Dahlan Iskan Puji Bank

382
PERTAMA DI INDONESIA: Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan membopong seekor kambing saat meresmikan Bank Kambing Santrendelik di Kalialang Lama, Sukorejo, Semarang kemarin. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)
 PERTAMA DI INDONESIA: Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan membopong seekor kambing saat meresmikan Bank Kambing Santrendelik di Kalialang Lama, Sukorejo, Semarang kemarin. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)

PERTAMA DI INDONESIA: Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan membopong seekor kambing saat meresmikan Bank Kambing Santrendelik di Kalialang Lama, Sukorejo, Semarang kemarin. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)

SUKOREJO – Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan kemarin (2/11) meresmikan bank kambing yang digagas Santrendelik Kampung Tobat Semarang. Pondok pesantren kontemporer tersebut berlokasi di tengah hutan jati, di Kampung Kalialang Lama, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Tak heran, jika ponpes yang baru 6 bulan berdiri itu dinamakan Santrendelik atau pondok pesantren yang berlokasi tersembunyi (ndelik, Red)
Saat menyampaikan sambutan, Dahlan Iskan sempat bertanya kepada Ketua Yayasan Santrendelik Ikhwan Saifullah.

”Saya ingin bertanya kepada Pak Ketua, pohon jati di sini akan ditebang atau tidak? Kira-kira kalau tidak ditebang, pohon jati akan dibiarkan sampai umur berapa? Puluhan tahun, ratusan tahun?” tanya mantan CEO Jawa Pos tersebut.

Ketua Yayasan Santrendelik, Ikhwan Saifullah, pun menjawab. Pihaknya tidak akan melakukan penebangan pohon jati di sekitar ponpes tersebut. Pihaknya juga tidak tahu berapa lama usia pohon jati tersebut akan ditebang. ”Tidak akan ditebang. Selama pohon jati tersebut tidak mengganggu bangunan dan tidak membahayakan lingkungan sekitar,” katanya.

Dahlan pun melanjutkan, jika tidak ada penebangan, ia mengusulkan agar di sekitar pohon jati ditanami tumbuhan Porang atau Amorphophallus Oncophyllus Prain.

”Tanaman Porang itu sejenis tanaman suwek, yang hasilnya dalam setahun bisa 50 kali lipat dari hasil tanaman pohon jarak atau empon-empon yang hasilnya tidak sumbut atau kurang menarik,” ujarnya.

Dijelaskan, tanaman perdu ini kalau musim kemarau memang tidak kelihatan. Namun jika musim penghujan akan tumbuh subur. Tanaman Porang ini akan menghasilkan umbi yang menjadi bahan pembuat tepung.

”Seperti di Randublatung Blora, tanaman Porang sudah ditanam berhektare-hektare. Dibanding jahe atau kunir, hasilnya bisa 50 kali lipat,” tandasnya.

Dahlan mengapresiasi pemilik lahan Santrendelik, Rahardja, yang secara sosial mewakafkan tanahnya untuk pendirian ponpes yang dikelola oleh kalangan muda tersebut. Ia juga memuji pendirian bank kambing di pondok pesantren tersebut. Dahlan akan memantau hingga lima ke depan, perkembangan Yayasan Santrendelik seperti apa.

”Kita lihat lima tahun ke depan, mereka (pengurus Yayasan Santrendelik) sudah bertengkar atau belum? Kalau belum, ditakdirkan Santrendelik akan menjadi pesantren yang istimewa. Pepatah Tiongkok mengatakan, gunung itu tidak tinggi atau pendek, yang penting ada rohnya. Sungai juga tidak penting dalamnya, kalau tidak ada nadanya juga tidak seru,” paparnya.

Menurutnya, Santrendelik mirip perusahaan Apple. Ribuan orang memiliki saham. Sehingga dalam Santrendelik, seorang kiai hanya mengelola saja. Sehingga semua orang bisa memiliki pesantren ini.

”Tapi, persyaratannya (pengurus yayasan) harus bisa dipercaya. Begitu tidak bisa dipercaya, pesantren ini jatuh. Menjadi orang bisa dipercaya ini sulitnya bukan main. Sehingga masing-masing sudah siap untuk diaudit, yang nantinya bisa dipercaya oleh masyarakat,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Dahlan Iskan sempat menuliskan pesan di prasasti saat meresmikan Gerakan Sociopreneurship Program Sedekah Produktif Bank Kambing Santrendelik.

”Saya bersyukur bisa berkunjung ke Santrendelik, karena saya bisa belajar dengan anak muda generasi baru muslim yang cerdas kreatif dan membumi. Dengan bank kambing, saya yakin sociopreneurship bisa berkembang.” Begitu pesan Dahlan Iskan yang dituliskan di atas prasasti.

Ketua Yayasan Santrendelik, Ikhwan Saifullah, mengatakan Bank Kambing Santrendelik sejauh ini sudah memiliki 60 ekor kambing. Nantinya dalam setiap empat bulan sekali, kambing tersebut dijual dan dibelikan kambing lagi. Sedangkan keuntungannya digunakan untuk membangun pesantren. Nantinya juga akan dilakukan audit untuk pemantauan.

”60 ekor kambing dalam satu kandang akan didistribusikan ke setiap desa. Kami menargetkan dalam setahun bisa memiliki 5 juta ekor kambing. Sehingga dengan adanya bank kambing, pesantren bisa dihidupkan dan dikembangkan. Kami akan kampanyekan bank kambing ini ke seluruh Jawa Tengah,” ungkapnya.

Wakil Ketua Yayasan Santrendelik Kampung Tobat, Ustad Riyadh Ahmad Al Hafid, menjelaskan, pendirian Santrendelik bermula saat dirinya didatangi dua pemuda pada Ramadan tahun lalu. Kedatangannya untuk sharing dan sekadar berkumpul-kumpul. Dari pertemuan itu, akhirnya tercetus untuk mendirikan ponpes yang pas untuk kalangan muda yang ingin bertobat.
”Dinamakan Santrendelik yang secara harfiah berarti pesantren yang tersembunyi. Namun bagi kami delik itu merupakan singkatan dari ngandel marang sang kholik (percaya sama sang pencipta, Red),” jelasnya sambil menambahkan kini Santrendelik memiliki 6.000 anggota yang tersebar di Jateng, seperti Ambarawa, Purworejo, Wonosobo dan Kota Semarang sendiri. (mg9/aro/ce1)