Perda Miras Perlu Direvisi

357

MUNGKID—Majelis ulama indonesia (MUI) Kabupaten Magelang mendorong pemerintah merevisi peraturan daerah (perda) tentang minuman keras. Peraturan yang saat ini berjalan dinilai lemah dalam pemberian sanksi.
”MUI meminta adanya tinjauan ulang pada sanksi bagi pelanggar karena tidak menimbulkan efek jera,” kata Sekretaris MUI Kabupaten Magelang Chamami, Kamis (16/10).
Dia menjelaskan, melalui Perda nomor 12 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Minuman Beralkohol sebagai pengganti Perda nomor 4 Tahun 2002 tentang Minuman Keras/Beralkohol, dalam pasal 13 ayat 1 menegaskan larangan untuk melakukan kegiatan produksi, peredaran, penjualan, penimbunan, penyimpanan, pengoplosan, dan atau konsumsi minuman keras/beralkohol dengan kadar ethanol di atas 5 persen. Menurutnya, perlu adanya tinjauan ulang efektivitas perda tersebut terkait sanksi bagi pelanggarnya. Sesuai bunyi pasal 19 ayat 1, setiap orang atau badan yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 dan pasal 13 dikenakan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 50 juta.
“Besaran sanksi ini diperkirakan tidak menimbulkan efek jera. Sebab, jika dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh dari penjualan miras, maka membuat si penjual sulit berpaling dari usahanya tersebut,” jelasnya, kemarin.
Sanksi yang tidak menimbulkan efek jera itu, katanya, terbukti pada penjual miras Sarjono, warga Glagah I, Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan yang ikut tewas usai pesta miras. Sebelumnya ia pernah dihukum karena miras oplosannya menewaskan 4 orang. Bebas dari hukuman, yang bersangkutan kembali menjual miras oplosan dan menimbulkan korban lebih besar, sampai menewaskan 12 orang.
Untuk itu, dia mendorong pemkab merevisi perda tersebut. ”Kepada Pemkab maupun DPRD saya meminta secara khusus untuk ditinjau kembali peraturan daerah itu. Karena persoalan minuman keras ini sudah sangat meresahkan,” ungkapnya.
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Jawa Tengah, Kombes Rini Muliawati mengatakan, pihaknya sempat diminta bantuan untuk melakukan otopsi terhadap dua mayat dari 12 korban miras oplosan di Magelang. “Namun hasilnya seperti apa, masih dalam proses penelitian,” ungkap Rini Muliawati dalam siaran persnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, pesta miras jenis oplosan di Kecamatan Tempuran, Mertoyudan dan Kecamatan Salaman telah merenggut 12 nyawa. Para korban sebelumnya dikabarkan menenggak miras oplosan jenis arak yang dicampur dengan minuman ringan dan minuman suplemen.
Penyebab kematian pesta minuman keras di Magelang menurut Rini Muliawati bukan karena faktor minuman bersoda yang dikonsumsi para korban. Minuman berkarbonasi dinilai tidak memberikan efek stimulan. (vie/ton)