Nyadran Sendang Wajib Pakai Caping

401
BERSIH-BERSIH: Kalangan seniman, budayawan dan santri kerja bakti membersihkan sendang Taman Budaya Raden Saleh yang sebagian sudah tertutup tanah. Namun sebelum kerja bakti, diadakan pengajian dan makan tumpeng bersama. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
BERSIH-BERSIH: Kalangan seniman, budayawan dan santri kerja bakti membersihkan sendang Taman Budaya Raden Saleh yang sebagian sudah tertutup tanah. Namun sebelum kerja bakti, diadakan pengajian dan makan tumpeng bersama. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
BERSIH-BERSIH: Kalangan seniman, budayawan dan santri kerja bakti membersihkan sendang Taman Budaya Raden Saleh yang sebagian sudah tertutup tanah. Namun sebelum kerja bakti, diadakan pengajian dan makan tumpeng bersama. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Banyak yang tidak menyangka bahwa Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) memiliki sendang di pojok belakang gedung TBRS. Di tempat yang sunyi dan tertutup rimbunnya pohon beringin raksasa itu, konon dahulu terdapat sendang yang kini sudah tertimbun tanah.

Puluhan seniman dari Kota Semarang pun mencoba menghidupkan kembali sendang tersebut dengan menggelar upacara Nyadran Sendang, Minggu (26/10) kemarin. Kegiatan itu diawali dengan bersih-bersih sendang, kemudian dilakukan doa bersama di sendang yang kini rata dengan tanah. Uniknya, dalam proses doa bersama para peserta Nyadran diwajibkan memakai caping.

Panitia acara, sekaligus pemimpin upacara Nyadran, Widyo Leksono Babahe mengatakan bahwa kegiatan tersebut sengaja dilakukan sebagai wujud syukur kepada Tuhan. ”Selain bentuk syukur karena Tuhan telah memberikan sumber air bagi manusia, kami juga ingin mengedukasi generasi muda untuk melestarikan lingkungan dan peduli terhadap sumber air,” katanya.

Dirinya menambahkan, jika banyak masyarakat yang tidak mengetahui adanya sumber air yang ada di TBRS. Selain itu, kegiatan Nyadran kali ini juga memiliki arti penting dalam peringatan Sumpah Pemuda. ”Resik-Resik Sendang yang kami lakukan merupakan bagian dari rasa nasionalisme untuk merawat lingkungannya,” ujarnya.

Kiai Budiharjo, salah satu seniman membenarkan jika di kawasan TBRS terdapat sendang yang dulu dimanfaatkan warga sekitar. ”Dulu memang ada sendang di sini. Sendang hampir sama dengan caping yang melindungi. Filosofinya adalah caping ibarat gunung dan bisa menjadi samudra yang menampung air,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Kegiatan, Ibrahim Bra menambahkan selain Nyadran Sendang juga akan diselenggarakan pertunjukan teater, karya seni dan pembacaan puisi selama 3 hari ke depan. ”Acara ini diselenggarakan dalam rangka hari Sumpah Pemuda, semoga dengan acara ini nasionalisme para pemuda bisa terpupuk,” pungkasnya. (den/ida/ce1)