Rina Simpan Hasil Korupsi di Dua Bank

395

MANYARAN – Mantan Bupati Karanganyar, Rina Iriani Sri Ratnaningsih diduga telah menyimpan sejumlah uang hasil penyimpangan dana subsidi Perumahan Griya Lawu Asri (GLA) Karanganyar 2007-2008 pada sejumlah rekening di dua bank berbeda. Selain itu, ia juga turut menyimpan sejumlah uangnya di rekening atas nama kedua anaknya.

Hal itu terungkap dalam sidang lanjutan atas perkara Rina terkait dugaan korupsi bantuan subsidi Perumahan GLA Karanganyar 2007-2008 dan tindak pidana pencucian uang yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Selasa (28/10). Hadir sebagai saksi, dua pejabat bank yakni Kepala Bank Mandiri Cabang Pembantu Palur Karanganyar, Teguh Wiyono dan petugas layanan konsumen Bank BCA Cabang Utama Solo, Wahyu Nur Cahyawati.

Dalam keterangannya, Teguh membeberkan bahwa terdakwa Rina diketahui memiliki tujuh rekening pada salah satu bank milik pemerintah tersebut. Lima di antaranya merupakan deposito di mana salah satunya berisi uang 10 ribu dolar AS. ”Tidak hanya menyimpan mata uang rupiah, terdakwa juga menyimpan dalam bentuk dolar,” ujarnya di hadapan mejelis hakim yang diketuai Dwiaroso Budi Santiarto.

Teguh menambahkan, dua anak terdakwa yakni Hendra Prakasa dan Wijaya Kusuma Ari Asmara juga diketahui memiliki rekening pada bank yang sama. Tidak hanya pada satu rekening, tetapi atas beberapa rekening. ”Atas permintaan kejaksaan, semuanya sudah diblokir,” imbuhnya.

Sementara itu, Wahyu Nur Cahyawati dalam kesaksiannya mengungkapkan hal yang tak jauh beda. Terdakwa Rina diketahui memiliki tiga rekening Bank BCA Cabang Utama Solo. Tidak hanya menyimpan sejumlah uang dalam mata uang rupiah, tetapi juga dalam bentuk dolar. ”Rekeningnya sudah diblokir atas permintaan kejaksaan,” ujarnya.

Dalam persidangan juga terungkap bahwa anak terdakwa, Wijaya Kusuma Ari Asmara diketahui memiliki tiga rumah yang berdiri di Perumahan Lor In Residence Surakarta. ”Rumah tersebut sebagian atas nama yang bersangkutan, namun sebagian lainnya atas nama Bambang Raharjo Lukman. Sosok misterius yang belum diketahui identitasnya,” ujar Jaksa Penuntut Umum Slamet Widodo.

Menanggapi keterangan saksi, terdakwa Rina Iriani tidak dapat membantahnya. Ia memilih untuk tidak memberi tanggapan atau sanggahan. Majelis hakim menunda persidangan dan melanjutkan kembali berturut-turut pada Senin dan Selasa (3-4/11) masih dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi. ”Memerintahkan jaksa untuk menghadirkan saksi dan terdakwa datang tanpa ada panggilan dalam persidangan selanjutnya,” ucap majelis hakim diikuti ketukan palu tanda berakhirnya sidang.

Untuk diketahui, dalam kasus ini terdakwa Rina Iriani dijerat dengan pasal komulatif. Yaitu pasal 2 ayat (1) Jo pasal 18 Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Subsider pasal 3, lebih subsider pasal 5 ayat (2) lebih subsider pasal 11 UU yang sama. Terdakwa juga dijerat pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Jo Pasal 65 ayat (1) KUHPidana. (fai/ida/ce1)