Wali Kota Larang Sambung Listrik Sembarangan

366
HUMAS 03
HUMAS 03
HUMAS 03

PUING-PUING: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat meninjau lokasi kebakaran di RT 2 RW 7 Kampung Gendakan, Semarang Tengah, kemarin. (HUMAS 03)

JAGALAN – Banyaknya kasus kebakaran yang melanda sejumlah bangunan rumah di Kota Semarang, faktor pemicunya adalah arus pendek listrik atau korsleting. Seperti peristiwa kebakaran yang meludeskan tujuh bangunan rumah di kampung Gendakan RT 2 RW 7, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Semarang Tengah, Sabtu (18/10) lalu.

Peristiwa tersebut mengundang keprihatinan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. Sore kemarin (20/10), Hendi, sapaan akrab wali kota, beserta jajarannya mengunjungi korban kebakaran. Data lapangan menyebutkan bahwa dari tujuh bangunan rumah yang terbakar, dihuni sekitar 12 kepala keluarga (KK) atau 43 jiwa. Tiga hari pasca kebakaran, puluhan warga sementara menghuni bangunan satuan pendidikan milik Yayasan Muhammadiyah yang berada persis di depannya.

Suasana masih diselimuti kesedihan. Mereka hanya bisa menatap puing-puing bangunan yang telah ludes dilalap si jago merah. Kondisi bangunan rumah memang sudah memprihatinkan, hanya menyisakan sebagian fondasi tembok. Bangkai sepeda, sisa kain kasur yang terbakar, dan peranti lainnya masih terlihat di lokasi. Para korban kebakaran kini hanya mengandalkan bantuan orang lain untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

”Melihat korban kebakaran di Semarang Tengah ini, problemnya ternyata korsleting listrik. Setelah kami pelajari, banyak tumpukan saklar yang tidak rapi. Itu membuktikan masih cukup banyak warga yang kurang paham atau keliru dalam menggunakan listrik secara benar dan aman,” terang wali kota di sela kunjungannya.

Hendi mengimbau kepada seluruh masyarakat Kota Semarang untuk tidak sembarangan melakukan penyambungan instalasi listrik. Hal itu ditekankan juga oleh tokoh masyarakat setempat. ”Selalu saya sampaikan kepada tokoh masyarakat dalam setiap kesempatan, baik itu pertemuan tingkat RT maupun pertemuan sekecil apa pun. Saya selalu memberikan pemahaman kepada tetangganya supaya bisa memakai listrik dengan hemat, baik, dan selalu melihat instalasi listrik. Karena itu bagian yang harus diperhatikan dan dirawat,” imbaunya.

”Mudah-mudahan dengan langkah preventif yang baik, tidak menimbulkan peristiwa kebakaran seperti yang terjadi baru-baru ini di Kota Semarang,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, wali kota juga memberikan bantuan berupa uang senilai Rp 35 juta. Dana tersebut diharapkan bisa dimanfaatkan warga untuk perbaikan rumah yang terbakar. Sebelumnya pemkot juga telah memberikan bantuan berupa sembako.

”Sudah mulai hari Minggu lalu, mulai dari sembako, dapur umum, hingga kerja bakti dengan melibatkan masyarakat, utamanya Koramil dan Polsek. Hari ini (kemarin, Red) kami juga memberikan bantuan Rp 35 juta untuk perbaikan rumah. Kalau dihitung per rumah masing-masing mendapat Rp 5 juta. Mudah-mudahan uang itu dijadikan satu untuk dibelikan material agar bisa segera ditempati,” tandasnya.

Diketahui, peristiwa kebakaran terjadi pada hari Sabtu (18/10) sekitar pukul 15.00. Diduga percikan api berasal dari kipas angin milik salah seorang penghuni rumah. ”Sedang memasak, kipas anginnya ambruk, tidak tahu kenapa tiba-tiba kabel dari kipas itu korsleting. Kipas itu ada di rumah Pak Kasmidi,” kata Agus Suhendro, warga sekitar.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Jagalan, Fachri menambahkan bahwa peristiwa itu baru kali pertama terjadi di kampungnya. Ada tujuh rumah yang terbakar. ”Tujuh rumah itu dihuni 12 KK atau 43 jiwa. Kami berharap peristiwa ini tidak terjadi lagi dan saya berharap warga juga bisa lebih berhati-hati dalam menyambung instalasi listrik,” imbuhnya. (zal/ida/ce1)