Tantang Polines Ciptakan Mesin Pelet

375
INOVASI TEKNOLOGI: Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan saat menjadi narasumber seminar nasional Inovasi Teknologi Rekayasa Industri Bidang Energi dan Mekanik di kampus Polines, kemarin (2/11). (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)
INOVASI TEKNOLOGI: Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan saat menjadi narasumber seminar nasional Inovasi Teknologi Rekayasa Industri Bidang Energi dan Mekanik di kampus Polines, kemarin (2/11). (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)
INOVASI TEKNOLOGI: Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan saat menjadi narasumber seminar nasional Inovasi Teknologi Rekayasa Industri Bidang Energi dan Mekanik di kampus Polines, kemarin (2/11). (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)

TEMBALANG – Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan menantang mahasiswa Politeknik Negeri Semarang (Polines) menciptakan mesin pelet kayu (wood pellet) Kaliandra. Pelet ini nantinya akan digunakan sebagai sumber energi terbarukan rendah emisi.

”Kalau dalam dua minggu bisa jadi, saya beli mesinnya,” tantang Dahlan saat mengisi seminar nasional Inovasi Teknologi Rekayasa Industri Bidang Energi dan Mekanik di kampus Polines, kemarin (2/11).

Mantan Dirut PLN ini mengatakan, kayu Kaliandra sangat potensial dijadikan sebagai sumber energi terbarukan. Satu pohon yang telah berusia satu tahun bisa menghasilkan sebanyak empat ribu kalori. ”Umur satu tahun sudah bisa ditebang, kemudian tidak perlu tanam lagi, karena akan trubus sendiri. Dan dalam enam bulan sudah bisa ditebang lagi,” ujarnya.

Selain itu, Kaliandra yang telah dijadikan pelet ini juga tidak mencemari lingkungan. Beberapa hotel besar juga sudah banyak yang menggunakan, karena rasa masakannya lebih baik dan hasil bakarannya tidak berabu. ”Kalau saat ini belum kita gunakan, tetap bisa kita ekspor, karena Jepang, Tiongkok dan beberapa negara lain juga sudah mulai menggunakan energi ini,” paparnya.

Sayangnya, kata Dahlan, hingga saat ini untuk mengolah kayu Kaliandra menjadi pelet masih menggunakan mesin impor. Yakni, dari Italia atau Tiongkok. ”Ini kan penghinaan, kita punya banyak Politeknik, tapi kok mesin pelet saja harus impor,” candanya.

Sedangkan Tiongkok sendiri, lanjutnya, baru mulai menciptakan mesin tersebut sejak 2006 lalu. Itu pun banyak gagalnya, namun terus dikembangkan hingga akhirnya menjadi cukup baik untuk dioperasikan pada 2010.

Dalam kesempatan yang sama, teknokrat Indonesia Ricky Elson mengatakan, saat ini Indonesia tengah menghadapi penjajahan tahap dua. Bukan dengan senjata secara blak-blakan, tapi dengan teknologi. Salah satunya teknologi motor. ”Teknologi motor yang dimaksud di sini bukan hanya motor yang di jalan raya, walaupun itu juga iya. Tapi hampir semua peralatan eletronik yang kita gunakan, bermotor. Laptop, mesin cuci, dan lain-lain,” ujar pencipta mobil listrik ”Putra Petir” ini.

Karena itu, menurutnya, anak muda khususnya yang mendalami teknologi, sebaiknya tak hanya belajar, belajar dan belajar secara teori, tapi segera mengaplikasikan, merealisasikan imajinasi-imajinasi yang mereka miliki. ”Ide di bidang teknologi terus berkembang. Kalau kelamaan, ribet, khawatir ini-itu, keburu dibikin oleh negara lain,” tandasnya. (dna/aro/ce1)