Lima Hotel Berbintang Dipolisikan

645

BANYUMANIK – Sebanyak lima hotel berbintang di Kota Semarang dilaporkan ke Mapolda Jateng atas dugaan tindak pidana tentang hak cipta. Yakni, terkait pelanggaran hak eksklusif penyiaran tayangan World Cup 2014 lampau. Adalah Gumaya Towers Hotel; Horison Hotel; Pandanaran Hotel; New Metro Hotel dan Dalu Hotel. Selain lima hotel berbintang tersebut, showroom mobil Sun Motor di Jalan MT Haryono Nomor 1012 Semarang, juga dilaporkan dalam kasus yang sama.

Laporan tersebut dilayangkan oleh PT Nonbar yang berpusat di Jakarta, selaku koordinator tunggal terkait hak siaran tayangan World Cup 2014 untuk commercial area Indonesia.

”Mereka telah menyiarkan siaran langsung tayangan pesta pertandingan sepak bola sejagat tersebut dengan label kegiatan nonton bareng secara komersial. Jelas-jelas mereka menggunakan content milik kami tanpa izin untuk kepentingan mereka,” kata Kepala Regional DIJ-Jateng PT Nonbar, Tubagus Aria usai menyerahkan berkas bukti-bukti di kantor Ditreskrimsus Polda Jateng, Jalan Sukun, Banyumanik, Semarang, Selasa kemarin (14/10).

Dikatakan Tubagus, kasus tersebut telah dilaporkan secara resmi ke Mapolda Jateng sejak 3 Oktober lalu. Saat ini telah ditangani oleh Subdit I Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng. ”Hari ini (kemarin, Red), kami menyerahkan sejumlah barang bukti, sekaligus pemeriksaan sebagai korban,” katanya.

Dijelaskan Tubagus, PT Nonbar adalah koordinator tunggal yang memiliki hak siar tayangan World Cup 2014 untuk commercial area di Indonesia. Hal itu berdasarkan penunjukan oleh PT Inter Sports Marketing, FIFA Media Rights Holder, yang memiliki kewenangan memasarkan, mengawasi, dan menertibkan penggunaan content tayangan siaran Piala Dunia FIFA 2014.

Lebih lanjut dijelaskan, bentuk pelanggaran penyiaran tanpa izin tersebut dilakukan oleh hotel-hotel tersebut, dengan cara bermacam-macam. Ada yang secara terang-terangan menggelar acara nonton bareng dengan tiket masuk, termasuk menggandeng sponsor. Ada juga yang dilakukan dengan cara mendistribusikan tayangan piala dunia di kamar hotelnya, sehingga bisa diakses dan dinikmati oleh para tamu hotel.

”Ini jelas ada nilai komersialnya, karena tamu hotel melakukan pembayaran atas kamar hotel yang mereka tempati. Sehingga di situlah nilai komersialnya secara otomatis muncul, karena ada transaksi,” terangnya.

Tubagus menuding, pihaknya mengaku telah melakukan sosialisasi terhadap hotel-hotel di Kota Semarang terkait izin penayangan siaran World Cup 2014. Baik untuk kegiatan nonton bareng maupun penggunaan tayangan siaran piala dunia untuk commercial area, seperti kamar hotel.

Namun berdasarkan hasil pantauan tim monitoring pihak PT Nonbar di Kota Semarang, menemukan banyak bukti pelanggaran yang dilakukan oleh lima hotel dan showroom Sun Motor. ”Sebelumnya, kami juga sudah melakukan somasi kepada lima hotel dan Sun Motor. Tapi kebanyakan tidak digubris,” katanya.

Atas kasus ini, lanjut Tubagus, pihak PT Nonbar mengalami kerugian senilai Rp 5 miliar. ”Begitu pun yang terjadi di Sun Motor, jelas-jelas menggunakan content siaran pertandingan Piala Dunia 2014 untuk kepentingan acara nonton bareng di showroom mereka tanpa izin dari PT Nonbar,” katanya.

Kuasa Hukum PT Nonbar, Wahyu Priyanka mengatakan, kelima hotel serta showroom Sun Motor tersebut melanggar UU Nomor 19 Tahun 2012 Pasal 49 tentang hak cipta dengan ancaman 7 tahun penjara dan denda Rp 5 miliar.

Dikatakan dia, sejumlah hotel lain di Kota Semarang, selain lima hotel tersebut, tidak ada masalah terkait perizinan penayangan piala dunia 2014. ”Kami sudah melakukan langkah somasi, tapi pihak terlapor malah mengatakan bahwa kamar hotel tidak komersial. Ini kan penyataan lucu,” katanya.

Dia menjelaskan, terkait dugaan pelanggaran hak penayangan siaran piala dunia di area komersial ini tidak hanya dilayangkan kepada lima hotel di Kota Semarang. Bahkan sebelumnya, juga telah dilaporkan sebanyak 20 hotel di Bali dan 16 hotel berbintang di Jogjakarta. ”Kami akan terus melakukan langkah upaya hukum terkait pelanggaran ini, agar masyarakat Indonesia semua tetap tertib dan taat hukum,” imbuhnya.

Sementara itu, Pimpinan Cabang Sun Motor Semarang, Samuel W Suswanto saat dikonfirmasi Radar Semarang membenarkan bahwa pihaknya telah menerima somasi dari pihak PT Nonbar. Ia juga mengakui bahwa tanggal 13 Juli 2014, Sun Motor menggelar acara nonton bareng di halaman kantor Sun Motor di Jalan MT Haryono No 1012 Semarang.

”Somasi itu berisi seolah-olah kami melanggar (atas acara nonton bareng, Red). Kami menggelar acara nonton bareng itu tidak ada hubungan atau bernilai entertain. Ini murni unsur ketidaktahuan kami atau bukan kesengajaan,” kata Samuel.

Anehnya, pada saat itu, ada orang dari pihak PT Nonbar merekam acara nonton bareng di halaman Sun Motor. Tapi tidak mengingatkan atau memberitahukan perihal aturan nonton bareng. ”Acara kami direkam, kemudian itu menjadi dasar somasi bahwa seolah-olah kami melakukan pelanggaran,” terangnya.

Pihaknya juga mengaku telah merespons terkait somasi yang dilayangkan oleh pihak PT Nonbar. Di antaranya diminta melakukan pernyataan atau permintaan maaf melalui media cetak. ”Pada tanggal 3 Oktober dan 7 Oktober, kami telah meminta maaf melalui media cetak, berdasarkan permintaan PT Nonbar,” katanya.

Samuel menegaskan, acara nonton bareng final piala dunia 2014 di Sun Motor dari segi lokasi memang berada di tempat komersial, tapi tidak bernilai komersial. ”Itu acaranya sambil buka bersama. Kami tidak mengomersialkan. Jika acara itu dilakukan di tempat komersial, itu ketidaktahuan kami atau tidak ada unsur kesengajaan,” katanya. Pihaknya terkait kasus ini menyatakan tetap berniat baik untuk memenuhi permintaan maaf.

Sedangkan Manager Marketing Hotel Pandanaran Semarang, Mytha Adelina mengatakan bahwa siaran televisi di kamar hotel adalah salah satu fasilitas yang diberikan pihak hotel kepada konsumen. ”Tapi saya tidak tahu apakah ada siaran piala dunia di setiap kamar atau dimatikan pihak provider televisi kabel atau tidak, saya kurang tahu,” akunya.

Terpisah, Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Jateng, Kombes Djoko Purbo Hadijoyo mengatakan, pihaknya masih melakukan tahap klarifikasi, kemudian dilakukan pendalaman terhadap kasus ini. ”Kami masih melakukan klarifikasi. Di antaranya mengumpulkan data-data terkait kasus ini. Belum diselidiki,” kata Djoko saat dikonfirmasi melalui telepon tadi malam.

Hingga saat ini, pihaknya baru menerima informasi dari pihak yang mengaku sebagai korban. ”Sementara ini belum resmi kami tangani, karena masih mendalami informasi. Jika data-data telah lengkap, selanjutnya akan dilanjutkan tahap penyelidikan apakah nantinya ditemukan unsur pidana atau tidak,” katanya. (mg5/den/ida/ce1)