Angkot Tak Layak Pakai

472

MAGELANG – Armada transportasi umum di Kota Magelang kebanyakan sudah tak layak pakai dan berusia lebih dari duapuluh tahun, sehingga masyarakat enggan untuk menggunakannya. Akibatnya berimbas pada load factor menjadi rendah.
Hal itu terungkap dari hasil penelitian awal analisis kualitas dan kuantitas sistem transportasi Kota Magelang yang dipaparkan oleh tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta jurusan Teknik Sipil Selasa (14/10).
Kasi Fispra Litbang dan Statistik Kota Magelang Didin Saepudin, mengatakan penelitian ini untuk memilah dan memotret sistem transportasi model angkutan (moda) perkotaan, angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP), angkutan perbatasan (AKP), angkutan taksi dan angkutan barang di Kota Sejuta Bunga ini.
Selain itu menyusun rekomendasi kebijakan yang dapat diajukan untuk program peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan pelayanan umum. “Ini baru awal atau pengantar dari penelitian yang sudah dilakukan sejak Agustus lalu. Hasil akhirnya nanti akan kami sampaikan lagi,” katanya usai acara yang berlangsung di gedung Penelitian dan Pengembangan dan Statistik (Litbang Statistik). Kegiatan juga dihadiri oleh SKPD terkait, tim teknis, serta tim peneliti dari UGM dan Universitas Negeri Tidar (Untidar).
Pihaknya mengakui, hasil yang terlihat dari data penelitian, permasalahan angkutan perkotaan (angkot) dan AKDP pada nilai load factor rendah atau di bawah ambang batas, terdapat rute bersinggungan, terdapat terminal bayangan dan kondisi angkutan umum yang sudah tak layak pakai. Sedangkan permasalahan angkutan perbatasan pada sepinya penumpang dan kendaraan berhenti di beberapa titik yang bukan terminal atau subterminal.
“Sebanyak 30,50 persen pengguna angkot adalah pegawai swasta. Kemudian 50 persen pendapatan per bulan pengguna angkot kurang dari Rp 500 ribu. Yang meningkat justru taksi, kalau angkutan barang masih wajar,” tambahnya.
Sementara itu, Zudhy Irawan, dosen UGM Jurusan Teknik Sipil, menambahkan, metode penelitian yang dipakai adalah metode analisis angkutan umum dengan mengecek beberapa faktor seperti load factor, frekuensi dan kemacetan. “Ngetemnya di mana juga dicek. Kita juga jadi tahu performa angkutan di Kota Magelang ini seperti apa,” tambahnya.
Zudhy menjelaskan, secara umum dari sisi jumlah armada memang terlalu banyak dan tidak seimbang dengan jumlah penumpangnya. Sehingga load factor juga menjadi rendah. “Dari data 2011-2014 jumlahnya angkot statis. Sebanyak 355, nggak nambah nggak berkurang juga. Usia angkotnya tambah, tapi jumlah penumpangnya turun, tarifnya juga pas-pasan. Sehingga sulit untuk peningkatan kualitas dan kuantitasnya,” jelasnya.
Menurut Zudhy, solusinya hanya subsidi. Kalau tak bisa dengan jangka pendek, bisa dengan jangka panjang. “Ada lagi, harusnya angkutan umum diperbaiki, angkutan pribadi dibatasi. Kalau memang ingin angkutan umum berjalan dengan baik,” sentil pria 31 tahun ini.
Terpisah, salah satu tim peneliti dari UGM, Wida Yuliar, menganggap kota yang baru saja mendapatkan piala Wahana Tata Nugraha (WTN) ini masih bagus dalam hal transportasi. Sebab dengan julukan kota, namun masih mempertahankan angkot.
“Di beberapa kota lain, angkot itu hampir nggak ada. Ini masih banyak, jadi menurut saya pribadi masih bagus. Hanya saja memang harus diperbaiki, karena banyak armada yang usianya sudah tua. Mungkin kurang menarik dan memang seharusnya sudah diganti yang baru. Mudah-mudahan hasil penelitian nanti, bisa menjadi rekomendasi perbaikan transportasi umum di kota ini,” harapnya. (put/lis)