Dulu Primadona Jalanan, Sisakan Kenangan Sama Pacar

1167
TINGGAL KENANGAN: Bus tingkat yang menyisakan romantisme ribuan pelajar SMP, SMA, dan mahasiswa di Kota Semarang di era 1980-an, kini tinggal kenangan. (IST)
TINGGAL KENANGAN: Bus tingkat yang menyisakan romantisme ribuan pelajar SMP, SMA, dan mahasiswa di Kota Semarang di era 1980-an, kini tinggal kenangan. (IST)
TINGGAL KENANGAN: Bus tingkat yang menyisakan romantisme ribuan pelajar SMP, SMA, dan mahasiswa di Kota Semarang di era 1980-an, kini tinggal kenangan. (IST)

Ada sejarah jalanan di Kota Semarang yang hilang. Bagi pelajar maupun mahasiswa di era 1980-an, barangkali masih ingat dan merasakan romantisme bus tingkat yang penuh kenangan. Bahkan bus yang dikenal dengan sebutan bus kawin tersebut sempat menjadi primadona.

ABDUL MUGHIS
MENILIK sejenak ke masa silam, ternyata ada jejak sejarah di jalanan Kota Semarang yang hilang. Adalah Bus Tingkat atau bahasa kerennya Double Decker Bus. Sebuah transportasi di Kota Semarang yang fenomenal itu, kini tinggal kenangan.

Asyiknya jeng-jeng berkeliling kota menggunakan bus berlantai dua itu, membuat berjuta kisah tertinggal di sana. Tak heran, bus tingkat itu sempat menjadi primadona pelajar maupun mahasiswa di era 1980-an. Mulai sekadar mendapat kenalan, hingga kenangan kencan bersama pacar.

Bus yang dikelola Perusahaan Umum (Perum) Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (Damri) itu pernah menjadi transportasi andalan bagi masyarakat Kota Semarang. ”Saya masih ingat betul adanya bus tingkat di Semarang. Saya paling suka naik di lantai dua. Itu bus andalan yang penuh kenangan di era 1980-an. Kalau tidak salah, bus itu produk dari India,” ujar salah seorang warga Semarang, Karyono, 55, saat dimintai komentar Radar Semarang, kemarin.

Karyono menceritakan, kala itu, ia sering naik bus tingkat tersebut dari Terminal Induk Sentral di Bubakan, Semarang. ”Ya asyik banget, untuk jalan-jalan. Dulu, saya sering banget naik bersama teman-teman sekolah,” ujarnya.

Tarif perjalanan bus tingkat juga sangat murah. Untuk sekali jalan Rp 100. Pada periode berikutnya sempat naik menjadi Rp 125, Rp 150 dan Rp 200. ”Kalau pelajar malah lebih murah lagi, karena pakai sistem abonemen. Caranya mendaftar pakai kartu OSIS, kalau tidak salah bayarnya Rp 15 ribu sebulan,” katanya.

Begitu pun Iwan Muslimin, 45, warga Pondok Raden Patah RT 7/ RW 8 Kelurahan Sriwulan, Sayung, Demak. Dia mengaku masih sempat menikmati indahnya bus tingkat. ”Wah bus tingkat itu pernah jaya di Semarang, sangat menyenangkan. Dulu sering disebut bus kawin, karena bentuknya bertumpuk, atau tingkat,” katanya.

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, kemunculan bus tingkat di Indonesia tak lepas dari peran mantan Presiden Soeharto pada tahun 1983. Kala itu, pemerintah Indonesia mendapatkan hibah bus tingkat dari pemerintah Inggris dan Swedia. Ada dua merek yakni Volvo dan Leyland.
Di Kota Lunpia sendiri, bus unik itu muncul pada tahun 1980. Semarang mendapat jatah bus tingkat bermerek Leyland Atlanteans with Duple-Metsec Bodies.

Bus tersebut beroperasi pada masa pemerintahan Gubernur Jawa Tengah almarhum Soepardjo Rustam. Sedikitnya terdapat 15 unit bus dengan jurusan utama Ngaliyan-Simpanglima-Johar, dan Ngaliyan-Pelabuhan-Jatingaleh. Selain membawa prestise, bus tingkat juga dapat mengangkut penumpang lebih banyak.

Para pelajar SMP, SMA, SMEA hingga mahasiswa era 1980-an yang telah mendaftar, kemudian mendapat jatah 2 tiket setiap harinya, untuk berangkat dan pulang sekolah (Pulang-Pergi). Bahkan pelanggan setia bus tingkat ini mencapai ribuan.

Budayawan Semarang, Jawahir Muhammad mengakui romantisme bus tingkat di Kota Semarang. Dia termasuk pelaku sejarah yang sempat merajut kenangan masa remaja di dalam bus tingkat. ”Kemunculan bus tingkat saat itu mendapat respons luar biasa dari masyarakat. Selain murah, juga bisa memuat penumpang lebih banyak. Saya masih ingat, masuk bus kemudian naik tangga ke atas,” ungkapnya.

Jawahir mengakui, banyak kenangan saat menggunakan bus tingkat. Bahkan sejumlah kisah asmara semasa SMA terukir indah di dalam bus tingkat tersebut. ”Pernah juga kencan sama pacar naik bus tingkat. Waktu itu ke Taman Lele,” kata Jawahir yang kala itu pelajar di SMEA Negeri Semarang, mengenang.

Menurutnya, bus tingkat di Semarang tidak hanya berfungsi sebagai transportasi. Namun juga berfungsi sebagai sarana hiburan dan wisata bagi masyarakat Kota Semarang. ”Saya lihat, Damri yang saat itu sebagai pengelola transportasi kota cukup berhasil dan lebih efektif dibanding sekarang. Dulu, masyarakat bisa berlangganan setiap bulan, ada karcis langganannya juga,” katanya.

Pemkot Semarang seharusnya bisa menjaga aset-aset semacam itu. Di masa sekarang jika mau dikembangkan juga bisa. ”Tapi lebih baik dikelola khusus seperti Damri tempo dulu. Agar lebih fokus dan profesional. Bahkan kalau bisa, masyarakat bisa menikmati gratis seminggu sekali misalnya. Itu demi perkembangan wisata Kota Semarang. Rutenya misal; Sam Poo Kong, Kota Lama, Masjid Agung Jawa Tengah dan lain-lain. Itu barangkali yang belum terpikirkan oleh pemerintah saat ini,” cetusnya.

Sementara itu, aktivis dari Komunitas Pegiat Sejarah Semarang, Rukardi mengatakan bahwa hilangnya bus tingkat di Kota Semarang sangat disayangkan. ”Melihat kondisi saat ini, bus tingkat masih sangat relevan. Selain sebagai pengembangan transportasi masal dan wisata kota, ada faktor klangenan. Jadi, hilangnya bus tingkat itu sangat eman-eman,” katanya.

Menurutnya, bus tingkat di Kota Semarang perlu dimunculkan kembali untuk mendukung dan mengembangkan wisata Kota Semarang. ”Ya harus bikin lagi yang baru. Sekarang bangkai-bangkai bus tingkat itu ya sudah musnah entah ke mana,” ujarnya.

Sayangnya, peradaban zaman membuat bus tingkat itu tersisih. Sejak tahun 1990-an, bus tingkat Semarang dipindahkan ke Surakarta. Transportasi jalan di Kota Semarang kemudian berjejal taksi, angkot kecil, dan bus kecil yang lebih gesit ketimbang bus tingkat. (*/ida/ce1)