Tower Seluler ”Dibungkus” Tandon Air

1454
SEPERTI TANDON AIR: Petugas Satpol PP Kota Semarang saat membongkar tower seluler di lantai III Klinik Husada Jalan Kaligawe, kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
 SEPERTI TANDON AIR: Petugas Satpol PP Kota Semarang saat membongkar tower seluler di lantai III Klinik Husada Jalan Kaligawe, kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

SEPERTI TANDON AIR: Petugas Satpol PP Kota Semarang saat membongkar tower seluler di lantai III Klinik Husada Jalan Kaligawe, kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

MLATIHARJO – Tower BTS atau Base Transceiver Station yang ”dibungkus” layaknya tandon air, Senin (27/10) kemarin, dibongkar paksa oleh aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang. Tower selular yang berdiri di lantai III Klinik Husada Jalan Kaligawe, Kelurahan Mlatiharjo, Semarang Timur itu terpaksa dibongkar lantaran belum mengantongi izin. Sebelumnya, tower setinggi 20 meter itu sudah pernah disegel petugas satpol PP, namun pemilik bangunan kembali membangunnya dengan modus baru ”dibungkus” pelat warna oranye layaknya tandon air.

Kabid Trantibunmas Satpol PP Kota Semarang, Kusnandir, mengatakan, pembongkaran dilakukan karena tower yang didirikan menyalahi Perda No 5 tahun 2009 tentang izin mendirikan bangunan (IMB). Sebelum melakukan pembongkaran, pihaknya juga memberikan peringatan batas akhir pembongkaran, Senin (27/10) kemarin.

”Hari ini (kemarin, Red), tower langsung kita bongkar, karena pemilik tidak mengindahkan batas akhir peringatan. Bahkan beberapa waktu lalu sudah disegel dan dibongkar pemiliknya sendiri, namun bangunan tower itu didirikan lagi dengan modus sebagai tower air. Padahal sebelumnya merupakan tower seluler. Diperkirakan pembongkaran ini paling tidak empat hari sudah selesai,” ungkapnya kepada Radar Semarang.

Dikatakan, selain belum mengantongi izin, tower yang berdiri sejak Mei lalu itu juga ditolak oleh warga setempat dengan alasan membahayakan lingkungan sekitar. Bahkan dari laporan masyarakat setempat menyampaikan kalau pemilik tower juga tidak terlebih dahulu melakukan sosialisasi kepada warga.

”Jadi, selain menyalahi perda, masyarakat sekitar juga menolak karena bangunan tower didirikan di atas lahan yang kondisinya sangat membahayakan. Warga khawatir kalau terjadi sesuatu yang bisa merugikan masyarakat seperti saat hujan dan terjadi angin kencang bisa roboh,” katanya.

Kusnandir menyatakan, di Kota Semarang setidaknya masih ada 20 bangunan tower BTS yang bermasalah. Pihaknya sudah menyampaikan peringatan kepada pemilik bangunan tower supaya segera membongkarnya.

”Selama bangunan itu belum berizin atau masih menyalahi perda akan kita tindak. Berdasarkan Perda Nomor 5 tahun 2009 menyebutkan sanksinya bisa kena denda Rp 50 juta atau kurungan 6 bulan, berlaku bagi semua bangunan yang tidak berizin,” tegasnya.

Kepala Satpol PP Kota Semarang Endro P. Martantono mengakui pembongkaran dilakukan karena bangunan tower menyalahi perda. Sebelumnya, kata dia, pihaknya sudah melayangkan surat peringatan agar tower tersebut dibongkar.

”Sampai batas akhir pembongkaran tidak diindahkan oleh pemilik bangunan, sehingga petugas mengambil langkah tegas sesuai perda. Kami juga akan menindak para pemilik bangunan tower lain yang belum memiliki izin atau menyalahi perda,” pungkasnya. (mg9/aro/ce1)