Tidak Buruk, Siap Berbenah dan Incar Medali Olimpiade Brazil 2016

432
BERLATIH LEBIH KERAS: Penampilan taekwondoin Indonesia asal Jateng Ong Stevanus Ariosuseno (merah) saat dikalahkan Nursultan Mamayev dari Kazakstan, di babak perempat final kelas -58 kg taekwondo Asian Games 2014, Jumat (3/10) di Incheon. (ISMU PURUHITO/RADAR SEMARANG)
BERLATIH LEBIH KERAS: Penampilan taekwondoin Indonesia asal Jateng Ong Stevanus Ariosuseno (merah) saat dikalahkan Nursultan Mamayev dari Kazakstan, di babak perempat final kelas -58 kg taekwondo Asian Games 2014, Jumat (3/10) di Incheon. (ISMU PURUHITO/RADAR SEMARANG)
BERLATIH LEBIH KERAS: Penampilan taekwondoin Indonesia asal Jateng Ong Stevanus Ariosuseno (merah) saat dikalahkan Nursultan Mamayev dari Kazakstan, di babak perempat final kelas -58 kg taekwondo Asian Games 2014, Jumat (3/10) di Incheon. (ISMU PURUHITO/RADAR SEMARANG)

Dua taekwondoin Jateng yang berlaga di Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan, memang gagal mempersembahkan medali untuk Indonesia. Namun pencapaian Ong Stevanus Ariosuseno dan Aghniny Haque dinilai tidak terlalu buruk.

Ismu Puruhito, Incheon

DALAM pertandingan Jumat (3/10) di Ganghwa Gymnasium Incheon, Ong Stevanus mampu menembus babak delapan besar atau perempat final. Namun langkah Ong menuju semi final terganjal oleh Nursultan Mamayev dari Kazakstan. Peraih medali emas taekwondo PON 2012 dan Kejurnas 2014 untuk kelas -58 kg ini kalah dengan skor 4-10. Sebelumnya, atlet asal Pati ini sukses mengalahkan Hussain Ghuloum Ali Almasszmi dari Uni Emirat Arab 15-6 dan atlet Bhutan Kinley Penjoryang dilibas 7-2. Padahal, bila mampu mengatasi Nursultan, minimal medali perunggu sudah di tangan.
“Saya kaget ketika dia (Mama­yev) dengan cepat dapat tiga ang­ka setelah tendangannya mengenai kepala saya, akibatnya saya bernafsu untuk membalasnya dan jadi emosional. Akibatnya malah tidak fokus, serangan saya terburu-buru dan tidak dapat menemui sasaran,” ujar Ong pada Radar Semarang, setelah pertandingan.
Taekwondoin Jateng lain, Aghniny Haque juga kandas di babak perempat final. Atlet putri yang masih berusia 17 tahun ini dihentikan oleh taekwondoin tuan rumah Kim Sohui dengan skor tipis 1-4 pada Rabu (1/10) di tempat yang sama. Kim adalah dua kali juara dunia yang akhirnya juga merebut medali emas di kelas -46 putri di ajang Asian Games ini. Sebelumnya, siswi SMAN 9 Semarang ini menang atas Alaidaleh Eman dari Jordania dengan 10-3.
Hasil yang dicapai atlet Jateng ini memang tidak terlalu buruk. Di Asian Games 2014, Indonesia menurunkan empat atlet. Selain Ong dan Agniny, dua atlet lain adalah Aggie Seftya Prasbowo asal Jabar yang turun di kelas -54 kg putra dan Mariska Halinda asal Kaltim di kelas -57 kg putri. Aggie dan Mariska langsung kalah di pertandingan pertama. Aggie ditekuk taekwondoin Thailand Ramnarong Sawekwiharee dengan cukup telak 8-15. Sedangkan Mariska ditekuk atlet Iran Samaneh Shespari.
Ketua Pengprov Taekwondo Indonesia (TI) Jawa Tengah Su­darsono Chandrawidjaja yang menyaksikan langsung pertandingan Ong dan Agniny mengaku tidak terlalu kecewa dengan penampilan dua atletnya. Namun dia berharap Ong dan Aghniny berupaya keras meningkatkan lagi kemampuannya, agar bisa berprestasi di pentas dunia.
Untuk Ong Stevanus, menurut pria yang akrab disapa Chandra ini, diharapkan belajar dari kekalahannya. “Secara postur saya lihat kalah. Meski lebih tinggi, lawan tetap cepat dan gesit. Saya kira Ong harus belajar lagi mengalahkan lawan dengan postur yang lebih tinggi,” ujarnya. Sementara untuk Aghniny, Chandra menilai peraih medali emas event Islamic Solidarity Games 2013 ini memang butuh tambahan jam terbang. “Lawannya juara dunia dua kali, kalah dengan skor 1-4 saya kira memang tak terlalu buruk. Menurt dia (Aghniny) katanya sangat nervous sebelum bertanding setelah melihat lawannya adalah juara dunia, tuan rumah pula. Tapi saya katakan, justru juara dunia itu bebannya lebih berat dan pasti juga deg-degan sebelum pertandingan, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan,” ujar Chandra.
Ditambahkan Chandra, peluang dua atletnya untuk berprestasi di ajang internasional masih terbuka. Dia berharap Ong dan Aghniny tak patah arang dan terus berlatih keras. “Saya kira Ong dan Aghniny masih punya peluang berprestasi di ajang internasional lain bahkan di Olimpiade di Brasil 2016. Tapi dia harus harus mengejar poin agar bisa bertanding di pra olimpiade, dengan menang di kejuaraan-kejuaraan internasional resmi. Pengprov TI Jateng akan mengupayakan agar keduanya bisa tampil di kejuaraan-kejuaraan tersebut, kalau perlu berangkat dengan biaya kita. Tapi tentu saja mereka harus berbenah dulu dan berlatih ekstra keras,” tandasnya. (*/ric)