Keluhkan Kenaikan UMP Tiap Tahun

328

SEMARANG – Kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) yang dilakukan tiap tahun dikeluhkan pengusaha. Kebijakan tersebut dinilai dapat menghambat peningkatan investasi.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Frans Kongi mengatakan, kenaikan per tahun ini dapat mengakibatkan para investor enggan menyuntikkan dana. Mereka lebih memilih berinvestasi ke negara lain, di mana tenaga kerja memiliki produktivitas sama, dengan upah yang lebih murah. “Para investor di usaha-usaha padat karya bisa jadi pindah ke luar negeri. Ke Bangladesh, Vietnam, karena di sana upahnya masih murah,” ujarnya.

UMP, menurut boleh dinaikkan, namun jangan per tahun. Menurutnya, akan lebih baik bila kenaikan per tiga atau empat tahunlah. Sedangkan untuk mensejahterakan para pekerja, ia mengusulkan adanya insentif bulanan. Di mana selain upah, pekerja juga diberi bonus berdasarkan produktivitas. “Semakin mereka produktif, maka produk suatu perusahaan juga akan semakin banyak, dan keuntungan semakin besar. Nah, semakin produktif pekerja, lantas berikan insentif yang tinggi pula. Sama-sama untungkan,” tegasnya.

Sedangkan terkait tuntutan kenaikan upah karena adanya kenaikan harga bahan pokok, listrik, dan lain-lain, Frans menilai hal tersebut menjadi tugas pemerintah untuk dapat mengendalikannya. “Ya, itu tugas pemerintah untuk dapat menekan harga, agar tidak terjadi inflasi. Sehingga dunia usaha juga berjalan lancar,” tandasnya.

Sementara itu, untuk UMP yang sedianya akan ditentukan pada November mendatang, Frans melihat sudah berjalan cukup lancar, meski masih ada beberapa daerah yang masih harus ada perbedaan pendapat. (dna/smu)