Harga Emas Turun, Penjualan Tetap

333
OMSET STAGNAN: Harga emas perhiasan saat ini turun cukup banyak, dari Rp470 ribu menjadi Rp400 ribu per gram. (DOK/RASE)
 OMSET STAGNAN: Harga emas perhiasan saat ini turun cukup banyak, dari Rp470 ribu menjadi Rp400 ribu per gram. (DOK/RASE)

OMSET STAGNAN: Harga emas perhiasan saat ini turun cukup banyak, dari Rp470 ribu menjadi Rp400 ribu per gram. (DOK/RASE)

SEMARANG – Harga emas saat ini turun cukup siginifikan. Emas lokal 24 karat misalnya, harganya turun sekitar 10 persen, dari yang semula Rp510ribu per gram menjadi Rp 460 ribu per gramnya.

Demikian halnya dengan harga emas dalam bentuk perhiasan. Dari yang sebelumnya mencapai sekitar Rp470ribu per gramnya, saat ini hanya menjadi Rp400 ribu. Harga tersebut sudah termasuk upah pembuatan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (Apepi) Jawa Tengah Bambang Yuwono mengatakan, penurunan harga emas perhiasan karena mengikuti harga emas murni 24 karat. “Kalau emas 24 karat turun, semuanya ikut turun. Saat ini turunnya juga lumayan banyak,” ujarnya, kemarin (3/11).

Namun demikian, penurunan harga emas ini tak diikuti oleh peningkatan pembelian. Dibanding bulan-bulan sebelumnya, omset penjualan belum menunjukkan grafik yang meningkat. Omset diperkirakan tidak akan menanjak, hingga beberapa bulan ke depan.

Menurutnya, tinggi rendahnya angka penjualan emas tidak tergantung dari tinggi rendahnya harga. Tapi lebih kepada apakah masyarakat tengah cukup sejahtera dan memiliki uang atau tidak. “Beda sama komoditas lain, harga turun maka pembelian tinggi. Kalau emas, walaupun harganya murah, tapi masyarakat lagi nggak punya duit, ya penjualan tetap tidak akan meningkat. Tapi meskipun harga tinggi, tapi mereka lagi punya uang, ya tetap beli,” jelasnya.

Tren peningkatan penjualan, lanjutnya, biasa terjadi menjelang Natal atau Lebaran. Pada momen-momen tersebut, masyarakat terbilang memiliki cukup dana untuk berinvestasi emas. Ia memprediksi omset tersebut tak beranjak hingga jelang Natal dan Lebaran, bahkan mungkin justru bisa berkurang apabila harga bahan bakar minyak (BBM) naik. “Berkaca dari sebelum-sebelumnya, kalau BBM naik omset turun, nanti baru stabil lagi setelah 3-4 bulan,” tandasnya. (dna/smu)