Cabai-Cabaian Picu Inflasi

352
PEDAS HARGANYA: Penjual cabai di Pasar Johar, kemarin. Harga komoditas ini naik cukup tinggi dari September hingga Oktober lalu, sehingga memicu inflasi. (Adityo Dwi R/Radar Semarang)
PEDAS HARGANYA: Penjual cabai di Pasar Johar, kemarin. Harga komoditas ini naik cukup tinggi dari September hingga Oktober lalu, sehingga memicu inflasi. (Adityo Dwi R/Radar Semarang)
PEDAS HARGANYA: Penjual cabai di Pasar Johar, kemarin. Harga komoditas ini naik cukup tinggi dari September hingga Oktober lalu, sehingga memicu inflasi. (Adityo Dwi R/Radar Semarang)

SEMARANG – Jawa Tengah mengalami inflasi sebesar 0,52 persen pada bulan Oktober. Cabai menjadi salah satu komoditas yang menyumbang angka inflasi cukup besar.

“Inflasinya Oktober ini cukup tinggi. Bahkan jauh lebih tinggi dari September lalu yang mengalami inflasi sebesar 0,22 persen,” ujar Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jateng Jam Jam Zamchari, kemarin (3/11).

Cabai menjadi salah satu komoditas yang memberikan sumbangan terbesar pada inflasi bulan Oktober. Dari 0,52 persen inflasi, cabai menyumbang sebesar 1,6 persen. Hal tersebut terlihat dari kenaikan harga komoditas ini di pasaran, yang terbilang cukup tinggi. Cabai merah yang pada bulan September per kilogramnya rata-rata seharga Rp14.500, pada bulan Oktober naik menjadi Rp28.900. Demikian halnya dengan cabai rawit yang pada September per kilogramnya rata-rata sehargaRp12.300, pada bulan Oktober naik menjadi Rp22.000. “Pada bulan September harga cabai memang naik dari bulan Agustus. Tapi harganya tidak sepedas rasanya. Beda halnya dengan bulan Oktober yang naik tajam,” ujarnya.

Kenaikan harga ini menurutnya terjadi karena kemarau panjang. Sehingga produksi di sejumlah sentra cabai menurun, dan berimbas pada pasokan di pasaran.

Selain cabai, beberapa komoditas lain yang memicu inflasi diantaranya tarif listrik, bahan bakar rumah tangga, biaya pendidikan masuk akademi dan perguruan tinggi serta beras. “Seperti kita ketahui bahan bakar rumah tangga berupa gas 12 kg harganya sudah naik, kemudian juga musim masuk perguruan tinggi dan tak ketinggalan tarif listrik. Nah, ini juga berimbas besar pada inflasi,” tambahnya.

Sedangkan beberapa komoditas yang memberikan sumbangan terjadinya deflasi yaitu daging ayam ras, telur ayam ras, kangkung, udang basah dan pir. Jam Jam menambahkan, di Jawa Tengah sendiri inflasi tertinggi diduduki oleh kota Tegasl sebesar 0,95 persen, diikuitu Semarang sebsar 0,55 persen, Surakarta sebsar 0,46 persen, kemudian Kudus sebesar 0,43 persen, Purwokerto sebesar 0,41 persen dan terendah Cilacap sebsar 0,19 persen. (dna/smu)