Libatkan 300 Penyanyi, Gandeng Polda Jateng

556
SATU TEKAD: Ali Khan (ketiga dari kanan) bersama jajaran kepolisian bertekad memberantas pornografi yang dilakukan para biduan seronok. (M. HARIYANTO/RADAR SEMARANG)
 SATU TEKAD: Ali Khan (ketiga dari kanan) bersama jajaran kepolisian bertekad memberantas pornografi yang dilakukan para biduan seronok. (M. HARIYANTO/RADAR SEMARANG)

SATU TEKAD: Ali Khan (ketiga dari kanan) bersama jajaran kepolisian bertekad memberantas pornografi yang dilakukan para biduan seronok. (M. HARIYANTO/RADAR SEMARANG)

ABDUL MUGHIS

GOYANGAN lekuk tubuh biduan dangdut memang menjadi daya tarik di sebuah panggung pertunjukan musik melayu. Tak jarang sang biduan beraksi liar dengan naik drum hingga terlihat –maaf— celana dalamnya. Pamer paha dengan rok mininya ataupun memperlihatkan belahan dada yang bikin mata penonton bengong, hingga goyangan seksi yang memancing mata tak berkedip.

Padahal pertunjukan dangdut dinikmati bebas segala umur. Mulai dari anak-anak, pelajar, hingga dewasa bisa saja menjadi penikmat musik yang dikenal merakyat ini. Namun tanpa disadari, masyarakat mendapat pendidikan buruk melalui fenomena biduan seronok tersebut. Mulai kampung-kampung, hingga di media internet Youtube. Aksi biduan itu seperti pertunjukan bodoh yang terus dibiarkan dan kian diminati masyarakat proletar.

Atas fenomena itu, Ali Khan bersama sedikitnya 300 penyanyi yang tergabung dalam Forum Komunitas Musik Melayu (FKMM) Jateng dan DIJ, menyatakan perang melawan praktik pornografi yang terjadi di atas panggung musik dangdut. Fenomena biduan seronok, menurut Ali, merendahkan keindahan panggung dangdut di Indonesia, menurunkan harkat dan nilai-nilai musik dangdut.

”Saya sangat prihatin atas fenomena biduan yang berpakaian seksi, pakai rok mini, dan memamerkan lekuk tubuhnya di atas panggung. Aksi para biduan seronok itu cenderung masuk dalam ranah pornografi,” kata Ali Khan kepada Radar Semarang, Kamis (30/10).

Menurutnya, bergoyang seksi itu boleh-boleh saja, dan tidak harus memperlihatkan lekuk tubuh dan menggunakan pakaian mini. Hal itu jelas bertentangan dengan budaya ketimuran. Ali menyebut, bergoyang bagi penyanyi dangdut itu wajib. Bahkan, seorang penyanyi seharusnya kreatif atau mampu mengeksplorasi goyangan apa saja.

”Itu memang seni dalam aksi panggung dangdut. Namun jangan lupa ada etika yang harus dijadikan acuan. Lihat saja penyanyi senior seperti Camelia Malik, Elvy Sukaesih, Rita Sugiarto dan lain-lain. Mereka juga bergoyang seksi, tapi tidak berpakaian seronok. Di situ ada keindahan musik dangdut,” tutur pedangdut yang juga PNS di Pemkot Semarang ini.

Goyangan erotis yang ditunjukkan oleh biduan berpakaian seronok, menurutnya, sangat merusak keindahan musik dangdut. Bahkan memancing hal-hal negatif terkait seksualitas bagi penonton.

”Konsentrasi penonton pasti beralih ke aksi tubuhnya itu. Tidak lagi memperhatikan apa isi dan pesan dalam lirik lagunya, maupun keindahan aransemen musik dangdut. Terburuk, aksi biduan seronok akan memancing terjadinya pelecehan seksual. Itu salah satu sebab musik dangdut tidak bisa maju,” imbuhnya.

Dalam program memberantas pornografi yang dilakukan para biduan seronok tersebut, Forum Komunitas Musik Melayu, bekerja sama dengan Polda Jateng, dan Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI) Jateng. ”Kami telah membuat MoU (Memorandum of Understanding) dengan Polda Jateng, dan LCKI. Pak Kapolda Jateng Brigjen Pol Noer Ali pun menyambut sangat baik,” tandasnya.

Nota kesepahaman dengan Polda Jateng tersebut diwakili oleh Kasubdit Binpolmas AKBP Ridho Wahyudi dan Ketua LKCI Jateng Adi Siswanto Wisnu. Pemberantasan praktik pornografi di panggung dangdut tersebut, tim kepolisian akan terlibat melakukan pengawasan.
”Pelaku atau biduan yang masih bandel akan diberi sanksi, mulai dari teguran, hingga pencabutan dari nyanyi. Memang, ini bukan pekerjaan mudah, tapi akan terus kami lakukan,” kata Ali yang juga pendiri Forum Komunitas Musik Melayu di Jateng dan DIJ itu.

Selain memberantas pornografi, FKMM juga bertekad berkampanye untuk menanggulangi maraknya kriminalitas. Baik tawuran, narkoba hingga masih banyaknya remaja terlibat aksi kriminalitas.

”Bagaimanapun, musik dangdut sangat dekat dengan masyarakat, sehingga kami merasa mempunyai tanggung jawab membentuk masyarakat yang kondusif. Dangdut tak jarang sering diidentikkan mabuk-mabukan miras, tawuran hingga sempat dikenal istilah ’senggol bacok’. Nah, mari kita semua tunjukkan bahwa melalui musik dangdut masyarakat akan damai. Kami akan berkampanye hal itu pada setiap kali konser di atas panggung,” katanya.

Selain bersosialisasi dari panggung ke panggung, pihaknya juga tidak menutup kemungkinan bekerja sama dengan pihak sekolah-sekolah. ”FKMM sendiri mempunyai anggota kurang lebih 600 anggota. Sekitar 200 sampai 300 orang di antaranya penyanyi dangdut. Sudah tersebar di masing-masing kabupaten dan kota, seperti di Blora, Pati, Kudus, Solo, dan lain-lain,” katanya.

Selain itu, Ali Khan menilai, belakangan ini ada lagu yang diciptakan oleh orang Jawa Timur, yang menurutnya mengandung efek negatif bagi penonton. Lagu tersebut berjudul Goyang Oplosan.

”Saya mengakui, musiknya enak didengarkan dan masyarakat senang. Namun lirik dalam lagu tersebut mempunyai efek yang cukup berbahaya. Masyarakat senang mendengarkan lagu tersebut, namun Goyang Oplosan secara tidak langsung mengajarkan dan mengajak masyarakat untuk meminum miras,” ungkapnya.

Ali menjelaskan, masyarakat awan tak jarang terbawa dalam suasana asyik seperti yang tertuang dalam lagu tersebut. Sehingga dikhawatirkan hal itu menjadi sebuah doktrin untuk kemudian ”oplosan” itu diikuti dan ditiru oleh masyarakat luas.

”Ini ada efek yang menurut saya negatif. Namun saya tidak melarang masyarakat mendengarkan ataupun menyanyikan lagu tersebut. Saya hanya berpesan agar masyarakat jangan terjerumus oleh sebuah lagu. Pencipta musik juga harus berhati-hati jangan menjerumuskan masyarakat,” tandas pelantun lagu Kirana dan Laila yang telah menciptakan 10 lagu andalan ini. (*/aro/ce1)