Bunuh Kuman dan Bakteri hingga 98 Persen

878
Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang
Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang
KREATIF: Dimas Panji dan Heru Yulianto menunjukkan hasil temuannya yaitu almari UV, kemarin. (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)

BAGI kebanyakan orang, menggunakan peralatan makan yang sudah dicuci sudah dianggap tindakan higienis. Namun, bagi lima siswa kreatif asal SMK N 7 Semarang ini, mencuci peralatan makan dengan sabun cuci khusus saja, masih meninggalkan kuman dan bakteri yang dapat membahayakan tubuh manusia. Apalagi, jika peralatan makan yang diletakkan di tempat terbuka, lebih rentan terhadap kuman dan bakteri. Lantaran, debu dan kuman tidak dapat terlihat di peralatan makan.

Karena itulah, 5 siswa kelas 11 jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL) SMK N 7 Semarang, yaitu Dimas Panji, Donny Mareza, Heru Yulianto, Fauzan Kuspriatmaja, Tegar Sigit, ingin mengubah persepsi masyarakat luas tentang higienitas melalui almari Ultravioletnya (UV).
Berawal dari ide sederhana tersebut, lima siswa kreatif ini lantas menciptakan almari yang dilengkapi dengan sinar UV yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama dalam membunuh bakteri dan kuman pada peralatan makan.

Meski masyarakat belum banyak mengetahui manfaat sinar UV, namun lima siswa kreatif ini melalui penemuannya ingin menginformasikan kepada masyarakat luas bahwa sinar UV tidak hanya mempunyai sifat yang membahayakan, namun dapat memberikan manfaat yang luar biasa.

Hanya bermodal swadaya masing-masing siswa yang mencapai Rp 1,2 juta, lima siswa kreatif ini mampu menciptakan sebuah teknologi masa depan yang sebelumnya belum pernah terpikirkan oleh orang lain.

Dikatakan dia, almari UV ini baru diproduksi satu unit. Menurut rencana akan diproduksi masal sehingga teknologi ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. ”Nanti akan kami hak patenkan, agar dapat dikomersialkan karena sudah diuji di laboratorium kota,” kata Heru, Senin (20/10).
Dibandingkan dengan sabun cuci, almari UV ini dapat membunuh kuman dan bakteri hingga 95 persen. Tidak hanya itu, almari yang dilengkapi dengan tempat peralatan makan ini juga hemat listik. Adapun daya yang dibutuhkan sangat sedikit yaitu 40 watt.

”Keefektifannya dapat membunuh semua kuman dan bakteri. Kalau di lemari biasa jumlah kuman sampai 13 koloni dengan berbagai jenis, namun dengan alat ini dapat terbunuh hingga 95 persen,” katanya.

Dimas mengatakan, besar kecil almari UV dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan pesanan dari konsumen. Adapun komponen almari UV tersebut yaitu almari kaca, lampu UV, dan sensor yang dapat mematikan lampu secara otomatis jika pintu almari dibuka maupun ditutup. ”Sehingga tangan yang masuk aman, karena jika ditutup akan hidup sendiri dan jika dibuka sinar UV akan mati sendiri,” katanya.

Heru mengaku, dalam pembuatan lemari UV ini, ia tidak menemui kendala berarti. ”Bahan-bahan sudah tersedia banyak di toko-toko. Tinggal beli. Namun harus mengatur waktu sebaik mungkin agar tidak mengganggu jam belajar kami,” timpal Dimas.

Heru menjelaskan pembunuh bakteri ini dihasilkan pada panjang gelombang 254 nanometer dan dikenal sebagai UVC. Sinar UV pada panjang gelombang ini akan menghancurkan DNA dari microorganism. ”Alat ini telah dites dan sangat aman dengan menggunakan lampu seperti lampu neon untuk menghasilkan UVC dan membunuh bakteri, virus dan jamur,” kata Dimas.

Sinar UVC ini akan melakukan penetrasi dalam sel membran microorganism, mencapai DNA-nya dan menghancurkan mircroorganism sehingga tidak dapat berkembang biak. Tindakan cuci tangan yang dilakukan oleh kebanyakan orang sebelum makan, menurut lima siswa yang sudah menginjak kelas XI ini merupakan tindakan yang masih kurang steril.

”Karena kebanyakan orang ketika makan, tangannya tidak bersentuhan langsung dengan makanan, justru lebih banyak menggunakan peralatan makan. Nah itu yang berbahaya. Karena kuman dan bakteri menempel bebas di peralatan makan itu,” pungkas Dimas. (*/ida/ce1)