Banjir Masih Mengancam Semarang

459
RAWAN MELUAP: Tanggul Sungai Beringin di Kelurahan Wonosari, Ngaliyan yang masih memprihatinkan dan rawan jebol saat musim penghujan. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
 RAWAN MELUAP: Tanggul Sungai Beringin di Kelurahan Wonosari, Ngaliyan yang masih memprihatinkan dan rawan jebol saat musim penghujan. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)

RAWAN MELUAP: Tanggul Sungai Beringin di Kelurahan Wonosari, Ngaliyan yang masih memprihatinkan dan rawan jebol saat musim penghujan. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)

KALIBANTENG KULON – Musim penghujan segera datang. Bencana banjir pun kembali mengancam. Khususnya, di wilayah di sepanjang aliran sungai di Kota Semarang yang selama ini kerap meluap. Di antaranya, Kali Tenggang, Sungai Banjir Kanal Timur (BKT), Sungai Beringin, Kali Babon dan Kali Plumbon. Ironisnya, normalisasi sejumlah sungai di Kota Atlas yang selama ini rawan menimbulkan banjir tersebut hingga kini belum tertangani dengan baik.

Seperti pengerjaan drainase Kali Tenggang di Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, masih mengalami banyak kendala. Bahkan proyek tersebut jalan di tempat alias macet. Termasuk pembangunan jembatan Kali Tenggang berukuran panjang 20 meter dengan lebar 4 meter.

Proyek tersebut dianggarkan melalui APBD murni Kota Semarang 2014 senilai Rp 1,4 miliar. Sesuai surat perintah mulai kerja (SPMK), pengerjaan proyek jembatan 12 Mei-23 Oktober 2014 atau dengan masa kontrak kerja 120 hari. Namun hingga kini, pengerjaan fisik bangunan baru berjalan 60 persen.

”Waktu sudah habis, tidak mungkin diperpanjang lagi. Nantinya (kontraktor) kita denda 1 per mil (1×1.000 per nilai kontraknya),” ungkap Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Kali Tenggang Sutrisno kepada Radar Semarang, Rabu (29/10).

Diakui, pembangunan jembatan baru bisa dikerjakan pada Agustus lalu. Padahal sesuai SPMK, pengerjaan harusnya dimulai pada Mei 2014. Keterlambatan pembangunan itu akibat adanya kendala dalam pembebasan lahan milik warga.

”Harusnya (dimulai) bulan Mei. Tapi, setelah SPMK itu keluar, kita masih melakukan sosialisasi kepada warga. Ada blok barat dan blok timur di tengah-tengah jembatan. Sosialisasi sampai 2 bulan baru bisa mengerjakan pembangunan itu, yakni pada bulan Agustus lalu. Sebab, sebelum dibangun, warga minta kompensasi penggatian pos ronda dan gapura,” terangnya.

Diperkirakan, kata dia, pembangunan jembatan akan selesai pada akhir November mendatang. Karena itu, pihaknya mengimbau kepada pelaksana proyek segera menyelesaikan pekerjaan tersebut.

”Pihak pelaksana proyek minta tambahan waktu 50 hari lagi. Kemungkinan besar kami akan menolaknya. Kami juga selalu memberikan teguran kepada pelaksana proyek,” tegasnya.

Menurut Sutrisno, jika dikerjakan maksimal, pihaknya memperkirakan pembangunan jembatan Kali Tenggang bisa selesai dalam jangka waktu 15 hari ke depan. ”Paling 15 hari sudah selesai. Sekarang gelagar jembatan sudah ada, tinggal pemasangan,” katanya.

Selain jembatan, pelaksanaan normalisasi Kali Tenggang di wilayah Tambakrejo juga masih mengalami kendala, yakni masih adanya bangunan rumah yang belum terbebaskan.

”Di Tambakrejo masih ada satu bangunan rumah milik Pak Syahrir yang belum bisa terbebaskan sampai sekarang. Sebab, kami belum bisa mengakomodasi permintaan harga ganti rugi. Pemilik bangunan mintanya terlalu tinggi, yakni senilai Rp 1 juta per meter persegi. Sedangkan harga yang kami tawarkan Rp 580 ribu per meter persegi sesuai hitungan tim appraisal,” papar Kepala UPTD Dinas Pengelolaan Sumber Daya Alam Energi Sumber Daya Mineral (PSDA-ESDM) Kota Semarang wilayah utara ini.

Ditambahkan, nantinya akan dilakukan normalisasi pembuatan talut mulai Kali Tenggang di pinggir jalan raya hingga Arteri Yos Sudarso (arteri pelabuhan). Pekerjaannya akan dilakukan pada 2015 yang dibiayai oleh APBD murni Kota Semarang 2015.

”Normalisasi mulai jalan raya sampai jembatan Arteri depan Pasar Kubro. Rencana anggarannya sebesar Rp 10 milliar melalui APBD murni 2015. Ukuran talut nanti lebarnya 20 meter dengan tinggi 3 meter,” jelasnya.

Sutrisno juga mengakui, pembangunan talut masih belum bisa dikerjakan, lantaran terkendala yang sama, yakni masih adanya dua bidang lahan yang belum terbebaskan.

”Normalisasi Kali Tenggang merupakan satu sistem yang melewati wilayah Tambakrejo, Kaligawe, dan Terboyo Kulon. Namun masih ada kendala lahan yang belum terbebaskan,” katanya.

Di Tambakrejo, lanjut dia, selain lahan milik Syahrir, juga lahan milik H. Kamdi yang belum terbebaskan. Sedangkan di Kaligawe, ada 4 bangunan, dan Terboyo Kulon ada 5 bangunan.

”Permintaan ganti rugi warga tidak wajar, kami belum bisa mengakomodasi. Mungkin menunggu konsinyasi,” ujarnya.

Sekretaris Dinas PSDA dan ESDM Kota Semarang, Rosid Hudoyo, mengakui, drainase dan normalisasi Kali Tenggang masih terkendala adanya pembebasan lahan. Pihaknya mengimbau pekerjaan jembatan Daendels tersebut bisa cepat selesai.

”Kalau terkait pembebasan lahan memang masih mengalami kendala. Langkah-langkahnya kami akan berkoordinasi dengan pemkot supaya bisa selesai. Pekerjaan saat ini sudah mencapai 60 persen. Nantinya kalau tidak selesai tepat waktu ya (pelaksana proyek) akan kita denda,” tegasnya.

Siaga Banjir
Sementara itu, menjelang bergantinya musim kemarau ke musim penghujan membuat warga Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu waswas. Pasalnya, tanggul penahan air Sungai Beringin yang ada di wilayah Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan masih telihat menganga meski sedang diperbaiki. Pengamatan Radar Semarang, Rabu (29/10), tanggul yang jebol terletak di sebelah jalan Pantura Semarang-Kendal. Tanggul itu terletak di tikungan sungai yang setiap musim penghujan rawan jebol.

Menurut informasi warga setempat, banjir sering terjadi lantaran debit air Sungai Beringin meluap, hingga masuk ke permukiman warga di Kelurahan Mangunharjo,Mangkang Wetan, Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu serta Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan dengan ketinggian 50 sentimeter hingga 1,5 meter. Banjir terparah biasanya terjadi di wilayah Kelurahan Mangunharjo dan Wonosari tepatnya di RW 02, 06, dan 07.

Salah satu warga yang rumahnya berdekatan dengan tanggul Sungai Beringin, Kuwat, 55, mengatakan, perbaikan tanggul yang dilakukan belum membuatnya lega. Sebab, pengerjaannya baru mulai dilakukan. ”Baru mulai dibangun sekitar beberapa hari lalu, warga Jalan Kuda merasa waswas, sebab kalau terjadi hujan, di sini pasti banjir,” kata warga Jalan Kuda RW 02 Kelurahan Wonosari ini.

Seingat Kuwat, banjir terparah terjadi sekitar 3 tahun lalu yang menyebabkan korban jiwa. Hingga saat ini, tanggul penahan yang ada di sekitar Jalan Kuda masih terlihat menganga, dan mengancam ratusan rumah yang ada di Jalan Kuda, Wonosari.
”Tanggul ini harapan terakhir kami. Soalnya, di perkampungan kami kalau banjir pasti tingginya lebih dari 1 meter. Dulu sewaktu tanggul rusak, secara swadaya, warga menambalnya dengan karung berisi pasir. Sampai sekarang belum ada perbaikan lagi,” ujarnya.
Ketua RT 01 RW 01 Kelurahan Mangkang Wetan, Fauzi, juga mengeluhkan hal yang sama. Lambannya perbaikan tanggul penguat Sungai Beringin, dikhawatirkan akan menyebabkan banjir yang menenggelamkan kampungnya setiap kali terjadi hujan deras.
”Apalagi perkampungan RW 1 sini lebih rendah dari jalan. Tanggul di Sungai Beringin adalah harapan kami satu-satunya agar terhindar dari banjir,” ungkapnya.

Fauzi berharap Pemerintah Kota Semarang segera memperbaiki tanggul yang jebol. Selain itu, dirinya berharap adanya normalisasi Sungai Beringin agar banjir yang sering melanda kawasan Mangkang dan sekitarnya tidak terulang.

”Saya minta ada pengerukan sungai, agar saat hujan deras, air sungai tidak meluap dan menyebabkan banjir di perkampungan kami,” harapnya.

Terpisah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah memperkirakan pada awal November 2014 Kota Semarang telah memasuki musim penghujan setelah melewati masa pancaroba. Musim penghujan tersebut akan berakhir hingga April 2014.

”Sebenarnya di Jawa Tengah sendiri sudah mulai (musim penghujan) sejak akhir Oktober di beberapa daerah pegunungan seperti Purbalingga, Wonosobo, dan lain-lain. Sementara untuk daerah Jateng bagian utara diperkirakan akan mulai pertengahan November mendatang,” ungkap Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Jawa Tengah, Reni Kraningtyas kepada Radar Semarang.

Reni membeberkan, di antara tanda-tanda musim penghujan adalah curah hujan yang lebih besar. Yakni, di atas 150 mm dengan rincian satu dasarian (10 hari) di atas 50 mm diikuti dua dasarian berturut-turut. ”Hal ini berbeda dengan masa pancaroba seperti saat ini yang curah hujan hanya terjadi pada sore dan malam hari dengan waktu yang singkat,” terangnya.

Disinggung adanya potensi cuaca ekstrem yang akan terjadi, Reni tidak membantahnya. Menurutnya, potensi itu ada, dan akan terjadi pada Januari 2015. Di mana curah hujan mencapai 500 mm dengan rincian lebih dari 20 mm per jamnya. ”Ketika itu, segala dampak bisa terjadi jika tidak dilakukan antisipasi,” imbuhnya.

Dibanding musim penghujan tahun lalu, Reni mengaku tahun ini sedikit berbeda. Awal musim mengalami kemunduran 10 hari dikarenakan adanya fenomena Elnino. Yakni, fenomena alam yang ditandai dengan memanasnya suhu permukaan air laut. ”Jika normalnya awal musim (penghujan) adalah akhir Oktober kini mundur menjadi awal November,” bebernya.

Atas hal itu, Reni mengajak kepada masyarakat untuk mempersiapkan segala sesuatu menyambut datangnya musim penghujan. Yakni, dengan cara pembenahan selokan dan drainase sedini mungkin, dan melakukan pengerukan sedimentasi sungai yang mulai menebal. ”Meskipun tidak menjamin 100 persen, tetapi paling tidak dapat mengurangi,” katanya. (mg9/den/fai/aro/ce1)