Gara-Gara Usil, Siswa SD Dikeluarkan

298

MUNGKID– Mha, 12, siswa SD N Windusari I Kabupaten Magelang dikeluarkan dari sekolahnya. Kebijakan itu diduga hanya karena tindakan nakal siswa kelas IV ini.
Menurut keterangan orang tuanya, Mha tiba-tiba diberikan surat pengantar pindah ke sekolah lain. Surat pengantar pindah tertanggal 27 September 2014 ditandatangani oleh Kepala SD Windusari I, Suadi.
“Yang membuatkan surat pihak sekolah. Karena saya orang bodoh dan tidak mampu ya saya tanda tangani saja,” kata orang tua siswa di rumahnya, Kamis (16/10).
Dengan berat hati, dia kemudian menerima kepindahan itu. Anaknya kemudian menjadi siswa sebuah madrasah ibtidayah (MI). Namun, baru dua hari bersekolah di MI tersebut, ternyata anak itu dikeluarkan. “Alasanya gara-gara ada SMS yang dikirimkan ke salah satu guru MI tersebut yang melarang menerima anak saya. Akhirnya dia dikeluarkan,” jelasnya.
Dia sendiri tak mengerti anaknya mendapat perilaku seperti itu. Hanya karena anaknya melakukan perbuatan usil pada rekan sekolahnya di SD Windusari I.
Peristiwa itu bermula ketika Mha diduga telah menyogok pantat temannya Mdm pada 20 September lalu. Dia melakukan hal itu dengan jempol tangannya, ketika rekannya hendak ganti baju olahraga.
Mha menyangkal dituduh menyogok pantat temannya. Menurut dia, ketika itu beberapa murid kelas IV bergurau di kelas. “Saya difitnah. Padahal saya tidak melakukannya,” aku siswa tersebut.
Saat ini, Mha akhirnya menganggur dan tak sekolah. Selama menunggu mencari sekolah baru dia membantu keluarganya. Anak saya membantu bapaknya mencari rumput dan kayu,” jelasnya.
Paman Mha menilai, dalam kasus itu ada unsur ketidakadilan yang dilakukan sekolah. Seharusnya, sekolah bisa membimbing siswanya. Paman Mha juga mempertanyakan apakah ponakannya benar berbuat seperti yang dituduhkan apa tidak. “Perlu dibina dulu tidak harus langsung dikeluarkan,” katanya.
Terpisah, Kepala SD Windusari 1 Suadi mengatakan sebenarnya pihak sekolah masih bersedia membimbing anak itu. Hanya saja, orang tuanya menyetujui pemindahan anaknya itu. “Saat itu hanya tawaran,” katanya.
Atas tawaran tersebut, keluarga diberi waktu untuk bermusyawarah dengan suaminya. Selanjutnya ibu Mha, memilih hendak memindahkan anaknya ke MI. “Soal ada intervensi dari pihak lain saya tidak tahu,” kata dia. (vie/ton)