Hutan Rusak, Dua PLTMH Krisis Air

357

KAJEN – Desa Curugmuncar, Ke­camatan Petungkriono, Kabu­paten Pekalongan, sebagai juara pertama tingkat Jawa Tengah tahun 2012, sebagai Desa Mandiri Energi, mengalami krisis air. Padahal desa tersebut merupakan satu – satunya desa di Ja­wa Tengah yang menolak listrik PLN masuk desanya. Pembangkit Litrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) karena sumber airnya yang sepanjang tahun melimpah yang diandalkan kini mulai menyusut.
Akibatnya, arus listrik yang di­hasilkan berkurang hingga 50 persen lebih. Sebelum terjadinya kemarau PLTMH Curugmuncar, mampu menghasilkan listrik hingga 50 ribu watt untuk 126 rumah, sekarang hanya 20 an ribu watt dengan 56 rumah.
Perangkat Desa Curugmuncar, Kecamatan Petungkriono, Kabu­paten Pekalongan, Kasmari. Kamis (2/9) siang kemarin, mengungkapkan, sejak pertengahan musim kemarau, debit air di desanya berkurang cukup dratis sehingga PLTMH tidak bisa maksimal. Menurutnya, selama ini sumber air di desanya tidak pernah berkurang, meski musim kemarau, namun kemarau tahun agak berbeda.
”Saya yakin berkurangnya sumber mata air diatas Desa Curugmuncar, karena mulai banyaknya penebangan pohon di hutan atas, sehingga hutan sebagai penahan air mulai berkurang,” keluh Kasmari.
Ia menambahkan, dengan sedikitnya sumber energi listrik yang dihasilkan PLTMH Curugmuncar, maka tidak semua rumah warga desanya bisa terpenuhi kebutuhan akan listriknya. Kondisi tersebut menjadikan warga membuat kesepakatan tak tertulis, diantaranya warga tidak boleh menggunakan barang eletronik, mulai dari televisi hingga kulkas. ”Selama kemarau berlangsung, semua warga tidak boleh menggunakan barang elektronik, agar lampu bisa menyala ke semua warga,” lanjut Kasmari.
Kepala Teknik PLTMH Curug­muncar, Cahyani membenarkan berkurangnya energi listrik PLTMH. Dijelaskan dia, agar semua warga Desa Curugmuncar bisa menikmati listrik, maka semua warga menyadari akan pengunaan listrik sepenuhnya. ”Selama musim kemarau ini, tidak ada warga yang menyalakan televisi, apa lagi menggunakan kulkas. Karena kalau ada yang menyalakan televisi, warga lain tidak bisa menyalakan lampu,” kata Cahyani.
Ketua RT 06 Desa Curugmuncar, Tohari, 42, memaklumi keputusan pihak desa, yang melarang warganya untuk menggunakan barang eletronik. Menurutnya langkah desa tersebut sebagai upaya, agar seluruh warga desa bisa menikmati listrik, ditengah krisis air yang melanda Desa Curugmuncar.
”Meski pasokan listrik pada tiap rumah tangga berkurang, warga tetap membayar Rp 22 ribu per bulan, sama seperti pasokan listrik ketika lancar,” kata Tohari, yang bertugas menarik iuran warga desa.
Terpisah, Kepala Dinas Pe­ngairan Sumber Daya Air Mi­ne­ral, Bambang Pramukanto. Me­nuturkan, musim kemarau yang melanda Kabupaten Pekalongan, termasuk Desa Curugmuncar, Kecamatan Petungkriono, memang terjadi krisis air namun tidak terlalu mengkhawatirkan, karena adalah fenomena alam yang harus disikapi dengan bijak. “Pada musim kemarau memang debit air berkurang. PLTMH jalan tidak maksimal, dan warga memaklumi kondisi itu,” tutur Bambang.
Kondisi serupa juga terjadi pada PLTMH yang ada di De­sa Sidomulyo, Kecamatan Le­bak­barang. Dari 200 rumah yang semestinya teraliri listrik dari PLTMH, kini hanya 120 an saja. “Debit airnya berkurang, sehingga energi pada PLTMH juga menurun, hanya 120 hingga 150 rumah saja yang teraliri listrik,” jelas Camat Lebakbarang, Yuharno. (thd/sas)