara, Kamis (2/10) dini hari, ternyata seorang pembunuh bayaran.
Adalah Dedi Irawan, 36, warga Desa Geneng RT 3/RW 3, Demak. Sepak terjangnya dalam dunia kejahatan, merindingkan bulu kuduk. Sudah berulangkali keluar masuk penjara dalam kasus berbeda. Bahkan pernah melakukan pembunuhan sadis atas perintah seorang pengusaha di Kota Surabaya 2001 silam.
Dia menjadi pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa seorang pemuda bernama Agus Tato. ”Saya dibayar Rp 50 juta, disuruh oleh seorang pengusaha di Surabaya. Yang saya bunuh itu teman sendiri,” kata Dedi saat dikeler di Mapolrestabes Semarang, Kamis pagi (2/10).
Atas kasus pembunuhan tersebut, Dedi telah menjalani hukuman penjara selama dua tahun di  LP Medaeng Surabaya. ”Saat membunuh itu, saya berusia 23 tahun,” ujar pria bertato itu, tanpa beban.
Sepak terjangnya tercatat oleh pihak kepolisian, bahkan Dedi telah memulai kejahatannya sejak usianya 16 tahun pada 1994 silam. Saat itu, dia terlibat kasus pencurian. ”Saya dihukum 6 bulan penjara di Lapas Bangli Pasuruhan,” katanya.
Pada tahun 1996, Dedi kembali mendekam di Lapas Probolinggo selama 10 bulan atas kasus penganiayaan. Tiga tahun berikutnya, ia dibui 3 bulan di Lapas Medaeng Surabaya karena membawa senjata tajam (sajam).
Tidak hanya itu, masih panjang pengalamannya menjadi penghuni Lapas. Pada tahun 2001, ia kembali masuk Lapas Medaeng Surabaya karena kasus pembunuhan. Selanjutnya pada tahun 2005 di Lapas Pamekasan Madura ia dihukum 2,5 tahun dalam perkara obat daftar G. Setelah itu, tahun 2013 mendekam di Lapas Kedungpane Semarang selama 7 bulan atas perkara perampasan.
Sedangkan dalam penangkapan kali ini, dia digerebek di rumah kos di Jalan Purwogondo gang II Semarang Utara saat sedang asyik pesta sabu bersama dua temannya, oleh tim Resmob Satreskrim Polrestabes Semarang. Ketiganya kini, diringkus karena terlibat kasus perampokan yang terjadi di Semarang.
Kedua temannya itu masing-masing; Dyan Muhammad Syahmapage, 25, warga Kebonharjo RT 9/RW 5, Semarang Utara, dan Hendrik Sanjaya, 19, warga Kebonharjo RT 5/RW 8, Semarang Utara.
Saat digerebek, di kamar kos tersebut ditemukan empat alat isap sabu. Uniknya, Dedi mendokumentasikan atau kliping foto-fotonya dari pemberitaan media saat menjadi tersangka sejumlah kasus. Di antaranya foto Dedi saat gelar perkara tahun 2013 di Mapolsek Gajahmungkur Semarang. Dalam foto yang dipajang di dinding itu, Dedi bersama Kapolsek Gajahmungkur Kompol Eva Guna Pandia (yang menjabat kala itu).
”Fotonya diperbesar dan dipajang di dinding kamarnya. Ada foto dia bersama Kapolsek Gajahmungkur (Kompol Eva Guna Pandia, Red),” kata Kasatreskrim Polrestabes Semarang, AKBP Wika Hardianto, kemarin.
Wika menjelaskan, kawanan tersangka ini telah berkali-kali melakukan tindak kejahatan. ”Mereka semua residivis. Di wilayah hukum Polrestabes Semarang, telah beraksi di 13 lokasi tempat kejadian perkara,” kata Wika.
Sementara itu, para tersangka bakal dijerat Pasal 365 KUHP dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara. Selain itu, lanjut Wika, penyidikan para tersangka juga akan dikembangkan dalam kasus narkoba yang akan ditelusuri oleh Satnarkoba Polrestabes Semarang.
Tertangkapnya tiga tersangka berkat pengembangan tersangka, Agil Kismiyanto alias Antok, 27, warga Tambaksari RT 5 RW 4, Semarang Timur, yang ditangkap terlebih dahulu. ”Mereka komplotan yang beraksi menggunakan senjata tajam, bahkan tidak segan-segan melukai korbannya,” katanya. (mg5/ida/ce1)