Kekurangan Beras 100 Ton per Tahun

329

SEMARANG – Kota Semarang ternyata mengalami krisis beras, sehingga dipasok dari luar daerah hingga 100 ton per tahun. Pasalnya, luas lahan 33 ribu hektare dengan lahan pertanian seluas 3.900 hektare dan sisanya tegalan dan sawah, banyak yang beralih fungsi jadi lahan industri.

”Memang Semarang bukan kota produksi beras. Akan tetapi penduduk selalu bertambah. Konsumsi beras per tahunnya mencapai 150 ton. Sedangkan di Kota Semarang sendiri hanya memiliki 30-40 ton setiap tahunnya. Sehingga mengalami kekurangan beras mencapai 100 ton lebih,” ungkap Wahyu Permata Rusdiana kepada Radar Semarang, Kamis (23/10) kemarin.

Dikatakan dia, untuk memenuhi kebutuhan pangan beras, Kota Semarang mendatangkan beras dari luar daerah Semarang, seperti Klaten, Boyolali, Demak dan Purwodadi. Hanya saja untuk mengangkat ketahanan pangan, pihaknya mengimbau kepada warga untuk mengoptimalkan lahan kosong mulai dari tingkat kelurahan yang ada di Kota Semarang.

”Masyarakat bisa memanfaatkan lahan kosong dengan menanam selain padi, seperti ketela, umbi-umbian atau palawija. Sehingga tidak hanya tergantung pada beras saja. Jadi kami tingkatkan hasil tanaman tersebut menjadi makanan produksi seperti ketela menjadi tepung mokaf, bahan kue kering atau kue basah yang bisa diproduksi ke hotel. Selain mendapatkan gizi juga memperoleh pendapatan tambahan,” terangnya.

Lanjutnya menambahkan, tanah persawahan di Kota Semarang yang masih potensial yakni Kecamatan Gunungpati, Mijen, Ngaliyan, Tembalang, Banyumanik, Genuk, Pedurungan, Semarang Barat dan Tugu. Sedangkan tanah ladang juga ada di Gunungpati.

”Tanah tegalan juga sama dengan tanah persawahan. Kami berharap, agar program ketahanan pangan ini berjalan, masyarakat bisa memanfaatkan dan mengoptimalkan tanah yang ada,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kota Semarang, Intan Indriawan mengatakan bahwa potensi tanaman umbi-umbian seperti ubi kayu, ubi jalar, ketela pohon, huwi dan gembili, bisa dijadikan bahan olahan pengganti beras.

”Karbohidrat tidak hanya beras, 100 gram nasi setara dengan 100 gram singkong, 50 gram jagung, 200 kentang, 150 ubi, 225, ganyong, 150 sukun. Kami juga akan mendorong kepada masyarakat mengonsumsi makanan alternatif, supaya kebutuhan makanan akan bertambah,” ujarnya.

Sementara, Wakil pimpinan DPRD Kota Semarang, Agung Budi Santoso mengatakan yang pasti Semarang bukan produsen beras. Sehingga perlu gagasan dalam mengampanyekan ketahanan pangan yang dimulai dari pemerintah.

”Selain itu, ada penetapan daerah lahan pertanian abadi, konservasi alam. Sehingga kebutuhan pangan tidak hanya satu jenis. Selain adanya pengawasan terhadap lahan hijau atau pertanian supaya tidak tergerus dengan perkembangan industri,” pungkasnya. (mg9/ida/ce1)