Punya Empat Stadion dan GOR Berlapis Bangkirai Kalimantan

363

Asian Games 2014 telah usai pekan lalu. Penyelenggaraan pesta olahraga se-Asia di Incheon, Korea Selatan, tergolong sukses. Di balik kesuksesannya, banyak peserta yang terkesan dengan Incheon, sebuah kota berkonsep desa.

HAWA begitu menyegarkan ketika menyusuri Kota Incheon, host Asian Games ke-17 tahun 2014. Suhu tercatat 14 derajat celcius, mirip udara di Dieng, Wonosobo. Segarnya udara, membuat 13.000 peserta Asian Games yang telah selesai bertanding mulai atlet, pelatih dan ofisial dari berbagai negara, memanfaatkan waktu dengan berkeliling kota yang berpenduduk 2,6 juta jiwa ini.

Incheon sejatinya adalah kota metropolitan. Kota terbesar ketiga di Korsel setelah Seoul dan Busan ini mempunyai pelabuhan besar dan bandar udara yang menjadi salah satu bandar udara terbaik di dunia. Dari Indonesia, pesawat bisa langsung menuju Incheon tidak perlu melalui Seoul.

Namun yang membuat kagum, kota yang sangat bersih ini tampaknya dikonsep seperti sebuah pedesaan. Gunung dan bukit terlihat indah dengan pepohonan yang rimbun di tengah bangunan-bangunan. Hampir tak ada gedung bertingkat apalagi menjulang, membuat siapapun leluasa melihat keindahan alam Incheon.

Kota Incheon memang layak untuk menjadi tuan rumah even sekelas Asian Games. Fasilitas olahraganya sangat komplet. Jawa Tengah yang bertekad untuk membuat sports centre serta melengkapi fasilitas olahraganya, layak menjadikan Incheon sebagai kiblat.

Bayangkan, dengan wilayah seluas 986 km persegi (bandingkan dengan Jawa Tengah yang seluas 35 ribu km persegi) atau kurang lebih tiga kali luas Kota Semarang, Incheon mempunyai 4 stadion internasional. Karena itulah Incheon pernah menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia FIFA 2002. Belum lagi gedung olahraganya, tercatat puluhan. Bahkan untuk cabor-cabor yang tidak begitu populer yang dipertandingkan di Asian Games ke-17 seperti sepeda BMX, soft tenis atau squash, Incheon punya venue khusus dan tiak tercampur atau tak perlu bergantian dengan cabor lain. Semua gedung terlihat bersih dan rapi, termasuk toiletnya. Dengan segala fasilitasnya, tak mahal bila penonton harus merogoh kocek hingga 30.000 won atau kurang lebih Rp 300 ribu.

Radar Semarang sempat melihat salah satu GOR yang istimewa, di gedung berbentuk bulat tersebut dilapisi dengan kayu bangkirai. Ya, kayu bengkirai adalah kayu khas Kalimantan yang dikenal kuat dan tahan air. Entah berapa kubik kayu yang harus diimpor dari Kalimantan Indonesia (atau mungkin Malaysia) untuk menyelesaikan gedung tersebut. “Ini luar biasa, baik ide, konsep serta cara membangunnya. Kayu bangkirai memang dikenal sangat kokoh serta tahan air. Pas untuk melapis gedung seperti ini tanpa harus dicat, dari sisi keindahan juga patut diacungi jempol,” ujar Tambi Sik, salah satu pengusaha kayu asal Kalimantan Timur, yang khusus datang ke Incheon untuk menyaksikan pertandingan bulutangkis Asian Games. (smu)