Pemilik Histeris, Panti Pijat Dibongkar Lagi

317

SALAMAN MLOYO – Ini adalah kali kelima, Satpol PP Pemkot Semarang melakukan pembongkaran tiga bangunan di Jalan Puspowarno, Semarang Barat, Senin kemarin (13/10). Yakni bangunan yang berkedok panti pijat, namun digunakan untuk praktik mesum.

Kendati begitu, pembongkaran tersebut sempat diwarnai isak tangis dari salah satu pemilik bangunan yang baru saja selesai membangun beberapa hari lalu. Perempuan tersebut menangis histeris ketika mengetahui bangunan miliknya dibongkar paksa oleh petugas satpol PP.

”Saya baru saja mendirikan bangunan ini. Saya sudah membayar kepada salah satu petugas Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) sebesar Rp 1,5 juta. Katanya tidak apa-apa dan bisa bertanggung jawab mengamankan bangunan. Bahkan saya harus mencari pinjaman sebanyak Rp 7 juta untuk modal usaha mendirikan bangunan ini,” ungkap Wenny kepada Radar Semarang, Senin, (13/10) kemarin.

Sedangkan Kepala Satpol PP Kota Semarang, Endro P Martantono yang ikut terjun di lapangan mengatakan bahwa operasi ini merupakan kegiatan rutin. Namun pembongkaran ini berasal dari laporan masyarakat yang merasa resah adanya pembukaan panti pijat, namun ujung-ujungnya digunakan praktik mesum.

”Bangunan berkedok panti pijat di sini sudah kerap dibongkar petugas. Namun para pemilik bangunan masih nekat mendirikan kembali dan melakukan pembangunan ulang,” tegasnya.

Endro menambahkan, razia ini akan rutin dilakukan supaya Kota Semarang bersih dan terbebas dari tindakan praktik prostitusi. Bahkan, pihaknya sudah mengundang pemilik tempat tersebut untuk memberikan pernyataan tidak mendirikan bangunan itu lagi. Namun para pemilik bangunan masih mengulangi mendirikan bangunan lagi.

”Mereka masih nekat. Namun sesuai program, kami akan terus menindak. Kalau mereka mendirikan kembali, petugas akan melakukan pembongkaran kembali juga,” imbuhnya.
Sekretaris LPMK Kelurahan Salaman Mloyo, Semarang Barat, Agus Riyanto menegaskan bahwa tidak ada anggota LPMK yang melakukan penarikan uang kepada pemilik bangunan panti pijat. Pihaknya menduga hal itu dilakukan oleh oknum di luar petugas LPMK. ”Kami tidak mengetahui pembayaran itu dan kami tidak melakukan penarikan,” tandasnya menampik.

Agus menerangkan, tempat bangunan tersebut sudah pernah dibongkar oleh pihak satpol PP lantaran diduga untuk mesum. Pembongkaran ini sudah kali kelima.

”Belum ada satu bulan, bangunan itu dibongkar petugas satpol PP. Ini sudah kelima kali. Tapi pemilik bangunan, masih nekat mendirikan kembali dengan alasan sebagai tempat jualan warungan. Bahkan sebelum mendirikan tempat, pemiliknya sudah saya peringatkan jangan sampai dipakai buat tempat pijat. Mereka juga mengatakan untuk berjualan,” imbuhnya.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat supaya tidak menyalahgunakan tempat tersebut. Menurutnya, warga yang mendirikan tempat usaha pijat akan dilakukan penindakan. ”Saya mengimbau, selama mendirikan lagi untuk hal-hal yang tidak positif, kami akan melaporkan di kelurahan dan segera menindak,” tegasnya.

Kepala Kelurahan Salaman Mloyo, Dyah Darmaningsih mengakui sudah memberi imbauan kepada warga agar tidak mendirikan bangunan berkedok pijat. Namun demikian, warga yang masih nekat mendirikan bangunan tersebut akan dilakukan penindakan.

”Saya baru tugas di sini. Para pemilik bangunan beralasan mendirikan tempat tersebut untuk jualan. Kalau itu, saya bolehkan. Akan tetapi, kalau tempat bangunan tersebut dipergunakan untuk tempat pijat yang diduga untuk praktik mesum, saya tidak setuju. Pastinya akan saya tindak dan warga sudah merasa resah,” tegasnya.

Sementara itu, salah seorang warga setempat Masful mengatakan tempat tersebut sangat mengganggu karena berdekatan dengan lingkungan sekolahan. ”Warga sebenarnya sudah memperingatkan, namun tidak diindahkan. Apalagi dekat lingkungan sekolah anak-anak. Bahkan pernah buka praktik puasa pada pagi hari di saat bulan puasa,” imbuhnya. (mg9/ida/ce1)