Warga Pasrah

357
ADA FOTO
ADA FOTO
ADA FOTO

KRAPYAK – Persoalan kemacetan di sejumlah titik di Kota Semarang masih menghantui aktivitas setiap hari. Sejumlah warga mengaku pasrah, meski sebenarnya persoalan kemacetan menjadi hal yang sungguh menyebalkan.

Seperti halnya kemacetan di Krapyak, tepatnya di depan pintu tol Krapyak. Berdasarkan pantauan Radar Semarang, hingga saat ini, kemacetan di jalur Krapyak tersebut masih menjadi keluhan warga setiap hari.

Terutama pada jam-jam sibuk, atau jam berangkat kerja, pagi sekitar pukul 07.00 hingga pukul 09.00. Ataupun jam pulang kerja, mulai pukul 16.00 hingga pukul 21.00. Tumpukan kendaraan yang menyumbat di jalur tersebut membuat pengendara yang melintas kesal.

”Apa boleh buat, meski setiap hari macet, terpaksa harus sabar. Sebenarnya ya jengkel. Kerja sering terlambat, apalagi banyak polusi debu jelas membuat tidak nyaman,” ungkap Yudi, 40, warga Margoyoso RT 4/RW 5 Tambak Aji, Ngaliyan.

Menurutnya, seharusnya pembangunan jalan seperti pengecoran di jalur tersebut mempunyai alokasi waktu yang jelas agar tidak terlalu lama. ”Pengecoran jalan tersebut targetnya butuh waktu berapa bulan? Itu yang harus dipertimbangkan. Kalau bisa harus kejar target, biar cepat jadi. Masyarakat kecil seperti kami ya tidak bisa apa-apa. Tapi kena imbasnya berupa kemacetan setiap hari,” katanya.

Begitu pun, Catur, 24, warga Ngaliyan, dia juga mengaku kesal karena setiap hari mendapati pemandangan kemacetan. ”Kalau motor sih masih lumayan, tapi kalau mobil wah bisa sampai sejam macetnya,” ujarnya.

Selain keduanya, banyak warga mengeluhkan persoalan kemacetan di Jalan Krapyak tersebut. Bahkan hingga saat ini kian parah, hampir setiap hari, kemacetan di Krapyak membuat pengendara yang melintas harus bersabar entah sampai kapan.

Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Jateng AKBP Dhani Hernando menjelaskan, pihaknya mengaku telah banyak menerima keluhan dari masyarakat terkait kemacetan arus lalu lintas di Krapyak tersebut. ”Kami sudah menerjunkan sebanyak 24 personel sebagai upaya membantu mengurai kemacetan, khususnya di Krapyak tersebut,” katanya, kemarin.

Dijelaskan, selama ini persoalan kemacetan di Krapyak tersebut telah ditangani tim Satlantas Polrestabes Semarang. ”Kami hanya mem-back up Polrestabes Semarang untuk mengurai persoalan kemacetan di Krapyak,” ungkapnya.

Dikatakannya, kemacetan tersebut disebabkan karena adanya proyek pengecoran jalan di jalur tersebut yang tak kunjung selesai. ”Kami juga belum tahu kapan pengecoran jalan di jalur itu selesai. Kami hanya mengurai persoalan kemacetan lalu lintas. Soal kapan pengecoran selesai kan bukan kewenangan kami,” ujarnya.

Menurutnya, selain disebabkan karena adanya proyek pengecoran jalan, ada traffic light yang jaraknya berdekatan, yakni traffic light pintu keluar tol Krapyak, Jalan Gatot Subroto dan Jrakah. ”Sehingga arus lalu lintas mudah tersumbat. Kendaraan yang berasal dari tol atau menuju ke arah Jakarta terhambat,” katanya.

Selain itu, kondisi jalan setelah lepas dari traffic light Jalan Gatot Subroto menanjak. Sehingga hal itu mengakibatkan kendaraan angkutan barang berjalan lambat. ”Hal itu mengakibatkan terjadi penumpukan arus lalu lintas. Paling parah sekitar pukul 07.00 sampai pukul 10.00 dan sore mulai pukul 04.00 hingga malam sekitar pukul 21.00. Petugas kami berjaga selama 24 jam secara shift,” ujar Dhani.

Lebih lanjut dikatakannya, adanya pengecoran jalan di sepanjang jalur, antara pertigaan Jrakah sampai pintu keluar tol Krapyak, mengakibatkan adanya penyempitan di sepanjang jalur tersebut. Hal itu mengakibatkan perlambatan laju kendaraan.

”Selain itu, jalur tersebut merupakan daerah kawasan industri yang dilewati kendaraan angkutan barang seperti trailer, truk gandeng, kontainer, dan lain-lain. Sejumlah kendaraan barang tersebut keluar masuk kawasan industri. Makanya mengakibatkan antrean kendaraan di jalur utama,” imbuhnya.

Persoalan yang juga menyebabkan tersendatnya arus lalu lintas di jalur tersebut adalah adanya sejumlah agen tiket bus atau travel yang tidak memiliki lahan parkir. Sehingga menggunakan bahu jalan untuk parkir atau menaikkan dan menurunkan penumpang.

Selain itu, lanjutnya, jalur tersebut merupakan kawasan perkantoran, kampus, dan RSUD dr Adhyatma Tugurejo. Sehingga mengakibatkan banyaknya karyawan, mahasiswa, dan masyarakat yang keluar masuk di kawasan tersebut hingga mengakibatkan dampak terjadinya kemacetan. ”Kami juga memantau melalui CCTV selama 24 jam,” imbuhnya.

Sementara ini, lanjutnya, solusi untuk mengurai arus kemacetan dilakukan sistem buka tutup, pengemudi dari arah barat, atau arah Jakarta tidak bisa langsung masuk ke arah tol. Pengemudi dari arah Jakarta harus masuk ke dalam kota dulu, baru putar balik menuju pintu tol. ”Selain itu pengendara dialihkan ke jalur alternatif,” imbuhnya. (mg5/ton/ce1)