Fasilitas Minim, Penanganan Tak Optimal

374

BALAI KOTA – Fasilitas dan kapasitas panti rehabilitasi Amongjiwo, Ngaliyan, masih minim. Hal tersebut berdampak terhadap penanganan yang tidak optimal. Terbukti pengemis, gelandangan, orang telantar (PGOT) banyak yang kembali ke jalanan.

”Satu ruangan berukuran 4×5 meter idealnya diisi 10 orang. Namun seiring bertambahnya penghuni dan masih terbatasnya ruang kamar harus diisi 20 orang,” ungkap Kepala Panti Rehabilitasi Among Jiwa, Ngaliyan, M. Ridwan kepada Radar Semarang, Rabu, (22/10) kemarin.

Panti rehabiltasi Amongjiwo dibangun di atas lahan seluas 3.000 meter persegi dengan berbagai ruang bangunan. Hanya saja ruang penampungan pengemis, gelandangan dan pasien sakit jiwa hanya berjumlah 10 kamar penguni dan 10 kamar kecil. ”Ruang pasien yang sudah direhab baru 5 kamar, berkapasitas 8 orang dan sudah dilengkapai almari serta tempat tidur. Namun untuk 5 kamar penghuni gelandangan belum direhab,” imbuhnya.

Sementara ini masih banyak kendala lain seperti fasilitas transportasi, bangunan pembinaan dan sarana kegiatan seperti olahraga. Sampai sekarang ini, panti rehabilitasi Amongjiwo hanya memiliki 2 unit mobil tua tahun 1983 yakni mobil ambulan dan mobil pengangkut penghuni panti yang akan dibawa ke rumah sakit atau puskesmas. ”Saat ini penghuni terus bertambah yang tadinya hanya 90 orang kini mencapai 100 orang yang terdiri atas gelandangan dan pengemis 7 orang. Sedangkan penghuni sakit jiwa 93 orang,” keluhnya.

Ridwan menambahkan, ideal bangunan panti rehabilitasi diperkirakan mencapai luas 3-4 hektare. Akan tetapi panti rehabilitasi Amongjiwo hanya dibangun di atas 3000 meter persegi. Saat ini kekurangan fasilitas lain juga belum adanya ruang aula untuk seminar atau workshop. Selain itu tempat maupun fasilitas olahraga juga masih kurang. ”Kami belum memiliki ruang aula untuk sosialisasi pembinaan sehingga kami melakukan pembinaan di dalam ruang huni PGOT. Fasilitas olahraga juga hanya sebatas 1 alat tenis meja,” terangnya.

Sementara, Kadisospora Kota Semarang, Gurun mengatakan akan melakukan pembangunan untuk penampungan PGOT dan penyakit jiwa. Pembangunan nantinya dimulai tahun 2015.
”Nantinya akan kita pindahkan di Tembalang. Selain nantinya bangunan cukup luas, juga fasilitas seperti kesehatan dan sarana lainnya akan terpenuhi. DED sudah jadi,” jelasnya. (mg9/zal/ce1)