Usung Batik dan Tari Gambang Semarang

368
M. HARIYANTO, Semarang
M. HARIYANTO, Semarang
M. HARIYANTO, Semarang

Prisilia Rizki Ardianti, mahasiswi Jurusan Administrasi Bisnis Politeknik Negeri Semarang (Polines) bersama 23 timnya belum lama lalu lolos dalam seleksi Muhiba Seni 2014 yang diselenggarakan oleh Pendidikan Tinggi (Dikti) pusat. Atas prestasinya itu, mereka berkesempatan ’jalan-jalan’ ke sejumlah negara di Eropa, pada 10-22 Oktober lalu.

M. HARIYANTO, Semarang

MUHIBA Seni merupakan acara pengenalan budaya Indonesia yang dipamerkan di luar negeri. Lomba Muhiba Seni diikuti ratusan perguruan tinggi di seluruh Indonesia, baik swasta maupun negeri. Namun Dikti hanya meloloskan lima tim, salah satunya tim dari Polines Semarang.

”Alhamdulillah tim dari Polines berhasil lolos dan mewakili Indonesia untuk berangkat ke Eropa pada 10 Oktober lalu, dan kembali ke Semarang 22 Oktober 2014. Tim Polines terdiri atas 12 mahasiswa dan 11 dosen untuk memperkenalkan budaya Indonesia di Belgia, Perancis dan Swiss,” kata mahasiswi semester V ini kepada Radar Semarang, Senin (27/10).

Prisilia mengaku, untuk mencapai keberhasilan dalam lomba tersebut dibutuhkan kerja keras, semangat, serta komitmen tim untuk terus giat berlatih. Latihan menari serta belajar berbahasa asing setiap hari dilakukan menjadi kunci utama yang harus diperjuangkan. Semua mahasiswa yang terlibat berlatih setiap hari tanpa libur, sejak pulang kuliah hingga magrib selama dua bulan.

”Dalam lomba ini, peserta harus memiliki kemampuan berbahasa Inggris dengan minimal TOEFL (Test of English as a Foreign Language) 450. TOEFL saya mencapai 500 lebih. Kalau bahasa Perancis, kami kursus sendiri. Minimal menguasai dua bahasa. Kami juga harus datang ke Jakarta untuk melengkapi proposal yang diajukan ke Dikti. Kami mendemokan berbagai tarian yang akan dipamerkan di luar negeri,” ujar mahasiswi angkatan 2012 yang tinggal di Jalan Brigjend Sudiarto 761 Semarang ini.

Dalam seleksi, lanjut gadis ber-behel ini, tim Polines mengangkat kearifan budaya lokal Semarang, seperti tari Semarang dan batik motif Semarang. Sedikitnya ada 9 tarian yang dibawakan, yakni Tari Piring, Tari Gambang Semarangan, Tari Sahureka-reka menggunakan bambu, Tari Rampak Kendang, Tari Rampak, Tari Geol Denok, Tari Kancet Papatai dari Kalimantan, Tari Saman, dan Tari Sajojo Yospan Wayase dari Papua.

”Kalau saya sendiri lebih ke vokal atau nyinden untuk mengiringi musiknya. Selain itu, saya juga ngikuti Tari Piring. Paling terkesan Tari Rampak Kendang. Tarian khas Jawa Barat ini dimainkan 5 orang sambil menari dan main kendang. Ada juga Tari Saman dari Aceh yang dimainkan tujuh orang pemain,” kata alumnus SMP Negeri 17 Semarang ini.

Dara berusia 20 tahun ini mengakui, kebudayaan Kota Semarang merupakan sesuatu yang unik. Bahkan saat tarian asli Semarang ditampilkan di depan penonton, seperti Tari Geol Denok dan Tari Gambang Semarang, mendapat antusias yang tinggi dari warga luar negeri. Menurutnya, tarian tersebut sangat energik. Tembangnya juga unik dan bagus, sehingga mereka pada senang mengikuti.

”Seperti halnya pada hari kedua di negara Perancis, para mahasiswa melakukan perform menari dan memberikan pelajaran membatik kepada anak kampus HEPL di Kota Liege. Antusias masyarakat maupun mahasiswa sangat tinggi, penonton sangat banyak. Acara pertunjukan seni tari yang kita tampilkan di depan mahasiswa HEPL merupakan acara pertama kali,” paparnya.

Pihaknya berharap, pada 2015 mendatang, tim dari Polines bisa kembali mewakili Indonesia bersama tim daerah lain yang memamerkan atau mengenalkan budaya Indonesia ke negara lain. Selain itu, ia juga mengajak masyarakat untuk tetap melestarikan budaya daerah. ”Jangan sampai budaya kita semakin tergerus oleh budaya asing. Jadi, kita harus melestarikan, dan mengenalkan budaya kita kepada negara lain,” katanya. (*/aro/ce1)