Bidan Tugas Kemanusiaan

585
Elly Isyiana Sari. (M. HARYANTO/RADAR SEMARANG)
Elly Isyiana Sari. (M. HARYANTO/RADAR SEMARANG)
Elly Isyiana Sari. (M. HARYANTO/RADAR SEMARANG)

ELLY Isyiana Sari mengakui menjalani profesi sebagai bidan tidaklah mudah. Harus disiplin waktu dan selalu ready setiap saat alias 24 jam. Selain itu, harus bekerja dengan penuh ikhlas. Menurutnya, hal itu sudah menjadi tugas dan kewajiban seorang bidan

”Saya sering mendapat telepon dari ibu-ibu pada tengah malam karena panik karena putrinya atau saudaranya mau melahirkan. Yang unik lagi, saya pernah membantu persalinan seorang ibu yang melahirkan anak kesepuluh dengan kondisi berdarah-darah. Alhamdulilah bisa terselamatkan,” cerita Personal Maternity Office RS Hermina Semarang ini kepada Radar Semarang, Senin (27/10).

Dia mengaku menekuni profesi bidan sejak 2006. Perempuan lulusan Poltekkes Semarang tahun 2005 itu menganggap tugas bidan sebagai sosial dan kemanusiaan. ”Saya suka menjalani profesi bidan. Bagi saya pekerjaan itu merupakan tugas sosial dan kemanusiaan yang harus saya kedepankan. Tujuan saya menjadi bidan juga ingin bermanfaat bagi orang lain,” ujar Elly.

Ia mengakui menjadi bidan bukanlah cita-citanya saat masih di bangku sekolah. Saat itu, ia justru mendambakan bisa menjadi seorang guru. ”Awalnya cita-cita saya menjadi guru, tapi orang tua mengajurkan untuk melanjutkan kuliah kebidanan. Ternyata dorongan dan support orang tua yang saya jalani tidak sia-sia. Bahkan dalam profesi ini saya juga tidak mengalami kesulitan,” ucapnya.

Penghobi jalan-jalan ini mengaku pernah merasa panik saat kali pertama menangani persalinan. ”Tapi dengan keyakinan dan rasa percaya diri tinggi, perasaan tersebut lama-lama hilang dengan sendirinya,” katanya. (mg9/aro/ce1)