Wacanakan BRT Masuk Kendal

295

KENDAL—Sejak selesai dibangun 2003 silam, Terminal Bahurekso Kendal hingga kini masih belum beroperasi. Bahkan di terminal terbesar di Kendal itu hingga kini tidak ada aktivitas bus keluar masuk maupun penumpang yang naik turun.

Terminal yang terletak di Desa Jenarsari, Kecamatan Gemuh hanya tampak sudut dan halaman depan ditumbuhi ilalang. Ruko pedagang yang berada di dalam kompleks terminal juga banyak yang tutup. “Ya setiap hari memang terminal kondisinya seperti ini, tidak ada bus yang mau masuk. Alasannya tidak ada penumpang, jadi percuma masuk ke terminal,” ujar Suyono, 38, warga sekitar.

Menurutnya, angkutan dan bus justru banyak mangkal di Pasar Weleri ketimbang mangkal di terminal. Akibatnya, kondisi pasar yang berbatasan langsung dengan jalur pantura, mengakibatkan arus kendaraan tersendat. “Apalagi jam-jam sibuk saat berangkat kerja, jam istrirahat dan pulang kerja, pasti selalu macet,” tuturnya.

Padahal menurutnya, jika terminal dioptimalkan selain akan mengurangi kemacetan juga akan menambah pendapatan asli daerah (PAD). Sebab pemerintah bisa memungut retribusi dari bus-bus yang keluar masuk terminal. “Malah ruko-ruko bisa dikelola masyarakat dengan sistem sewa, sehingga bisa mengangkat ekonomi masyarakat. Tapi sepertinya, tidak ada kemauan dari pemerintah untuk mengoptimalkan terminal tersebut,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kendal, Subarso memastikan pengoptimalan Terminal Bahurekso akan segera terealisasi. Yakni dengan adanya Bus Rapid Transit (BRT) yang akan masuk ke Kendal. “Kabupaten Kendal bakal menjadi titik persinggahan BRT dari Semarang. Hal itu bisa menjadi alasan pengoptimalan Terminal Bahurekso. Kalau ada BRT masuk, praktis transportasi yang lain akan masuk ke terminal,” timpal Subarso.

Pembahasan BRT tersebut, papar Subarso, Oktober ini sudah dilakukan dengan Pemprov Jateng. Semula rute BRT hanya Semarang – Ungaran saja, sekarang Bawen-Bahurekso. Bahkan, BRT Bahurekso-Semarang akan melintasi wilayah simpang lima, Kota Semarang. “Saat ini, kami juga telah memperhitungkan aspek-aspek lain,” lanjutnya.

Perihal akan adanya protes dari pengusaha angkutan darat, menurutnya bukanlah masalah. Sebab, sebelum wacana BRT ini digelontorkan, pihaknya sudah melakuan komunikasi dengan para perwakilan pengusaha angkutan darat. “Malah kami mempersilahkan bagi para pengusaha angkutan umum jika ingin bergabung dengan aglomerasi yang berada di tingkat provinsi,” tambahnya.

Menurutnya, Terminal Bahurekso nantinya difokuskan menjadi terminal penumpang, bukan terminal barang. Sebab, kebutuhan masyarakat akan transportasi umum yang memadai sangat dibutuhkan masyarakat.

Subarso mengungkapkan, setiap harinya hampir 10 ribu penduduk Kabupaten Kendal pergi ke arah Semarang untuk bekerja. Jumlah tersebut merupakan peluang Pemkab untuk menambah pemasukan daerah, sekaligus menekan angka kecelakaan.

Sementara Bupati Kendal, Widya Kandi Susanti mengaku sudah diminta pemprov untuk menyiapkan sarana dan prasarana‎ BRT. Menurutnya, keberadaan sarana transportasi terpadu sepeti BRT wajib hukumnya, mengingat Kendal tengah berbenah agar menjadi kota yang nyaman dan memiliki fasilitas murah. (bud/ric)