Prasasti Pengayoman Berangka 784 Saka

454

ABAZ ZAHROETIN/RADAR KEDU BACA PRASASTI : Petugas BPCB dan Balar tengah mengkopi tulisan dari batu prasasti yang ditemukan di Pendopo Pengayoman.
ABAZ ZAHROETIN/RADAR KEDU
BACA PRASASTI : Petugas BPCB dan Balar tengah mengkopi tulisan dari batu prasasti yang ditemukan di Pendopo Pengayoman.

TEMANGGUNG–Wasti Cakrawarsa Tita. Itulah tulisan pada baris pertama prasasti Pengayoman yang ditemukan para pekerja penggali pagar Pendopo Pengayoman beberapa waktu lalu. Prasasti yang dimaksud, akhirnya berhasil dibaca oleh tim gabungan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah dan Balai Arkeologi Jogjakarta, Senin (13/10) siang kemarin. Selain temuan tulisan tersebut, juga dibaca angka tahun pada prasasti, yakni 784 saka.
Ketua Tim Balai Arkeologi Yogyakarta, Sugeng Riyanto mengatakan, kedatangan tim untuk mengecek keberadaan temuan tersebut. Ternyata benar. Batu yang ditemukan merupakan sebuah prasasti. Rangkaian kalimat isi ceritanya, menggunakan huruf Kawi. “Sekarang, proses membaca isi prasasti, sementara baru terbaca angka tahunnya 784 saka atau 862 masehi,” kata Sugeng.
Sugeng memperkirakan, sebagian isi prasasti zaman Mataram Kuno itu sudah aus. Isi prasasti belum bisa dikaitkan dengan periode tersebut. Di Temanggung sendiri, ada situs semasa Pikatan, Gondosuli, dan mungkin Liyangan. Situs-situs yang dimaksud, diduga juga masuk pada masa tersebut.
“Apakah ada kaitan dengan Pikatan atau situs yang lain, kita belum tahu. Kami berharap nanti bisa membaca isi prasasti, sehingga akan tahu kaitannya dengan situs mana,” beber Sugeng.
Ia mengatakan, sementara tulisan prasasti disalin dengan cara apklat. Yakni, selembar kertas ditempelkan di atas tulisan prasasti, kemudian diolesi tinta. Sebenarnya, ada beberapa cara membaca isi prasasti. Dibaca langsung dari prasasti, membaca apklatnya, atau melalui hasil fotonya. “Prasasti tersebut, terbuat bukan dari batu andesit, warnanya putih, tapi bukan batu kapur.”
Anggota Tim Balar Yogyakarta Agni Cesaria Muchtar mengatakan, belum banyak yang bisa dibaca pada prasasti tersebut.
“Pada baris pertama seperti pada kebanyakan prasasti diawali dengan kalimat, seperti pada prasasti serupa diawali dengan kalimat wasti cakawarsa tita. Artinya, selamatlah tahun saka yang telah lewat,” tandasnya. (zah/isk)