Ketika Proyek Galian C Tidak Terkendali

562
ADIT/RADAR SEMARANG
ADIT/RADAR SEMARANG

Menelusuri keberadaan proyek galian C di Kota Semarang, tidaklah susah. Ada beberapa tempat yang sangat mencolok ketika melintas di jalan-jalan. Ironisnya, meski sempat dilarang oleh pemerintah, namun proyek tersebut masih tetap berjalan hingga sekarang.Hanya saja untuk menghindari razia, para pekerja kadang diliburkan, kadang operasional lagi. Alias kucing-kucingan.

SALAH satu tempat yang kembali ditelusuri Radar Semarang adalah proyek galian C di Bukit Penempen Kelurahan Sukorejo Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Memasuki kawasan tersebut cukup sulit, karena harus melewati jalanan berbatu dan berdebu. Mungkin hal itu disebabkan banyaknya truk yang melintas dengan kapasitas yang melebihi beban yang disyaratkan.

Sesampai di lokasi, pemandangan yang luar biasa tampak di depan mata. Sebuah bukit yang menjulang tinggi dengan pepohonan yang tumbuh di sekitarnya, kini sudah tidak terlihat lagi. Yang ada hanyalah dataran gersang yang gundul dari pepohonan. Tidak heran, jika ada sebagian anak muda yang mengabadikan momen tersebut dengan foto selfie bersama teman-temannya.

ADIT/Radar Semarang
ADIT/Radar Semarang

Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Semarang dari warga sekitar, proyek tersebut telah berhenti sejak bulan Ramadan yang lalu. Namun hal itu, tidak lantas menghentikan seluruh aktivitas di bukit tersebut. Memang benar kawasan itu telah ditutup dengan adanya bambu yang melintang di pintu masuknya. Namun, dengan tidak adanya penjagaan, setiap saat bambu tersebut dapat disingkirkan.
”Memang sudah sering begitu (buka tutup, Red). Ketika ada satpol PP di sini, tidak ada kegiatan sama sekali. Namun selang beberapa hari, tiba-tiba backhoe datang untuk melakukan pengerukan,” ungkap Parmin, 54, warga setempat.

Dikatakan dia, sebenarnya sebagian besar warga tidak menghendaki adanya proyek tersebut. Hal ini tidak lepas dari akibat yang ditimbulkan yakni banyaknya debu yang berterbangan dan jalanan menjadi licin serta rusak. Selain itu, mereka juga mengaku tidak pernah dilibatkan ketika proyek sedang berjalan. ”Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau boleh berharap, mendingan dihentikan selamanya saja,” imbuhnya.

Hal terbesar yang paling mereka khawatirkan jika proyek tersebut masih terus berjalan adalah ketika datangnya musim penghujan. Sebab tanah yang terus dikeruk lama-lama akan menjadi longsor. Selain itu, karena tidak ada pepohonan yang mampu menahan air hujan, maka potensi terjadinya banjir sangat besar. ”Itu yang selalu kami resahkan selama ini,” ungkap Agus, 35, warga lain menambahkan.
Diungkapkan, dampak yang telah mereka rasakan saat ini adalah ketika proyek tersebut beroperasi, maka akan banyak ceceran tanah di jalanan. Selain itu, banyaknya debu yang beterbangan turut mengganggu penglihatan. Sehingga, jika tidak ekstra hati-hati akan sangat membahayakan para pengguna jalan.

”Biasanya untuk menyiasati hal tersebut, kami sengaja menyiramkan air agar kondisi menjadi normal,” imbuh warga yang sehari-hari menjajakan dagangannya di wilayah tersebut.
Mereka berharap pihak pemerintah segera mengambil sikap atas permasalahan tersebut. Jika memang proyek itu dilarang, harus ditindaklanjuti dengan pengawasan serta aturan yang tegas. ”Jangan sampai hanya karena keuntungan sesaat, dampak kerusakan lingkungan yang sangat besar terjadi pada masa depan. Kasihan nanti anak cucu kami,” pungkas Agus.

Sedangkan penggalian galian C di Rowosari, masih banyak antrean truk yang keluar masuk dengan membawa urugan tanah. Ketika Radar Semarang melihat langsung di lokasi, panas matahari yang begitu menyengat tidak membuat para penggali tanah menyerah. Proses penggalian dilakukan dengan cara manual dan menggunakan peralatan seadanya, seperti linggis, cangkul dan sekop untuk memasukkan ke dalam truk.

Lebih berbahaya lagi, medan jalan yang dilalui truk di sekitar penggalian. Selain tidak bisa digunakan untuk bersimpangan, sebelah kanan dan kiri jalannya truk berupa jurang berkedalaman 10 meter lebih. Jika sang sopir tak memiliki keahlian tertentu dan ektra hati-hati, nyawa taruhannya.

Jika musim kemarau, bertaburan banyak debu. Namun kalau musim penghujan, jalangan menjadi licin. Sehingga banyak pekerka yang lebih memilih berhenti dan libur. “Biasanya kalau hari Minggu kami libur, karena waktunya untuk keluarga. Untuk hari biasa penambangan dilakukan mulai pukul 08.00 sampai pukul 16.30,” kata salah satu pekerja, Ry, 35, kemarin.

Dalam mengangkut tanah tiap harinya bisa mendapatkan 3 sampai 4 rit. Dan harga satu rit truk dengan berat 78 meter3 harganya Rp 80 ribu, tetapi untuk truk kecil 45 meter3 harganya Rp 70 ribu. “Ada perbedaan harga. Selepas dari lokasi penggalian, sopir bisa menentukan harga jual lebih besar lagi. Tapi kami tidak tahu,” katanya
Sedangkan menggunakan alat manual satu truknya hanya Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu. “Kalau menggunakan alat seadanya, harganya bisa berkurang. Misalnya, menggunakan linggis atau sekop,” kata salah seorang warga Rowosari Krajan, Mahmud, 34, kemarin.

Menanggapi galian C tersebut, salah seorang warga Kelurahan Rowosari, Rohadi, 45, mengeluh bahwa truk pengangkut tanah di lokasi tersebut merusak jalan. Apalagi pada musim kemarau, benar-benar menganggu. “Selain karena debunya yang berterbangan, warga harus rutin menyiram air,” katanya.

Karena terganggu, warga akhirnya memasang tarif untuk truk yang lewat di kampung dengan harga Rp 20 ribu untuk sekali lewat. Tetapi untuk sepeda motor dan mobil pribadi, tidak dikenai biaya. “Soalnya, warga sudah merasa jengkel dengan truk yang membawa tanah urugan karena merusak jalan,” katanya.

Tidak hanya itu, beberapa truk yang lewat tidak ditutup terpal sehingga ketika ada angin, tanah tersebut terbang berhamburan sehingga menganggu warga. “Harusnya truk tersebut ditutup terpal agar tanahnya tidak berhamburan,” akunya.

Menanggapi hal itu, pakar Tata Kota Universitas Diponegoro (Undip), Imam Buchori mengatakan bahwa peraturan daerah (Perda) khusus yang mengatur galian C harus segera diterbitkan oleh Pemkot Semarang. Apalagi praktik penambangan liar di Kota Semarang cenderung menyepelekan peran pemerintah.

”Selama ini, memang belum ada sanksi yang jelas. Apalagi penindakan juga terkesan tidak ada, karena terganjal aturan hukum yang belum jelas pula,” kata Imam kepada Radar Semarang, beberapa waktu lalu.

Dikatakan, aturan yang digunakan lebih banyak menggunakan Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang tidak jelas mengatur hal itu. Jika ada beberapa penindakan yang bersifat penutupan, biasanya terkait pelanggaran perdata/pidana atau sengketa pemilikan wilayah. Imam menegaskan, kebutuhan Perda Galian C memang mendesak.

”Selama ini, pemkot belum memiliki perda tersebut. Tapi sebenarnya, untuk menindak praktik galian C, tak harus menunggu perda. Dinas terkait bisa berkoordinasi dengan kepolisian guna melakukan penindakan atas pelanggaran yang lain. Misal pelanggaran lalu lintas atau perusakan lingkungan,” kata dia.

Selain itu, dampak lingkungan yang disebabkan oleh praktik penambangan liar atau galian C sendiri sangat besar. ”Sebetulnya haruslah dilakukan analisis yang jelas, menimbang untung ruginya. Yang dikhawatirkan ada orang dalam yang juga ikut main di penambangan tersebut,” lanjut Imam.

Penambangan di dalam Kota Semarang khususnya, menurut Imam harus ditentang dengan keras. Selain mengganggu aktivitas yang dilakukan oleh warga, aktivitas penambangan merupakan musuh langsung lingkungan.

”Saat ini, terkesan masih sembarangan. Setiap ada tanah ataupun bukit kosong dan pemiliknya bersedia menjual, maka dilakukan penambangan. Bahkan, lahan produktif juga ditambang, karena pemiliknya tergiur harga jual,” ungkapnya. (fai/hid/ewb/ida/ce1)