Pernah 4 Tahun Bertugas di Tengah Hutan

548
PEGANG AMANAH: dr Hadi Wibowo MMR di ruang kerjanya kemarin. (M. HARIYANTO/RADAR SEMARANG)
 PEGANG AMANAH: dr Hadi Wibowo MMR di ruang kerjanya kemarin. (M. HARIYANTO/RADAR SEMARANG)

PEGANG AMANAH: dr Hadi Wibowo MMR di ruang kerjanya kemarin. (M. HARIYANTO/RADAR SEMARANG)

M. HARIYANTO, Pekunden

BAGI dr Hadi Wibowo, Kabupaten Mukomoko, Provinsi Bengkulu memiliki kenangan tersendiri bagi hidupnya. Sebab, di wilayah itulah, dia kali pertama mengabdikan diri sebagai dokter setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK-Undip) Semarang pada 1976.

”Saya masuk kuliah FK Undip tahun 1967. Begitu lulus langsung bertugas menjadi Kepala Puskesmas di sebuah desa di Mukomuko. Saat itu, wilayah tersebut masih terisolasi. Penduduknya bisa dihitung jari. Apalagi pada 1976, wilayah Mukomuko merupakan hutan belantara, bahkan sampai sekarang hutan itu juga masih lebat,” cerita Hadi kepada Radar Semarang, Senin (3/11).

Pria yang kini berusia 65 tahun ini mengakui, menjadi seorang dokter rupanya bukan impiannya saat masih kecil. Ia justru bercita-cita menjadi seorang insinyur bangunan. ”Tapi, akhirnya saya menempuh studi kedokteran atas dorongan orang tua. Padahal sebenarnya cita-cita saya menjadi seorang insinyur bangunan,” katanya sambil tersenyum.

Saat menjadi kepala puskesmas itu, ia sudah sangat akrab dengan hutan. Maklum, hampir setiap hari, dirinya harus berkeliling dari dusun satu ke dusun lainnya, yang rata-rata melewati hutan belantara. Hal itu dilakoninya selama hampir 4 tahun.

”Kebetulan saat itu saya satu-satunya dokter di Mukomuko. Mau tidak mau saya harus keliling dari dusun satu ke dusun lainnya. Bahkan dari Dusun Mukomuko menuju Dusun Ipuh harus menempuh jarak kurang lebih 26 kilometer. Itu masih melanjutkan lagi ke Dusun Lupuk Pinang. Saking jauhnya, saya perlu waktu satu minggu untuk bisa kembali ke Mukomuko,” kenangnya.

Dia menceritakan, kala itu hampir semua warga Mukomuko masih sangat primitif. Persalinan bayi masih menggunakan jasa dukun bayi. Tak heran jika angka kematian bayi dan ibu melahirkan di daerah tersebut cukup tinggi. Termasuk kematian warga akibat wabah penyakit. ”Penyakit yang diidap warga terbanyak saat itu adalah tetanus,” katanya.

Saat bertugas di wilayah terpencil itu, dr Hadi mengaku pernah mendapat perlakuan kasar dari warga setempat. ”Waktu itu sekitar tahun 1978 di Dusun Ipuh, saya diancam oleh seorang warga yang sakit jiwa lantaran istrinya gagal melahirkan sampai tiga kali. Memang warga di daerah itu seringnya melakukan persalinan melalui dukun bayi. Beruntung orang tersebut bisa diamankan oleh warga setempat,” ceritanya.

Pada 1980, saat istrinya, Aniek Setiani, mengandung, dr Hadi kembali ke tanah Jawa dan menjabat sebagai Kepala Puskesamas di Mangkang, Semarang hingga 1993. Selanjutnya dia menjabat Kepala RSUD Ketileng, sebelum akhirnya menjadi Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang pada 1995.

”Saya 10 tahun menjabat Kepala DKK sampai 2005, lalu menjadi Direktur RS Hermina Pandanaran. Saya tidak menyangka, padahal cita-cita saya menjadi seorang insinyur bangunan. Jadi, saya hanya menjalankan amanah orang tua saja, dan ternyata tidak ada hambatan. Menjalankan amanah orang tua itu lebih baik dan enak, saya mengalir saja,” kata bapak dua anak; Hanna Widayani SE Akt, MM dan Setyohadi SKom, MKom, yang tinggal di Jalan HOS Cokroaminoto, Semarang ini. (*/aro/ce1)